Kasus hantavirus kembali mencuat setelah dilaporkan adanya kematian pada penumpang kapal pesiar MV Hondius. Pada 2 Mei 2026, World Health Organization menerima laporan klaster penyakit pernapasan berat di kapal berbendera Belanda yang membawa 147 orang (88 penumpang dan 59 kru).
Kronologinya cukup mengkhawatirkan. Gejala pertama muncul pada 6 April 2026, ketika seorang penumpang pria mengalami demam, sakit kepala, dan diare ringan. Kondisinya memburuk dengan cepat, dan pada 11 April ia mengalami gangguan pernapasan berat hingga meninggal dunia di kapal.
Kasus kedua, seorang perempuan yang merupakan kontak dekat, mengalami gejala saluran cerna saat singgah di Saint Helena pada 24 April, lalu kondisinya memburuk dalam perjalanan ke Johannesburg dan meninggal pada 26 April. Pada 4 Mei, infeksi hantavirus pada kasus ini dikonfirmasi melalui pemeriksaan PCR.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus lain terus bermunculan. Pada 24 April, seorang penumpang pria mengalami demam dan sesak napas, lalu harus dievakuasi ke Afrika Selatan pada 27 April dan dirawat di ICU. Hasil pemeriksaan pada 2 Mei mengonfirmasi hantavirus.
Pada 2 Mei juga, satu kasus perempuan lain meninggal akibat pneumonia setelah gejala muncul pada 28 April. Hingga 4 Mei 2026, tercatat total 7 kasus (2 terkonfirmasi dan 5 suspek), dengan 3 kematian, 1 pasien kritis, dan beberapa kasus ringan.
Kapal tersebut sebelumnya berlayar sejak 1 April dari Ushuaia, Argentina, dan melewati berbagai wilayah terpencil seperti Antartika, South Georgia, Tristan da Cunha, hingga akhirnya berlabuh di lepas pantai Cabo Verde.
Paparan terhadap lingkungan selama perjalanan diduga menjadi faktor risiko, meskipun investigasi masih berlangsung. WHO menilai risiko global saat ini masih rendah, tetapi tetap melakukan pemantauan yang ketat.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus adalah penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia yang disebabkan oleh virus dari genus Orthohantavirus. Virus ini termasuk dalam keluarga Hantaviridae dan diketahui memiliki lebih dari 20 spesies berbeda di seluruh dunia.
Penyakit ini tergolong tidak mewabah dan jarang ditemui, tetapi tentu dapat menyebabkan kondisi yang sangat serius bahkan fatal. Secara klinis, hantavirus dapat menimbulkan dua sindrom utama, yaitu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau sering juga disebut Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS).
HFRS lebih banyak ditemukan di wilayah Asia dan Eropa, dengan masa inkubasi sekitar 1-2 minggu dan angka kematian 5-15%. Sementara itu, HPS ditemukan di Benua Amerika, dengan masa inkubasi sekitar 2-4 minggu dan tingkat kematian yang jauh lebih tinggi, bahkan mencapai 50-60%.
Penyebab dan Reservoir Hantavirus
Sumber utama hantavirus adalah hewan pengerat, seperti tikus sebagai reservoir atau host virus. Di Indonesia, beberapa jenis tikus yang telah terkonfirmasi membawa virus ini antara lain:
- Rattus norvegicus (tikus got)
- Rattus tanezumi (tikus rumah)
- Rattus tiomanicus (tikus belukar)
- Rattus exulans (tikus ladang)
- Rattus argentiventer (tikus sawah)
- Mus musculus (mencit rumah)
Yang perlu diwaspadai, tikus-tikus ini hidup sangat dekat dengan manusia, mulai dari rumah, sawah, ladang, hingga hutan. Artinya, peluang paparan virus sebenarnya cukup luas, meskipun kasus pada manusia masih jarang dilaporkan di Indonesia.
Cara Penularan Hantavirus
Hantavirus ini bisa ditularkan terutama lewat paparan atau kontak langsung dengan hewan pengerat, seperti dari urine, feses, dan air liur. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui beberapa cara, misalnya saat seseorang:
- Menghirup debu yang terkontaminasi kotoran tikus
- Menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh wajah
- Terkena paparan melalui luka terbuka atau membran mukosa (mata, hidung, mulut)
- Aktivitas sehari-hari seperti membersihkan gudang, rumah kosong, atau area yang sering dilalui tikus ternyata menjadi faktor risiko tinggi.
Pada kasus di Amerika Selatan, penularan terbatas antar manusia bisa terjadi, terutama di dalam sebuah kapal pesiar yang tertutup dalam jangka waktu yang lama.
Gejala Klinis dan Perkembangan Penyakit
Gejala hantavirus seringkali diawali dengan keluhan umum seperti:
- Demam
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Pusing
- Mual, muntah, dan diare
Pada HFRS, gejala bisa berlanjut menjadi gangguan ginjal seperti penurunan intensitas urine disertai perdarahan dan gangguan organ lain.
Sementara pada HPS, penyakit dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan berat, pneumonia, hingga acute respiratory distress syndrome (ARDS) dan syok, seperti yang terjadi di MV Hondius.
Adapun strain atau jenis yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah Seoul virus (SEOV) yang umumnya menyebabkan gejala sedang, seperti demam, nyeri, mata merah, dan ruam, tetapi tetap berpotensi berkembang menjadi kondisi serius.
Cara Mencegah dan Memutus Penularan
Pencegahan hantavirus yang paling utama adalah menghindari kontak dengan hewan pengerat dan lingkungan di sekitarnya. Cara ini bisa dimulai dari langkah sederhana di rumah.
Rumah yang bersih dan rapi akan mengurangi kemungkinan tikus bersarang. Sampah khususnya, harus sering dibersihkan dan dibuang di tempat pembuangan umum agar tidak menarik perhatian tikus dan kawanannya.
Saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi, sebaiknya menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, dan alas kaki. Bisa pula gunakan disinfektan untuk membersihkan urin dan kotoran tikus yang terlanjur mengotori rumah.
Selain itu, jika berada pada perjalanan jauh atau aktivitas yang berisiko seperti di hutan, selalu waspada dan hindari kontak dengan hewan pengerat di sekitar.
Jika menemukan suspek Hantavirus, segera lapor ke petugas kesehatan terdekat, isolasi mandiri, dan selalu gunakan masker ketika berada di luar ruangan.
Hantavirus mungkin belum banyak dikenal masyarakat Indonesia, tetapi potensinya sebagai penyakit serius tidak boleh diabaikan.
Jaga selalu kebersihan diri dan lingkungan, gunakan masker dan update terus perkembangan Hantavirus maupun penyakit menular lainnya. Semoga sehat selalu!
(des/des)
