Sejarah Hari Buruh, dari Tragedi Haymarket hingga Dilarang Orde Baru

Sejarah Hari Buruh, dari Tragedi Haymarket hingga Dilarang Orde Baru

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Kamis, 30 Apr 2026 07:59 WIB
Sejumlah buruh menggelar aksi unjuk rasa di depan Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menjelang peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang diperingati setiap 1 Mei.
Ilustrasi Hari Buruh di Indonesia. Foto: Gilang Faturahman/detikfoto
Balikpapan -

Setiap tanggal 1 Mei, jutaan pekerja di berbagai belahan dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau yang dikenal sebagai May Day. Di Indonesia, peringatan ini bahkan ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Hari Buruh sebenarnya punya sejarah panjang. Istilah May Day sudah ada jauh sebelum sekarang identik dengan buruh. Sejak ribuan tahun lalu, masyarakat di belahan bumi utara merayakan pergantian musim melalui festival musim semi tiap tanggal 1 Mei. Maka dari itu, May Day telah dirayakan sebelum adanya Hari Buruh.

Dalam tradisi tersebut, mereka menari mengelilingi tiang maypole yang dihiasi pita warna-warni sebagai simbol kehidupan baru, kesuburan, dan harapan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun makna tersebut berubah drastis ketika memasuki abad ke-19, tepatnya saat revolusi industri di Eropa dan Amerika Serikat. Di masa ini, industrialisasi memang membawa kemajuan, tetapi juga menyebabkan eksploitasi tenaga kerja. Buruh dipaksa bekerja hingga 12-16 jam sehari dalam kondisi yang berbahaya, tanpa jaminan keselamatan maupun kesejahteraan yang layak.

Kondisi ini memicu perlawanan. Gerakan buruh mulai bermunculan, salah satunya ditandai dengan pemogokan pekerja Cordwainers, toko sepatu di Amerika Serikat pada tahun 1806. Aksi ini menjadi awal dari perjuangan panjang untuk menuntut jam kerja yang lebih manusiawi.

Seiring waktu, tokoh-tokoh seperti Peter McGuire dan Matthew Maguire muncul sebagai penggerak utama yang menyuarakan pentingnya sistem kerja delapan jam sehari.

Perjuangan ini semakin menguat ketika pada tahun 1882 digelar parade Hari Buruh pertama di New York. Aksi tersebut menjadi inspirasi bagi gerakan serupa di berbagai wilayah, bahkan negara bagian Oregon menjadi yang pertama menetapkan Hari Buruh sebagai hari libur pada tahun 1887.

Tragedi Haymarket dan Penetapan Hari Buruh

Dilansir dari UCLA Institure for Research on Labor and Employment, puncak dari gerakan buruh terjadi pada 1 Mei 1886, ketika ratusan ribu pekerja, diperkirakan mencapai 400.000 orang melakukan aksi mogok kerja secara serentak di seluruh Amerika Serikat. Tuntutan utama mereka adalah penerapan jam kerja delapan jam sehari.

Namun, aksi ini berujung tragedi dalam peristiwa Haymarket di Chicago. Demonstrasi yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi bentrokan setelah terjadi ledakan bom di tengah kerumunan.

Polisi kemudian melakukan tindakan represif yang menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka. Empat aktivis buruh bahkan dihukum mati meskipun bukti keterlibatan mereka diperdebatkan.

Tragedi Haymarket justru memicu solidaritas dari masyarakat Internasional dan memperkuat tekad pekerja untuk terus memperjuangkan hak-haknya. Sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan tersebut, pada tahun 1889 Kongres Buruh Internasional di Paris menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional.

Sejarah Hari Buruh di Indonesia

Di Indonesia, peringatan May Day pertama kali dilakukan pada 1 Mei 1918 oleh Serikat Buruh Kung Tang Hwee di masa kolonial. Aksi ini dilatarbelakangi oleh ketidakadilan yang dialami buruh, termasuk soal kebijakan ekonomi kolonial seperti harga sewa tanah yang merugikan pekerja, seperti yang dijelaskan di laman Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, semangat peringatan Hari Buruh kembali berkobar. Pada 1 Mei 1946, Kabinet Sjahrir mengusulkan agar Hari Buruh dijadikan peringatan resmi. Usulan ini kemudian diperkuat dengan lahirnya UU No. 12 Tahun 1948 yang menetapkan bahwa buruh tidak diwajibkan bekerja pada tanggal 1 Mei.

Nah, situasi berubah drastis setelah pergantian kekuasaan pada tahun 1967. Pada masa Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, segala bentuk gerakan buruh yang dianggap berpotensi mengganggu stabilitas politik dilarang.

May Day bahkan dianggap sebagai kegiatan ilegal. Siapa pun yang memperingatinya bisa dikenai sanksi, termasuk penjara. Akibatnya, selama puluhan tahun, suara buruh cenderung dibungkam di Indonesia

Kondisi ini baru berubah setelah reformasi 1998. Kebebasan berserikat dan berpendapat kembali dibuka, sehingga peringatan Hari Buruh mulai dihidupkan kembali oleh berbagai organisasi pekerja.

Puncaknya terjadi pada tahun 2013, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Kebijakan ini mulai berlaku pada 1 Mei 2014 dan menandai kembalinya May Day sebagai peringatan resmi di Indonesia setelah sekian lama hilang.

Setiap tanggal 1 Mei, dunia tidak hanya memperingati Hari Buruh sebagai hari libur, tetapi juga mengenang pengorbanan para pekerja yang telah membuka jalan bagi generasi berikutnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Prabowo Sapa Pramono di May Day: Bowonya Sama, Partainya Lain Gapapa"
[Gambas:Video 20detik] (bai/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads