Pria di Tarakan Nekat Gorok Leher Sendiri, Diduga Alami Skizofrenia

Pria di Tarakan Nekat Gorok Leher Sendiri, Diduga Alami Skizofrenia

Oktavian Balang - detikKalimantan
Rabu, 15 Apr 2026 12:00 WIB
Kasat Reskrim Polres Tarakan AKP Reginald Yuniawan Sujono.
Kasat Reskrim Polres Tarakan AKP Reginald Yuniawan Sujono menunjukkan barang bukti korban diduga bunuh diri. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Tarakan -

Informasi berikut ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapapun melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Seorang pria berinisial IR (29) ditemukan tewas di sebuah ruko di Jalan Gajah Mada, RT 3 Karangrejo, Kecamatan Tarakan Barat, Kota Tarakan. Polisi menduga korban tewas murni karena bunuh diri dengan cara menggorok lehernya sendiri menggunakan pisau daging. Korban diduga mengalami depresi.

"Dari hasil pemeriksaan visum yang didapat dari dokter forensik, tidak dijumpai tanda-tanda kekerasan maupun tanda-tanda perlawanan dari korban. Luka cuma di bagian leher saja," ujar Kasat Reskrim Polres Tarakan, AKP Reginald Yuniawan Sujono, dalam konferensi pers, Rabu (15/4/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jasad korban ditemukan pada Senin (13/4) sekitar pukul 18.00 Wita. Korban pertama kali ditemukan oleh saksi yang hendak mengambil ikat pinggang di lantai dua ruko tempat orang tua korban biasa berjualan.

"Saat ditemukan, leher korban dalam keadaan tergorok parah," bebernya.

Menurut Reginald, sayatan dilakukan dari arah kiri ke kanan. Berdasarkan hasil visum, terdapat beberapa luka terbuka di leher sisi kiri, dengan luka terdalam memiliki panjang 20 cm, lebar 8 cm, dan kedalaman mencapai 6 cm.

"Polisi mengamankan sejumlah barang bukti dari TKP, di antaranya pisau daging berlumuran darah, tali rafia, bekas bungkus rokok, hingga ponsel milik korban," rincinya.

Reginald mengaku awalnya polisi sempat kesulitan menemukan barang bukti senjata tajam di sekitar lokasi kejadian sehingga memunculkan spekulasi. Namun, teka-teki tersebut terjawab saat petugas melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

"Ternyata setelah kita mau angkat pindahkan mayat, baru kelihatan golok (pisau daging) ini berlumur darah tertindih di betisnya di sebelah kiri. Tersembunyi," ungkap Reginald.

Polisi juga memastikan tidak ada jejak orang lain di lokasi kejadian. Tidak ditemukan bekas kaki maupun sidik jari orang lain di sekitar darah korban.

"Rekaman CCTV di sekitar ruko juga tidak mengarah ke TKP dan tidak menyimpan rekaman," jelasnya.

Polisi memeriksa 7 orang saksi, termasuk keluarga, tetangga, dan rekan. Dari hasil pemeriksaan, terungkap bahwa korban telah lama mengidap disabilitas mental. Dokter forensik menerangkan bahwa kondisi korban mengarah pada skizofrenia atau paranoid yang memicu halusinasi. Polisi juga menemukan obat-obatan rutin dan rekam medis terkait gangguan kejiwaannya di rumah korban di kawasan Karangrejo.

"Keterangan dari keluarganya, korban memang sudah lama (depresi), kurang lebih dua tahun. Kalau dia kambuh, kadang mengamuk, melukai diri sendiri, bahkan pernah bakar rumah," jelas Reginald.

Keluarga juga menyebut korban kerap menyembunyikan benda tajam di sekitar rumahnya. Atas kejadian ini, pihak keluarga telah menerima kematian korban dan menolak untuk dilakukan autopsi.

"Jenazah IR langsung dimakamkan. Kepolisian juga mengimbau masyarakat Tarakan agar tidak mudah terprovokasi hoaks terkait penemuan mayat ini dan tetap menjaga keamanan masyarakat (Kamtibmas)," pungkasnya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Di Balik Jatuhnya ASN Nias dari Lantai 12 Apartemen"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads