Kontroversi bermula dari unggahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu Paskah, yang berisi peringatan kepada Iran terkait Selat Hormuz.
"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan... Buka Selat sialan itu, dasar bajingan gila, atau kau akan tinggal di Neraka - LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah," tulis Trump.
Menanggapi unggahan tersebut, banyak kritik yang mengatakan kesehatan mental Trump mungkin perlu diperiksa. Tetapi Trump menunjukkan sikap tak ambil pusing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak peduli dengan para kritikus," jawabnya yang dikutip detikHealth dari Wonderwell.
Suara Pakar Medis
Banyak profesional medis yang turut menyuarakan kekhawatirannya. Dokter kesehatan masyarakat di Amerika, Dr Vin Gupta menilai ada tanda-tanda yang patut diwaspadai.
"Tidak menentu. Tidak dapat menyelesaikan kalimat, sering bingung, alur pikir yang tidak logis, hingga kesulitan menemukan kata-kata. Presiden menunjukkan semua tanda-tanda demensia," jelas Dr Gupta.
Psikolog John Gartner juga menyoroti tes kognitif yang disebut berulang dilakukan Trump. "Jika Anda memberikannya tiga kali, itu berarti Anda sedang memantau demensia," ucapnya.
Dikutip dari Mayo Clinic, demensia menggambarkan sekelompok gejala yang mempengaruhi ingatan, pemikiran, dan kemampuan sosial. Salah satu gejala awalnya adalah kehilangan ingatan. Selain itu, gejala lain dari demensia bervariasi tergantung pada penyebabnya.
Baca juga: Trump Yakin Bisa Ratakan Iran dalam 4 Jam |
Gejala Umum Demensia:
- Perubahan kognitif.
- Kehilangan ingatan, yang biasanya diperhatikan oleh orang lain.
- Masalah dalam berkomunikasi atau menemukan kata-kata.
- Kesulitan dengan kemampuan visual dan spasial, seperti tersesat saat mengemudi.
- Masalah dengan penalaran atau pemecahan masalah.
- Kesulitan melakukan tugas-tugas kompleks.
- Kesulitan dalam perencanaan dan pengorganisasian.
- Koordinasi dan kontrol gerakan yang buruk.
- Kebingungan dan disorientasi.
Gejala Demensia yang Menyebabkan Perubahan Psikologis:
- Perubahan kepribadian.
- Depresi.
- Kecemasan.
- Kegelisahan.
- Perilaku yang tidak sesuai dengan situasi.
- Kecurigaan, yang dikenal sebagai paranoia.
- Melihat hal-hal yang tidak ada, yang dikenal sebagai halusinasi.
Bahkan, kekhawatiran serupa juga diungkapkan keponakan Trump, Mary Trump. Ia melihat ekspresi kebingungan yang sama.
"Saya melihat bahwa ia tampaknya tidak selalu berorientasi pada waktu dan tempat. Ingatan jangka pendeknya tampaknya memburuk," beber Mary.
Gedung Putih Beri Bantahan
Gedung Putih membantah keras berbagai klaim tersebut. Mereka mengatakan banyak orang yang mengarang teori konspirasi yang tidak masuk akal.
"Kaum liberal yang gila mengarang teori konspirasi yang tidak masuk akal ketika Presiden Trump tidak berbicara kepada pers selama 12 jam. Jangan takut! Presiden Trump benar-benar tidak pernah berhenti bekerja," tegasnya.
Baca selengkapnya di sini.
Simak Video "Video Menhan Sebut BoP Kini Cenderung Terabaikan gegara Perang AS-Iran"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/des)
