Baghdad, Pusat Peradaban Islam yang Hilang Akibat Perang

Baghdad, Pusat Peradaban Islam yang Hilang Akibat Perang

Kristina - detikKalimantan
Rabu, 25 Mar 2026 07:00 WIB
Kota Baghdad Kuno
Baghdad kuno. Foto: dok. Muslim Heritage
Balikpapan -

Baghdad kini dikenal sebagai ibu kota Irak. Wujud kota ini sudah sangat berbeda dibandingkan masa kejayaan Islam dahulu.

Sebagian besar peninggalan Baghdad kuno telah hilang, sementara kota ini terus mengalami perubahan dan modernisasi selama berabad-abad. Situasi mulai berubah saat pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan menyerbu Baghdad pada 1258.

Mulanya, Islam mencapai kejayaan di era Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad sekitar abad ke-8 hingga ke-13 Masehi. Pada masa itu, Baghdad telah menjadi pusat ilmu pengetahuan yang melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar sebelum akhirnya runtuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah mencatat Islamic Golden Age melahirkan peradaban tinggi yang megah. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, sebuah akademi ilmiah bernama Baitul Hikmah didirikan. Buku-buku dan manuskrip dari berbagai peradaban tersimpan dan dikelola dengan baik di sana.

Selama berabad-abad, Baitul Hikmah menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu. Ribuan naskah tentang kedokteran, astronomi, matematika, sastra, hingga filsafat berhasil diterjemahkan dalam bahasa Arab.

Dikutip detikHikmah dari buku Sejarah Pendidikan Islam karya Prof Abuddin Nata, pusat kekuasaan Islam di Baghdad mengalami kerusakan yang sangat besar akibat serangan bangsa Mongol. Kekuatan politik Islam melemah secara drastis, sementara wilayah kekuasaannya terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang saling berkonflik satu sama lain.

Bangsa Mongol menghancurkan berbagai manuskrip berharga yang tersimpan di Baitul Hikmah dengan cara dibuang dan dibakar, lalu dihanyutkan ke Sungai Tigris. Konon, banyaknya tinta dari buku-buku tersebut membuat warna air sungai berubah menjadi gelap kehitaman.

Kehancuran Baitul Hikmah juga diikuti oleh pembantaian terhadap para ulama, ilmuwan, dan cendekiawan Muslim, sebagaimana dijelaskan dalam buku Sejarah Pendidikan Islam karya Prof Isop Syafei.

Peristiwa ini menyebabkan terhambatnya proses pewarisan ilmu pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Banyak pelajar kehilangan guru, sementara lembaga pendidikan seperti madrasah tidak lagi dapat berfungsi optimal sebagai pusat pengembangan keilmuan.

Penaklukan Mongol menjadi penanda berakhirnya kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah yang tidak mampu membendung serangan tersebut. Khalifah terakhir, Al-Mu'tashim Billah, turut gugur dalam peristiwa itu.

Banyak warisan budaya dan peradaban Islam yang sebelumnya maju ikut musnah. Kondisi ini semakin memburuk akibat serangan Timur Lenk yang juga menghancurkan berbagai pusat kekuasaan Islam lainnya.

Walaupun Baghdad mengalami kehancuran besar pada Abad Pertengahan, masih terdapat kekuatan lain yang melanjutkan peradaban Islam, seperti Kekhalifahan Turki Utsmani di Turki, Dinasti Safawi di Persia, serta Kekhalifahan Mughal di India.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads