Hilal di Samarinda Belum Terlihat, Posisi 2,83 Derajat

Hilal di Samarinda Belum Terlihat, Posisi 2,83 Derajat

Riani Rahayu - detikKalimantan
Kamis, 19 Mar 2026 19:29 WIB
Rukyatul hilal di Kantor Kementerian Agama Kota Samarinda.
Rukyatul hilal di Kantor Kementerian Agama Kota Samarinda. Foto: (Riani Rahayu/detikKalimantan)
Samarinda -

Posisi hilal di wilayah Samarinda belum memenuhi syarat penentuan 1 Syawal. Saat ini, hilal tercatat berada pada ketinggian 2,83 derajat saat pemantauan rukyatul hilal.

Kepala Kementerian Agama Kota Samarinda, Nasrun menyampaikan bahwa data posisi hilal tersebut diperoleh dari laporan yang disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Berdasarkan data dari BMKG, tinggi hilal untuk posisi Kota Samarinda berada di 2,83 derajat dengan elongasi 5,20 derajat," ungkapnya saat diwawancarai media usai kegiatan, Kamis (19/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kriteria imkanur rukyat, jelasnya Nasrun yang disepakati oleh negara anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, menetapkan tinggi hilal minimal 3 derajat agar dapat terlihat.

Dengan posisi 2,83 derajat tersebut, hilal di Samarinda dinilai belum memenuhi syarat untuk dapat dirukyat atau terlihat secara astronomis.

"Artinya apa? dari sini bahwa posisi 2,83 itu tidak memenuhi syarat untuk bisa dilihat bulan itu," tuturnya.

Secara umum kemungkinan hilal terlihat hanya berada di wilayah barat Indonesia, salah satunya di Sabang yang memiliki ketinggian hilal sekitar 3,13 derajat.

Akan tetapi dari sisi elongasi masih belum memenuhi ketentuan karena syaratnya 6,4 derajat, sementara data yang ada sekitar 6,1 derajat.

Hasil pemantauan dari daerah, termasuk Samarinda, selanjutnya dilaporkan kepada pemerintah pusat sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat penentuan awal Syawal.

"Kita kembalikan kepada Menteri Agama sebagai pengambil kebijakan untuk menentukan keputusan akhir," katanya.

Ia berharap keputusan yang nantinya diumumkan pemerintah dapat diikuti oleh seluruh masyarakat. Namun demikian, ia juga mengimbau agar masyarakat tetap saling menghormati apabila terdapat perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri.

"Apabila ada warga yang merayakan lebih awal berdasarkan prinsip wujudul hilal, kami memberikan ruang. Yang penting kita tetap saling menghargai," pungkasnya.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads