Sederet menu Makan Bergizi Gratis (MBG) viral belakangan ini, mulai dari lele mentah marinasi di Jawa Timur dan menu kelapa utuh di Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Belum lagi keluhan tentang menu MBG selama bulan Ramadan. Rentetan kejadian tersebut menjadi sorotan pakar teknologi pangan dan memunculkan pertanyaan tentang standar gizi MBG.
Mengutip detikEdu, pakar teknologi pangan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Ir Sri Raharjo mengatakan nominal paket MBG per porsi perku dikaji ulang. Diketahui saat ini kisaran harga menu MBG per porsi sekitar Rp 8.000 hingga Rp 10.000.
Harga per porsi itu berlaku mulai tingkat SD hingga SMA. Padalah menurut Prof Sri, angka tersebut seharusnya tidak disamaratakan di semua tingkat pendidikan, karena kebutuhan gizi anak-anak berbeda-beda tergantung usia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebutuhan energi siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas tidaklah sama sehingga perencanaan menu harus mempertimbangkan perbedaan tersebut," jelas Prof Sri dalam keterangannya di laman UGM, Senin (16/3/2026).
Menurut Prof Sri, seharusnya SPPG memastikan bahwa paket MBG memenuhi standar kebutuhan energi anak. Siswa SD rata-rata membutuhkan 450 kalori, siswa SMP sekitar 550 kalori, dan siswa SMA sekitar 650-700 kalori.
"Kebutuhan energi tersebut harus dipenuhi melalui komposisi nutrisi yang seimbang, yang terdiri atas karbohidrat, protein, dan lemak dalam proporsi yang tepat," jelasnya.
Prof Sri juga menyoroti kemungkinan perbedaan kualitas makanan di berbagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Keamanan pangan sepenuhnya bergantung pada bagaimana SPPG dapat menjaga kualitas menu makanan bagi penerima manfaat.
"Jika pengelolannya belum terlatih menangani produksi dalam jumlah besar, risiko terhadap keamanan pangan dan nilai gizinya bisa lebih tinggi," lanjutnya.
Ia juga menyayangkan penyederhanaan menu selama Ramadan karena penerima manfaat harus menunggu hingga jam berbuka puasa. Padahal setelah berpuasa, anak-anak justru membutuhkan lebih banyak asupan gizi untuk mengganti energi yang terpakai selama puasa. Namun, oleh SPPG, menunya diganti menjadi menu kering dengan nilai gizi yang dipertanyakan.
Prof Sri mengusulkan adanya evaluasi terhadap program MBG, khususnya pada menu, agar sesuai dengan tujuan awal MBG untuk mencukupi gizi anak-anak di Indonesia. Bukan sekadar memberikan makanan yang mengenyangkan.
"Pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap pelaksanaan program MBG agar tujuan utama program, yakni meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, dapat tercapai secara optimal," ujarnya.
Baca selengkapnya di sini.
(des/des)
