BMKG Prediksi Banjir Rob Rendam Tarakan Saat Lebaran, Warga Pesisir Siaga

BMKG Prediksi Banjir Rob Rendam Tarakan Saat Lebaran, Warga Pesisir Siaga

Oktavian Balang - detikKalimantan
Kamis, 12 Mar 2026 18:00 WIB
Kawasan pesisir Tarakan terancam banjir rob saat Lebaran.
Kawasan pesisir Tarakan terancam banjir rob saat Lebaran. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Tarakan -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi banjir pesisir (rob) yang mengancam wilayah pesisir Kalimantan Utara, khususnya Tarakan. Fenomena ini diprediksi terjadi pada 19-24 Maret 2026, bertepatan dengan momen libur perayaan Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri.

Peringatan dari akun Instagram resmi @infobmkg menyebutkan, potensi rob ini dipicu oleh fenomena Fase Bulan Baru pada 19 Maret 2026 dan Perigee (jarak terdekat bulan ke bumi) pada 22 Maret 2026. Kondisi ini berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum secara signifikan.

Menyikapi prediksi tersebut, Lurah Selumit Pantai, Andi Arfan, membenarkan bahwa sejumlah titik di wilayahnya memang menjadi langganan banjir rob tahunan. Area yang paling rentan berada di kawasan Belakang BRI dan pesisir Beringin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang terkena itu kan di RT 7, RT 16 yang lokasinya masih rendah. Di kawasan Beringin juga ada RT 9, RT 11, dan RT 13 yang memang terkoneksi dan rawan terkena banjir rob," ujar Andi Arfan kepada detikKalimantan, Kamis (12/3/2026).

Meski rob diprediksi datang bersamaan dengan momen Lebaran, Andi menyebut aktivitas ibadah seperti Salat Idul Fitri kemungkinan besar tidak akan terganggu signifikan. Menurutnya, karakteristik pasang surut di Selumit Pantai biasanya mencapai puncaknya pada malam hari dan surut dengan cepat.

"Banjir rob di Kelurahan Selumit Pantai ini tidak berlangsung lama, saat puncaknya paling lama itu ya satu jam. Air pasang besar itu biasanya di malam hari, untuk pagi hari itu jarang," jelasnya.

Sebagai langkah mitigasi, pihak kelurahan telah menginstruksikan seluruh Ketua RT agar menyebarkan imbauan kewaspadaan. Andi secara khusus meminta para orang tua untuk mengawasi anak-anaknya saat debit air laut mulai naik.

"Kami sampaikan imbauan agar warga menghindari banjir rob. Nanti minta tolong warganya dijaga, anak-anaknya dipantau, karena biasanya anak-anak ini malah berenang. Nah, itu yang ditakutkan," tegas Andi.

Sementara itu, warga pesisir juga memiliki kearifan lokal dalam membaca tanda alam. Ketua RT 16 Belakang BRI, Nurdiana, mengatakan warga dan nelayan pesisir biasanya berpatokan pada 'tabel air' milik para petambak untuk mengetahui jadwal pasti puncak pasang surut.

Nurdiana mengonfirmasi bahwa tren naiknya air di kawasannya mayoritas terjadi pada malam hari, sehingga kecil kemungkinan mengganggu aktivitas Salat Id warga.

"Rata-ratanya malam ya, pas habis Maghrib atau mau Maghrib, biasanya sampai Salat Isya, kadang sampai dua jam. Selama ini sih belum pernah ada kejadian (banjir rob) pas Salat Id," ungkap Nurdiana.

Meski sudah terbiasa dengan siklus alam tersebut, Nurdiana tetap menaruh harapan pada kesigapan pemerintah daerah dalam merespons potensi bencana, terutama jika cuaca ekstrem membawa dampak fisik bagi permukiman warga.

"Mudah-mudahan ada respons dari pemerintah, apalagi terkait warga-warga yang kena dampak, entahkah rumahnya yang rusak atau bagaimana nantinya," pungkasnya.



(des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads