Puasa Ramadhan adalah ibadah wajib bagi umat Islam. Sebelum perintah ini diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad, puasa sudah menjadi ibadah yang dilakukan umat terdahulu.
Lantas siapakah nabi pertama yang menjalankan ibadah puasa? Dalam artikel ini akan kita ulas sejarah puasa yang dilakukan umat para nabi dan umatnya.
Nabi Pertama yang Berpuasa
Dikutip dari buku Panduan Ibadah Puasa Wajib dan Sunnah oleh Ahmad Zacky, SAg, MA, nabi pertama yang berpuasa adalah Nabi Adam AS. Beliau berpuasa selama tiga hari sebagai wujud syukur atas pertemuannya lagi dengan Hawa di Padang Arafah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam buku Dahsyatnya 7 Puasa Wajib, Sunnah, & Thibbun Nabawi oleh Maryam Kinanthi N, disebutkan puasa tiga hari itu dilakukan setiap tengah bulan atau yang sekarang kita kenal sebagai yaumul bidz atau hari putih (tanggal 13, 14, 15).
Puasanya Para Nabi
Setelah Nabi Adam, ibadah puasa juga dilakukan para nabi lainnya. Masih berdasarkan buku Ahmad Zacky dan Maryam Kinanthi, berikut ini praktik-praktik puasa yang dilakukan para nabi:
- Nabi Adam: adalah manusia pertama yang berpuasa. Beliau berpuasa setiap tanggal 13, 14, 15 bulan Qamariyah. Sumber lain menyebut Nabi Adam juga berpuasa setiap 10 Muharram, tanggal di mana beliau dipertemukan kembali dengan istrinya, Hawa.
- Nabi Nuh: menjalankan puasa selama 3 hari ketika kapal yang ditumpangi bersama umatnya terkatung-katung di atas air selama berbulan-bulan. Puasa ini diperintahkan sebagai bentuk pertobatan agar mereka memohon keselamatan dari bencana topan dan banjir bandang saat itu.
- Nabi Ibrahim, Ismail, dan Ishaq: Nabi Ibrahim adalah sosok yang rajin berpuasa. Keteladanan ini diikuti oleh anak-anaknya, yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishaq, hingga kelak diwariskan juga kepada anak cucu keturunan mereka.
- Nabi Ya'kub: Gemar melakukan puasa secara khusus untuk memohon keselamatan bagi putra-putranya.
- Nabi Yusuf: Saat memegang amanat besar mengelola perekonomian bangsa Mesir, beliau justru banyak berpuasa. Alasannya sangat mulia, yakni: "Saya khawatir apabila saya kenyang, saya akan melupakan perut para fakir miskin."
- Nabi Yunus: Menjalani puasa secara mutlak karena berada di dalam perut ikan besar, di mana sama sekali tidak ada makanan yang bisa dikonsumsi.
- Nabi Ayub: Saat ditimpa cobaan berat dari Allah Swt., beliau rajin berpuasa. Hal ini dilakukan untuk menguatkan ketahanan jiwanya dalam menghadapi cobaan tersebut, sekaligus sebagai wujud syukur atas posisinya sebagai seorang nabi.
- Nabi Syuaib: Termasuk nabi yang sangat banyak melakukan ibadah puasa dalam kehidupannya.
- Nabi Musa: Memiliki beberapa riwayat puasa yang panjang. Sebelum menjadi rasul untuk menyelamatkan Bani Israil dari Fir'aun, Allah memerintahkannya berpuasa 30 hari untuk menguatkan mental spiritualnya, lalu Allah menambah 10 hari hingga genap menjadi 40 hari.
Ketika hendak menerima wahyu di Bukit Tursina di Gurun Sinai, beliau juga melaksanakan puasa sebanyak 40 hari 40 malam. - Nabi Khidir: Sosok nabi yang sangat misterius, yang juga merupakan guru ilmu laduni dan hikmah bagi Nabi Musa, diketahui menjalankan ibadah puasa sepanjang waktu.
- Nabi Ilyas: Menjalani puasa selama 40 hari 40 malam ketika beliau akan pergi menuju Gunung Horeb untuk menerima wahyu dari Allah Swt.
- Nabi Daud: Menjalankan puasa secara berselang, yakni sehari berpuasa dan sehari tidak (berbuka). Praktik ini sangat dicintai Allah Swt. dan kini dikenal oleh umat Islam sebagai "Puasa Daud".
Rasulullah saw. bersabda: "Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Daud... Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir... Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan berbuka sehari berikutnya." (HR. Bukhari dan Muslim). - Nabi Isa Al-Masih: Sebagai nabi terakhir dalam rangkaian panjang nabi Bani Israil, beliau juga tekun menjalankan ibadah puasa.
- Siti Maryam (Ibunda Nabi Isa): Beliau gemar berpuasa, dan secara khusus mempraktikkan 'puasa bicara' saat menghadapi tekanan dan kecaman sosial. Hal ini diabadikan dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini." (QS Maryam: 26).
Sejarah Puasa Umat Yahudi & Bani Israil
Berikut sejarah puasa umat Yahudi dan Bani Israil:
- Puasa 10 Muharram: Masyarakat Yahudi di Madinah menjalankan syariat Nabi Musa, salah satunya puasa 10 Muharram. Saat ditanya oleh Nabi Muhammad saw., mereka menjawab bahwa puasa itu adalah bentuk syukur karena pada tanggal tersebut, Nabi Musa diselamatkan dari kejaran Fir'aun di Laut Merah.
- Puasa Peringatan Tokoh dan Peristiwa: Menurut Nabi Zakaria, setelah Bani Israil diusir ke Babil, mereka memiliki puasa khusus. Misalnya, puasa tanggal 13 Adar (Maret) untuk merayakan kegagalan siasat Haman (Perdana Menteri Persia) yang ingin memusnahkan Yahudi, yang digagalkan oleh Permaisuri Astir. Mereka juga memiliki puasa di waktu tertentu untuk memperingati nabi (seperti Musa dan Harun) atau peristiwa bersejarah mereka.
- Pengubahan Waktu Puasa (Nasî'): Imam Al-Qurthubî mencatat bahwa Allah Swt. sebenarnya mewajibkan puasa 40 hari kepada kaum Yahudi. Namun, demi mencari kemudahan dalam beribadah, mereka kerap mengubah waktunya. Misalnya, jika waktu puasa bertepatan dengan musim panas, mereka menundanya hingga musim bunga.
Sejarah Puasa Umat Nasrani
Berikut sejarah puasa umat Nasrani:
- Puasa 10 Muharram: Ketika umat Nasrani tinggal di Madinah, mereka juga berpuasa 10 Muharram. Alasan mereka berbeda dengan Yahudi; mereka meyakini bahwa 10 Muharam adalah ajaran Isa Al-Masih dan bertepatan dengan hari kelahiran beliau.
- Anjuran Merahasiakan Puasa: Hasbi Ash-Shiddiqie mengutip keterangan dari Injil bahwa puasa adalah kewajiban ibadah, namun orang yang berpuasa disuruh meminyaki kepala dan membasuh muka agar tidak terlihat oleh orang lain bahwa ia sedang berpuasa.
- Puasa Idul Fishhi & Modifikasi Gereja: Puasa yang paling masyhur bagi mereka adalah Idul Fishhi (memperingati kebangkitan Al-Masih), yang juga dilakukan oleh Musa, Isa, dan para Hawari (murid setia Nabi Isa). Awalnya puasa mereka serupa dengan Yahudi. Namun, kepala-kepala gereja memodifikasinya dan memunculkan perselisihan; ada yang mengubah waktunya dari tengah malam sampai tengah hari, dan ada yang hanya berpantang makan daging, telur, ikan, dan susu.
- Sejarah Puasa Menjadi 50 Hari: Imam Syaukani mengutip riwayat (HR. Bukhari dan Thabrani) bahwa umat Nasrani awalnya wajib berpuasa di bulan Ramadan. Namun, saat raja mereka sakit, mereka bernazar menambah 10 hari jika sembuh. Saat raja sakit lagi karena makan daging, ditambah 7 hari. Raja berikutnya kemudian menambah 3 hari lagi, sehingga total puasa mereka menjadi 50 hari. Menurut Imam Al-Qurthubî, sama seperti Yahudi, umat Nasrani juga sering melakukan nasî' (mengubah-ubah waktu puasa untuk mencari cuaca yang nyaman).
Demikian tadi telah kita ketahui bahwa puasa telah dijalankan sejak Nabi Adam AS dan berlanjut hingga diwajibkan kepada umat Islam setiap bulan Ramadan.
