Doa Mohon Ampun dan Amalan yang Dianjurkan di 10 Malam Terakhir Ramadan

Doa Mohon Ampun dan Amalan yang Dianjurkan di 10 Malam Terakhir Ramadan

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Senin, 09 Mar 2026 12:06 WIB
Ilustrasi berdoa di malam Nisfu Syakban.
Ilustrasi berdoa di 10 malam terakhir Ramadan/Foto: ChatGPT
Balikpapan -

Tidak terasa kita akan memasuki 10 malam terakhir di bulan Ramadan 1447 Hijriah. Di momen ini, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas ibadah karena di dalamnya terdapat malam yang sangat mulia, yaitu Lailatul Qadar.

Selama Ramadan, ada banyak amalan yang bisa dilakukan untuk meraih pahala dan keberkahan, seperti membaca Al-Qur'an, memperbanyak sedekah, memperbanyak zikir, hingga melaksanakan salat malam.

Ketika memasuki sepuluh malam terakhir, Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus dengan meningkatkan ibadah secara lebih sungguh-sungguh dibandingkan malam-malam sebelumnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi kesempatan emas bagi setiap muslim untuk memperbanyak doa, terutama memohon ampunan kepada Allah SWT. Salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada malam-malam tersebut adalah doa yang diajarkan langsung Rasulullah SAW kepada Sayyidah Aisyah ra.

Doa Mohon Ampunan di 10 Malam Terakhir Ramadan

Berikut doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika berharap mendapatkan malam Lailatul Qadar:

اللَّهُمَّ إنَّك عَفْوٌ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annī

Artinya: Tuhanku, sungguh Kau maha pengampun lagi pemurah. Kau menyukai ampunan, oleh karenanya ampunilah aku.

Doa ini berasal dari hadis riwayat At-Tirmidzi ketika Sayyidah Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai doa yang sebaiknya dibaca jika seseorang menjumpai malam Lailatul Qadar.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Artinya: Dari Aisyah, ia berkata, 'Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui di malam apa Lailatul Qodar itu, apa yang aku ucapkan di malam tersebut?' Beliau menjawab, 'ucapkanlah Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annī' (ya Allah, sesungguhnya engkau maha pemaaf nan mulia yang suka memaafkan, maka maafkanlah aku)" (H.R. At-Tirmidzi).

Dikutip dari Pusat Pembinaan Agama Universitas Brawijaya, para ulama menjelaskan bahwa doa ini memiliki makna yang sangat dalam. Kata 'afwun dalam doa tersebut berarti penghapusan dosa hingga benar-benar hilang tanpa bekas. Hal ini berbeda dengan kata maghfirah yang lebih menekankan pada makna menutup dosa agar tidak terbongkar.

Karena itu, memohon 'afwun kepada Allah pada malam Lailatul Qadar dianggap sangat tepat. Sebab malam tersebut merupakan malam ketika berbagai ketentuan kehidupan ditetapkan oleh Allah untuk setahun ke depan.

Sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi:

قَالَ الْعُلَمَاءُ وَسُمِّيَتْ لَيْلَةُ الْقَدْرِ لِمَا يُكْتَبُ فِيهَا لِلْمَلَائِكَةِ مِنَ الْأَقْدَارِ وَالْأَرْزَاقِ وَالْآجَالِ الَّتِي تَكُونُ فِي تِلْكَ السَّنَةِ كَقَوْلِهِ تعالى فيها يفرق كل أمر حكيم وَقَوْلِهِ تَعَالَى تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ ربهم من كل أمر وَمَعْنَاهُ يُظْهِرُ لِلْمَلَائِكَةِ مَا سَيَكُونُ فِيهَا وَيَأْمُرُهُمْ بِفِعْلِ مَا هُوَ مِنْ وَظِيفَتِهِمْ

Artinya: Para ulama berkata, dikatakan Lailatul Qodar karena pada malam itu ditulis takdir-takdir, rezeki-rezeki dan ajal-ajal untuk (dibawa) para malaikat yang akan terjadi pada tahun tersebut (setahun yang akan datang) sebagaimana (diisyaratkan) dalam firman Allah 'FIHA YUFROQU KULLU AMRIN HAKIM' (pada Lailatul Qodar itu ditetapkan semua perkara yang sempurna), dan firman Allah, 'TANAZZALUL MALAIKATU WARRUHU FIHA BI IDZNI ROBBIHIM MIN KULLI AMRIN'. Maknanya, Allah menampakkan kepada para malaikat di malam itu perkara yang akan terjadi dan memerintahkan mereka untuk melakukan apa yang menjadi tugas mereka." (Al-Minhaj, Syarah An-Nawawi 'Ala Muslim, juz 8 hlm 57).

Selain itu, Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa berbagai musibah yang menimpa manusia dapat terjadi karena dosa yang dilakukan. Namun Allah tetap memberikan ampunan kepada banyak hamba-Nya.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Artinya: Musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan tangan kalian (sendiri), yakni dosa-dosa dan maksiat, dan Allah memaafkan banyak (dosa sehingga tidak dihukum)," (Q.S. Asy-Syuro: 30)

Amalan yang Dianjurkan di 10 Malam Terakhir Ramadan

Selain memperbanyak doa memohon ampunan, terdapat sejumlah amalan yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk dilakukan pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah ra:

كَانَ رَسُوْلُ اللهً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِيْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ

Artinya: Pada malam sepuluh terakhir, Rasulullah SAW (lebih) bersungguh-sungguh (untuk beribadah), melebihi kesungguhan pada malam yang lain," (HR Muslim).

Berikut beberapa amalan yang dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadan, seperti yang dirangkum dari penjelasan NU Online.

1. Meningkatkan Qiyamullail

Salah satu amalan utama adalah memperbanyak salat malam. Rasulullah SAW menunjukkan kesungguhan yang lebih besar dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلِطُ الْعِشْرِينَ بِصَلَاةٍ وصَوْمٍ وَنَوْمٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ شَمَّرَ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Artinya: Dari 'Aisyah ra, dia berkata, 'Pada 20 hari yang pertama (di bulan Ramadhan), Nabi saw biasa mengkombinasikan antara shalat, puasa dan tidurnya. Namun jika telah masuk 10 hari terakhir, beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya (menjauhi istri-istrinya)," (HR Ahmad).

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah meningkatkan intensitas ibadah, khususnya salat malam, pada sepuluh malam terakhir.

2. Mengajak Keluarga untuk Beribadah

Tidak hanya beribadah sendiri, Rasulullah SAW juga membangunkan keluarganya agar turut meraih keutamaan malam-malam tersebut, sebagaimana yang tertulis dari hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Artinya: Jika telah datang 10 hari yang terakhir (di bulan Ramadhan), Nabi SAW mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya (dengan beribadah), dan membangunkan keluarganya (untuk beribadah)," (HR Bukhari dan Muslim).

3. Memperbanyak Iktikaf

Iktikaf juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan di sepuluh hari terakhir Ramadan.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ

Artinya: Dari Aisyah ra, dia berkata, 'Sesungguhnya Nabi SAW beriktikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadan sampai beliau wafat. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW beriktikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, bahkan selama 20 tahun.

كَانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ عَشرَةَ أيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِيْ قُبِضَ فِيْهِ اِعْتَكَفَ عِشْرِيْنَ يَوْمًا

Artinya: Nabi Muhammad saw selalu beriktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Kecuali bertepatan pada tahun kewafatannya, Nabi beriktikaf selama dua puluh hari. (HR Al-Bukhari).

4. Membersihkan Diri dan Memperindah Ibadah

Pada sepuluh malam terakhir, Rasulullah juga lebih menjaga kebersihan diri dan mempersiapkan diri untuk beribadah.

كَانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ رَمَضَانُ قَامَ وَنَامَ فَإِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ الْمِئْزَرَ وَاجْتَنَبَ النِّسَاءَ وَاغْتَسَلَ بَيْنَ الْأَذَانَيْنِ وَجَعَلَ الْعِشَاءَ سَحُوْرًا

Artinya: Ketika memasuki bulan Ramadan, Rasulullah bangun malam (untuk beribadah) dan juga menggunakannya untuk tidur. Begitu masuk sepuluh hari terakhir, beliau kencangkan sarung, menjauhi istri-istrinya (untuk beribadah), mandi antara dua adzan (dua waktu shalat magrib dan isya). (HR Ibnu Abi 'Ashim).

5. Bersungguh-sungguh Mencari Lailatulkadar

Sepuluh malam terakhir Ramadan juga menjadi waktu untuk mencari malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Karena tidak diketahui secara pasti kapan terjadinya, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam tersebut.

6. Memperbanyak Doa Memohon Ampunan

Selain ibadah lainnya, memperbanyak doa juga menjadi amalan penting pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Doa yang paling dianjurkan adalah doa memohon ampunan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Sayyidah Aisyah, seperti yang tadi telah disebutkan.

Dengan memperbanyak doa tersebut, seorang Muslim berharap dosa-dosanya dihapuskan oleh Allah SWT dan mendapatkan keberkahan dari malam Lailatul Qadar.

Sepuluh malam terakhir Ramadan merupakan kesempatan yang sangat berharga. Oleh karena itu, alangkah baiknya kita memaksimalkan momen ini dengan memperbanyak ibadah, memperbanyak doa, serta memohon ampunan kepada Allah SWT.

Semoga dengan kesungguhan ibadah di malam-malam tersebut, kita semua dapat meraih ampunan, keberkahan, dan keutamaan Lailatul Qadar.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Berlomba-lomba Meraih Berkah di 10 Malam Terakhir Ramadan"
[Gambas:Video 20detik] (sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads