Pesona Sahabat Rasulullah, Mushab bin Umair yang Jadi Duta Pertama Islam

Pesona Sahabat Rasulullah, Mushab bin Umair yang Jadi Duta Pertama Islam

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Senin, 09 Mar 2026 06:00 WIB
Sahabat Nabi
Ilustrasi Sahabat Nabi. Foto: Getty Images/GCShutter
Balikpapan -

Rasulullah SAW memiliki seorang sahabat bernama Mush'ab bin Umair al-Abdari. Mushab dikenal memiliki sifat zuhud, luhur, dan tulus. Mushab dikaruniai Allah berupa kecerdasan pemikiran, budi pekerti luhur, dan sifat jujur.

Tak hanya memiliki sifat yang dapat diteladani, Mush'ab bin Umair juga memiliki penampilan yang mempesona. Mush'ab bin Umair dikenal selalu berpenampilan rapi dan wangi.

Namun kemudian ujian datang kepadanya, di lain sisi ia ditetapkan menjadi duta pertama Islam, hingga banyak yang berbondong-bondong memeluk agama Islam karenanya. Berikut kisahnya, dirangkum oleh detikKalimantan dari berbagai literatur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sosok Mush'ab bin Umair

Dikutip dari buku Agar Cinta Bersemi Indah karya M. Fauzil Adhim, Mushab bin Umair dikenal sebagai sosok yang murah senyum. Mushab lahir dari keluarga terpandang suku Quraisy. Ia berasal dari keluarga yang kaya sehingga hidupnya diliputi kemewahan.

Dirangkum dari buku Why Not Remaja Jadi Da'i? oleh Ahmad Syakib dan Kiat-Kiat Menjadi Muballigh Yang Menarik: Panduan Untuk Calon Muballigh oleh Ahmadi Ashfiya, Mush'ab bin 'Umair bin Håsyim bin 'Abdu Manåf al-Qurasyi tumbuh dewasa di Mekah dalam keluarga ayahnya, 'Umair bin 'Abdu Manåf.

Sebagai anak bungsu dia sangat dimanjakan. Kedua orangtuanya menumpahkan segala kasih sayang mereka secara berlebihan. Keluarga Mush'ab termasuk keluarga yang terkaya di Mekah.

Suatu hari, matahari Islam menyinari kota Mekah. Mush'ab datang saat Rasulullah SAW sedang berdakwah. Lalu Mush'ab menemui beliau dan mendengarkan ayat-ayat suci al-Qur'an yang dilantunkan oleh bibirnya.

Hal ini menggugah Mush'ab yang saat itu masih berusia remaja, untuk kemudian memeluk agama Islam. Ia harus menyembunyikan keimanan serta keislamannya secara sementara dari keluarganya.

Rasulullah SAW saat memulai dakwah di Yatsrib atau Madinah, kemudian mengutus Mushab bin Umair. Ia menjadi pendakwah yang sangat terkenal dengan ketampanannya dan kegemarannya berdandan.

Penampilannya necis, wangi parfum yang semerbak menjadikannya bintang dalam tempat-tempat pertemuan. Saat berdakwah Islam ia terlihat meyakinkan, kemampuannya berkomunikasi dan kecerdasannya membuat masyarakat Madinah berhasil diajak memeluk Islam.

Mushab bin Umair memiliki gelar Mushab al-Khair yang artinya Mushab yang baik. Kebaikan bukan hanya terpancar dari tingkah lakunya tetapi juga dari senyumnya yang teduh dan menawan.

Di awal penyebaran Islam, senyuman Mushab banyak berjasa dalam meluluhkan hati orang-orang musyrik yang memusuhi. Ia menarik banyak orang, termasuk para pemimpin bangsa Arab, bukan dengan kerasnya sikap dan kasarnya ucapan. Ia menaklukkan hati orang-orang melalui senyuman yang hangat dan santun setiap kali memperkenalkan ajaran Islam.

Hingga kemudian, Mush'ab meninggalkan kehidupan mewah menuju kehidupan yang penuh iman dan berusaha terus-menerus untuk menyiarkan Islam dan jihad di jalan-Nya. Keluarganya pun mengetahui keislamannya.

Dikutip dari buku Agar Selamat Sampai di Surga Allah oleh Manshur Abdul Hakim, orang tua Mush'ab bin Umair berusaha mengembalikannya ke agama semula, akan tetapi tidak berhasil. Tidak ada lagi cara kecuali menyiksanya. Lalu mereka menahan dan merantai Mush'ab bin 'Umair.

Dia dikurung oleh ortunya di suatu tempat yang terpencil. Otomatis, semua fasilitas yang didapat sebelumnya harus ditinggalkan semuanya. Akhimya, Mushab dapat membebaskan dirinya, lalu pergi ke Habsyi untuk menyusul kaum Muslim yang telah hijrah.

Siksaan dari keluarga ternyata malah menambah keimanannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Selepas kabur dan hijrah ke Ethiopia setelah mendapat izin dari Rasulullah saw, Mush'ab hidup di Habasyah dengan sangat bersahaja dan menjadi fakir. Ia memperoleh makanan dengan susah payah.

Perjuangan Mush'ab bin Umair Mengislamkan Madinah

Kemudian dia kembali ke Mekah. Kefakiran telah mengubah keadaan dan pakaiannya. Lalu Rasulullah saw melihat 'Umair dengan pakaiannya yang lusuh, ia memakai sepotong pakaian yang lebih banyak koyaknya daripada bagusnya. Tatkala para sahabat melihat hal tersebut mereka menundukkan kepala, sebagai tanda kasih sayang dan cintanya kepada Mush'ab.

Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya saya telah melihat Mush'ab. Tidak ada seorang pemuda pun di Mekah yang berasal dari keluarga Quraisy yang lebih mewah kehidupannya di Sisi kedua orangtuanya, kemudian diusir dari Mekah karena senang terhadap kebaikan dan cinta kepada Allah serta RasuI Nya, kecuali Mush'ab."

Setelah bai'at al-'Aqabah yang kedua bersama kaum Anshår, Rasulullah saw mengutus Mush'ab ke Madinah bersama orang-orang yang telah beriman sebelumnya dari penduduk Madinah yang bensal dari suku Aus dan Khazraj. Dia diutus sebagai duta pertama Islam, untuk mengajak penduduk Madinah memeluk agama Islam dan mengajarkan pelajaran agama kepada orang-orang yang telah masuk Islam.

Dia didampingi oleh seorang sahabat dari golongan Anshår, yaitu Sa'ad bin Zurårah, dan dia tinggal di rumahnya. Mush'ab melaksanakan tugasnya sebagai duta pertama dalam Islam yang dikirim ke negeri Madinah dengan penuh kesempurnaan.

Hal tersebut dijelaskan oleh Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum-Sirah Nabawiyah. Dikatakan, setelah bai'at terlaksana dan musim haji telah berakhir, Rasulullah SAW mengutus Mush'ab untuk mengajarkan dan menanamkan ajaran Islam kepada muslimin Madinah serta berdakwah kepada mereka yang masih musyrik.

Salah satu kisah sukses dakwah Mush'ab yang pernah diriwayatkan adalah ketika ia berhasil mengislamkan Sa'ad bin Mu'adz dan Usaid bin Hudhair. Keduanya adalah tetua di Madinah dari bani Abdul Asyhal.

Dan di antara kelebihan Mush'ab yang dikenang hingga sekarang adalah, bahwa ia orang yang pertama melaksanakan salat Jum'at dalam Islam di Madinah al-Munawarah sebelum hijrah. Dia mengumpulkan kaum Muslimin di rumah Sa'ad bin Khutsaimah.

Tatkala Mushab kembali ke Mekah, ibunya berusaha mengembalikan kepada akidahnya semula. Namun Mushab menjawab:
"Saya tetap beragama yang dibawa oleh Rasulullah saw, yaitu Islam yang telah diridai Allah swt dan Rasul-Nya. Saya tidak berterima kasih dan tidak bersedih hati berpisah denganmu di negeri Ethiopia dan Madinah."

Dia berkata kepada ibunya, "Wahai ibuku, sesungguhnya saya menasihatimu dan sayang kepadamu. Bersaksilah, bahwa tiada Tuhan selain Allah swt dan Muhammad adalah hamba dan pesuruh-Nya." Akan tetapi ibunya menolak dan bersumpah untuk tidak masuk Islam, ia bertekad untuk tetap kafir.

Mush'ab kembali ke Madinah sambil berdakwah, menyiarkan Islam dan ajarannya di tengah-tengah penduduk Madinah, hingga Rasulullah saw hijrah ke Madinah. Ketika beliau hijrah ke penduduk Madinah, semuanya sudah masuk Islam. Hal itu berkat usaha keras duta Islam yang pertama, yaitu Mush'ab.

Halaman 2 dari 2
(aau/bai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads