Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump heran dan mempertanyakan mengapa Iran belum juga 'menyerah' dan setuju membatasi program nuklirnya, meski menghadapi pengerahan militer besar-besaran AS di Timur Tengah. Itu seperti yang diungkapkan Utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.
Dikutip detikNews, peningkatan kekuatan militer AS di kawasan tersebut bertujuan untuk menekan Iran agar bersedia mencapai kesepakatan nuklir. AS dan Iran melanjutkan kembali perundingan nuklir beberapa pekan terakhir dengan dimediasi Oman, yang bertujuan mencegah kemungkinan aksi militer setelah Washington mengirimkan dua kapal induknya berserta sejumlah jet tempur dan persenjataan lainnya ke kawasan Timur Tengah sebagai peringatan untuk Teheran.
"Saya tidak ingin menggunakan kata 'frustrasi', karena dia memahami bahwa dirinya memiliki banyak alternatif, tetapi dia penasaran mengapa mereka belum... Saya tidak ingin menggunakan kata 'menyerah', tetapi mengapa mereka belum menyerah," kata Witkoff dalam wawancara yang direkam pada Kamis (19/2), namun baru ditayangkan pada Sabtu (21/2) waktu setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mengapa, di bawah tekanan ini, dengan jumlah kekuatan laut dan angkatan laut yang ada di sana, mengapa mereka tidak datang kepada kita dan berkata, 'Kami menyatakan tidak menginginkan senjata, jadi inilah yang siap kami lakukan'? Namun, agak sulit membuat mereka sampai pada titik itu," ujarnya.
Untuk diketahui, Trump memerintahkan pengerahan militer besar-besaran di Timur Tengah dan persiapan untuk potensi serangan udara selama beberapa minggu terhadap Iran. Sedangkan Teheran mengancam akan menyerang pangkalan AS di kawasan tersebut jika diserang.
Amerika Serikat menginginkan Iran untuk menyerahkan uranium yang diperkaya, yang menurut Washington, berpotensi digunakan untuk membuat bom, serta menghentikan dukungan terhadap militan di Timur Tengah dan menerima batasan pada program rudalnya.
Teheran menegaskan program nuklirnya bersifat damai, tetapi bersedia menerima sejumlah pembatasan sebagai imbalan atas pencabutan sanksi keuangan. Iran juga menolak untuk membahas isu lainnya, seperti rudal balistik dan dukungan untuk kelompok bersenjata di kawasan.
"Mereka telah memperkaya uranium jauh melebihi jumlah yang dibutuhkan untuk senjata nuklir sipil. Hingga 60 persen (kemurnian fisil). Mereka mungkin hanya tinggal seminggu lagi untuk memiliki bahan pembuatan bom kelas industri, dan itu sangat berbahaya," ucap Witkoff.
Pernyataan Witkoff tersebut disampaikan setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan draf proposal untuk kesepakatan dengan AS akan siap dalam hitungan hari. Trump mengatakan pada Kamis (19/2) lalu bahwa Teheran memiliki waktu paling lama 15 hari untuk mencapai kesepakatan.
Baca selengkapnya di sini.
(sun/des)
