Antrean panjang di Bandara Yuvai Semaring, Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) seolah sudah jadi pemandangan biasa. Warga harus rela meluangkan waktunya demi memperoleh tiket penerbangan.
Pantauan detikKalimantan pada Rabu (18/2/2026), sejak pukul 07.00 Wita warga memenuhi bandara. Sayangnya, banyak dari mereka yang harus pulang dengan kecewa karena gagal mendapatkan jadwal terbang, baik untuk penumpang maupun kargo.
Sebagian dari mereka bahkan rela bertahan menunggu penerbangan selanjutnya, berharap ada penumpang yang membatalkan penerbangan. Jika belum beruntung, calon penumpang harus kembali menunggu kuota penerbangan pada esok hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluhan diutarakan Marso Soleman, warga Krayan Induk. Hari ini ia kecewa karena tak dapat menjual hasil panennya ke Tarakan. Marso mengatakan carut-marut sistem kargo subsidi kerap membuatnya rugi.
Hasil bumi seperti beras dan nanas yang hendak dijual ke Tarakan sering kali tertahan berminggu-minggu hingga membusuk di bandara.
"Kadang-kadang barang mau tertahan sampai satu bulan. Kalau kayak nanas itu kan kalau sudah busuk ya sudah, tidak jadi dikirim. Sangat rugi kita," keluh Marso pada detikKalimantan.
Marso bercerita, selama ini tidak ada sistem antrean yang jelas dan transparan. Pembagian kuota antarkecamatan menurutnya tidak merata, sehingga warga dibiarkan berebut slot kargo tanpa jadwal yang pasti.
"Tidak ada informasi siapa yang duluan datang. Siapa yang duluan, dia punya barang yang dikasih masuk. Kuotanya pun dibatasi satu orang cuma sekitar 20 kilo. Seharusnya kan dikasih informasi dulu pembagian jatah harinya agar barang kita bisa terkirim," ucap dia.
Marso yang sudah bertahun-tahun merasakan kondisi ini, hanya bisa berharap pemerintah dapat menambah frekuensi penerbangan kargo.
"Harapan kita pengangkutan ini dilancarkan. Paling tidak satu minggu itu bisa empat atau lima kali, jangan cuma dua kali dan itu pun bergilir," harapnya.
Penjelasan Pihak Bandara
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Yuvai Semaring, Long Bawan, Sumariyanto, menjelaskan pemerintah sebenarnya sudah menyediakan subsidi perintis khusus, baik untuk penumpang maupun kargo. Namun, daya tampung pesawat yang beroperasi sangat terbatas dan tidak sepadan dengan tingginya kebutuhan mobilitas masyarakat Krayan.
"Subsidi perintis khusus untuk kargo sudah ada. Tapi untuk volumenya, daya tampungnya dengan yang diperlukan oleh masyarakat dan pesawat yang ada itu tidak seimbang. Makanya harus antre, dan ini memang menjadi PR kita," ucap Sumariyanto.
Ia menyebut, pihak UPBU Yuvai Semaring sifatnya hanya menerima jadwal penerbangan dari Koordinator Wilayah (Korwil) Tarakan. Pihak Korwil menurutnya sudah berusaha menambah penerbangan, namun terbentur kebijakan pusat.
"Korwil Tarakan sudah berusaha menambah flight, tapi karena anggarannya terbatas, jadi sementara seperti tahun kemarin saja. Tahun ini tidak ada penambahan penerbangan subsidi perintis karena dua tahun ini ada efisiensi dari pemerintah," tuturnya.
Terkait pendanaan penerbangan, Sumariyanto menyebut seluruh penerbangan perintis saat ini baik penumpang, kargo, maupun BBM masih menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sementara itu, subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) belum turun.
"Dari Pemda sementara belum ada. Biasanya kalau Pemda itu di pertengahan tahun. Tahun kemarin ada (APBD Provinsi), tapi kami kurang informasi terkait kapan turunnya kontrak APBD itu, kami hanya menerima slot penerbangan saja," terangnya.
"Rencananya tahun ini ada 4 flight dalam seminggu untuk penerbangan perintis dari Tarakan ke Long Bawan, tapi yang terealisasi cuma 3 dalam satu minggunya," lanjut Sumariyanto.
Padahal, Sumariyanto membeberkan bahwa intensitas dan mobilitas masyarakat di Krayan terus bertambah setiap bulan. Pihak bandara kini terus menyuarakan keluhan masyarakat ini ke pusat melalui Korwil Tarakan.
"Kita selaku pimpinan di Long Bawan selalu memberi masukan ke Korwil di Tarakan untuk menambah flight karena antrean terlalu panjang. Tapi apa daya, kita hanya pelayan, kemenangan (keputusan) ada di pemerintah," ucap dia.
Sumariyanto juga merespons keluhan terkait warga setempat. Ia menegaskan, keputusan menaikkan penumpang atau barang murni wewenang maskapai (airline), bukan bandara.
"Terkait apakah penumpang itu bisa naik atau tidak, itu bukan kewenangan bandara, melainkan kewenangan airline. Bandara hanya menyiapkan fasilitasnya. Kadang memang ada alasan operasional sehingga penerbangan digantikan atau batal," kata dia.
Untuk meminimalisir miskomunikasi, pihak bandara mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi resmi. Adapun instagram resmi Bandara Yuvai Semaring yang bisa dipantau warga yakni @yuvaisemaring_airport.
"Itu tiap hari kita update story di Instagram terkait jadwal penerbangan dan perubahannya," pungkas Sumariyanto.
