25 Siswa SD di PPU Muntah Usai Dapat MBG, Diduga dari Puding

25 Siswa SD di PPU Muntah Usai Dapat MBG, Diduga dari Puding

Riani Rahayu - detikKalimantan
Rabu, 11 Feb 2026 19:58 WIB
Sejumlah siswa di PPU menjalani perawatan karena muntah akibat konsumsi MBG. (dok Kadisdik PPU)
Foto: Sejumlah siswa di PPU menjalani perawatan karena muntah akibat konsumsi MBG. (dok Kadisdik PPU)
Penajam Paser Utara -

Sebanyak 25 siswa SDN 008 Waru, Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami muntah setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Diduga penyebabnya berasal dari menu puding.

Dari hasil penelusuran sementara, sumber masalah diduga berasal dari makanan tambahan berupa puding yang diambil dari luar. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten PPU, Andi Singkerru, mengatakan makanan dari pihak luar seharusnya dalam bentuk kemasan steril.

"Perlu kami sampaikan bahwa kejadian ini ternyata memang bahwa SPPG yang ada di Waru itu ada yang diambil dari masyarakat, jadi ada seperti puding. Nah, dibolehkan sih sebenarnya memberi dari luar tetapi makanan atau minuman seperti yang itu pun yang kemasan yang betul-betul steril," jelas Andi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.00 Wita. Ia mengaku menerima laporan saat berada di luar daerah dan langsung menuju lokasi setibanya di PPU.

"Jadi tadi itu sekitar jam 10.00 Wita anak-anak kita diantarkan oleh SPPG, MBG untuk SD 008 di Waru. Nah, setelah mereka mengkonsumsi mereka ternyata muntah-muntah sampai beberapa anak. Nah, ada sekitar 25 anak yang langsung dibawa ke Puskesmas," kata Andi, melalui keterangannya, Rabu (11/2/2026).

Andi menyebut puding tersebut sudah tak layak konsumsi. Karena sudah mengeluarkan aroma tidak sedap.

"Nah, ini mengambil puding dari luar. Nah, ternyata puding ini sebenarnya sudah tidak layak konsumsi karena bau tidak dimasukkan di kulkas. Nah, sudah bau, aromanya tidak bagus lagi. Nah, sehingga ini anak-anak kita ini enggak ngerti kalau anak SD ini enggak mengerti bahwa itu sudah tidak layak konsumsi. Mereka itu mengkonsumsi setelah itu keracunanlah mereka," sambungnya.

Meski begitu, Andi memastikan kondisi para siswa cepat membaik. Pada siang hingga sore hari seluruh anak sudah diperbolehkan pulang.

"Tapi alhamdulillah tadi jam 13.00 Wita lewat itu tinggal dua anak-anak kita yang masih dirawat dan alhamdulillah jam sekitar jam 15.00 Wita lewat itu sudah bisa dipulangkan," katanya.

Ia pun menyampaikan permohonan maaf kepada para orang tua murid. Ke depan, ia meminta kejadian serupa tidak terulang.

"Tentu saya menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua bahwa kejadian ini mudah-mudahan tidak berulang," ucapnya.

Andi mengatakan pihak SPPG mengakui baru kali ini mengambil makanan dari masyarakat. Ia pun langsung mengingatkan agar seluruh menu diolah oleh petugas sendiri.

"SPPG itu membenarkan, SPPG itu menyampaikan baru kali ini, Pak, kami ambil dari masyarakat. Nah, saya menyarankan saya katakan, jangan lagi kalau itu makanan harus diolah sendiri, harus dikerjakan, harus dimasak oleh petugas sendiri," tegasnya.

Menurutnya, langkah itu penting karena siswa terutama tingkat TK dan SD memiliki daya tahan tubuh yang belum kuat. Makanan yang tidak steril berisiko menimbulkan gangguan pencernaan.

"Apalagi anak-anak sekolah, SD, SMP, TK yang tentunya kalau terutama sekali anak SD dengan TK itu mereka rawan imunnya kurang kuat sehingga ketika mengonsumsi bahan yang sifatnya tidak terlalu steril itu maka mudah terkena masalah pencernaan," ujarnya.

Ia berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bagi seluruh SPPG di wilayah lain. Disdikpora juga akan berkoordinasi untuk menerbitkan surat edaran.

"Inilah mudah-mudahanlah ini merupakan pelajaran bukan hanya pada SPPG yang ada di Waru tetapi SPPG lain. Nah, kita berharap agar betul-betul mudah-mudahan kami bisa besok saling berkoordinasi di dinas dan membuat surat edaran kepada SPPG agar betul-betul melayani MBG kita kepada anak-anak kita ini, MBG yang memang betul-betul layak konsumsi dan tidak menimbulkan masalah pencernaan," pungkasnya.

Sementara itu, polisi juga tengah mendalami dugaan keracunan ini. Kasat Reskrim Polres PPU AKP Hendry Dwi Azhari menyebut sebenarnya ada 26 siswa terdampak.

"Untuk jumlah sementara yg kami dapat 25 murid SD 008 dan 1 murid dari SMA 2," bebernya.

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 26 siswa diduga mengalami keracunan usai menyantap makan bergizi gratis (MBG). Saat ini polisi tengah menyelidiki kasus ini.

"Masih dicari penyebabnya, apakah keracunan atau tidak," ujar Kapolres PPU AKBP Andreas Alek Danantara kepada detikKalimantan, Rabu (11/2/2026).

Peristiwa itu terjadi di SDN 008 Waru, Kecamatan Waru pada (11/2) siang. Para siswa kemudian langsung dibawa ke puskesmas setempat untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"(Gejala) pusing, mual, muntah, tapi masih dugaan diakibatkan makanan," terang Andreas.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Ratusan Siswa-Guru di Tulung Klaten Diduga Keracunan MBG Sop Galantin"
[Gambas:Video 20detik] (bai/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads