Kondisi para korban keracunan yang diduga berasal perkedel tahu menu Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar) berangsur pulih. Data sementara, sudah ada 23 siswa yang dipulangkan ke rumah.
Kepala Program MBG Region Kalbar Agus Kurniawi menyampaikan perkembangan terbaru terkait penanganan pasien dengan gejala serupa dugaan keracunan MBG di Kecamatan Marau. Ia memastikan seluruh pasien telah mendapatkan penanganan medis, dan sebagian besar kondisinya membaik.
"Hingga Jumat, 6 Februari 2026, jumlah pasien tercatat sekitar 340 orang, termasuk mereka yang telah dipulangkan ke rumah," kata Agus kepada detikKalimantan, Jumat (6/2/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini kondisi di Marau dalam keadaan terkendali, dengan banyak pasien sudah diperbolehkan pulang setelah dinyatakan stabil oleh tim medis," lanjutnya.
Adapun rincian jumlah pasien yang berdasarkan kelompok adalah sebagai berikut.
- SD: 9 orang
- SMP: 144 orang
- SMA: 73 orang
- SMK: 101 orang
- Relawan MBG: 6 orang
- Guru: 7 orang
Khusus di SMP Negeri 1 Marau, tercatat 23 siswa telah dipulangkan karena tidak lagi mengalami keluhan. Mereka adalah Ahmad (9B), Puji (7E), Dian (9B), Zulaika (7), Zahra (7E), Anggela (8D), Natania (7A), Aurel (9C), Cinli (9A), Kia (9A), Alfiandra (8D), Sintia (7D), Emiliana Bebe, Husen (7A), Wahyu (7B), Wildan (7C), Yanda (8A), Dava (8B), Irvini (8E), Dido (8E), Yanto (9D), Yunita (8A), dan Zaki (7A).
"Sebagian besar pasien sudah pulih dan dipulangkan. Kami terus melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi mereka benar-benar aman," ujar Agus.
Pihak terkait bersama tim kesehatan dan unsur lintas sektor saat ini masih bersiaga untuk memastikan tidak ada kasus lanjutan serta mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Untuk diketahui, gejala mual, pusing, dan muntah-muntah ini dirasakan para korban pada Rabu (4/2/2026). Saat itu, para korban tidak melapor terkait kondisi badan dan rasa menu MBG. Dugaan keracunan massal ini terungkap pada Kamis (5/2/2026) saat pihak sekolah mencurigai banyaknya siswa yang tidak masuk sekolah.
