Dugaan Perundungan di Balik Aksi Bom Molotov di SMPN 3 Sungai Raya

Dugaan Perundungan di Balik Aksi Bom Molotov di SMPN 3 Sungai Raya

Ocsya Ade CP - detikKalimantan
Rabu, 04 Feb 2026 13:01 WIB
Petugas memeriksa lokasi SMPN 3 Sungai Raya yang dilempari bom molotov.
Petugas memeriksa lokasi SMPN 3 Sungai Raya yang dilempari bom molotov. Foto: Dok. Istimewa
Kubu Raya -

Pelemparan bom molotov di SMPN 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar), diduga dilakukan oleh seorang siswa kelas IX. Siswa itu disebut kerap mengalami perundungan di lingkungan sekolah.

Aksi bom molotov tersebut diduga merupakan bentuk pelampiasan atau upaya balas dendam. Informasi ini disampaikan oleh seorang warga yang memiliki anggota keluarga bersekolah di SMP Negeri 3 Sungai Raya.

"Saya mendapat cerita dari keluarga yang sekolah di sana. Katanya, anak itu sering dibully. Karena itu dia membawa bom molotov dan melemparkannya ke kelas-kelas yang berisi anak-anak yang sering membully dia, katanya untuk balas dendam," ujar warga yang namanya enggan disebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kubu Raya Syarif Muhammad Firdaus Alkadrie belum bersedia memberikan komentar lebih jauh terkait dugaan perundungan tersebut. Ia menegaskan bahwa persoalan itu sepenuhnya menjadi kewenangan aparat penegak hukum.

"Untuk hal-hal lain seperti dugaan perundungan, kami belum bisa berkomentar banyak dan menyerahkannya sepenuhnya kepada pihak kepolisian," katanya.

Disdikbud Kubu Raya berharap proses penyelidikan segera memberikan kejelasan, sehingga aktivitas belajar mengajar di SMPN 3 Sungai Raya dapat kembali berjalan normal tanpa mengganggu keamanan dan kondisi psikologis peserta didik.

Pihak SMPN 3 Sungai Raya sendiri menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk sementara setelah insiden pelemparan bom molotov. Kebijakan ini diambil karena masih adanya rasa khawatir di kalangan siswa dan guru.

"Pihak sekolah memutuskan untuk mengalihkan kegiatan pembelajaran secara daring dari selama dua hari ke depan," kata Kepala SMP 3 Sungai Raya, Lily, Rabu (4/2/2026).

Sementara itu, Kapolda Kalbar Irjen Pipit Rismanto mengatakan, dari hasil pendalaman awal, aparat menemukan adanya tekanan psikologis yang cukup berat akibat kondisi keluarga.

"Secara keseharian di sekolah, anak ini berperilaku normal. Namun tekanan mental dari persoalan keluarga diduga menjadi faktor yang berkaitan dengan kejadian ini," ungkap Pipit kepada wartawan, Rabu (4/2/2026).



(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads