Jumlah Pengguna Internet Indonesia Terbaru, Demografi hingga Perilaku

Jumlah Pengguna Internet Indonesia Terbaru, Demografi hingga Perilaku

Rahmat Khairurizqi - detikKalimantan
Jumat, 30 Jan 2026 05:01 WIB
Ilustrasi jumlah pengguna internet di Indonesia.
Ilustrasi jumlah pengguna internet di Indonesia/Foto: Shutterstock
Jakarta -

Jumlah pengguna internet di Indonesia mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Laporan Profil Internet Indonesia 2025 dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat, pada semester I-2025 jumlah pengguna internet nasional mencapai 229,43 juta jiwa.

Mayoritas pengguna mengakses internet untuk media sosial, komunikasi, dan mencari informasi melalui perangkat mobile.

Sedangkan secara global, laporan Digital 2026 Global Overview Report dari We Are Social mencatat pengguna internet dunia telah melampaui 6 miliar orang atau 73,2 persen populasi global hingga Oktober 2025. Artinya, jumlah pengguna internet di Indonesia ada sekitar 3,82 persen pengguna dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengguna Internet Terus Bertambah

Jumlah pengguna internet naik dari sekitar 215 juta jiwa pada 2023 menjadi 221,5 juta jiwa pada 2024, lalu bertambah sekitar 8 juta pengguna pada 2025 hingga menembus 229,43 juta jiwa.

Penetrasi Internet RI Tembus 80,66%

Penetrasi internet nasional mencapai 80,66 persen, berdasarkan survei terhadap 8.700 responden di 38 provinsi. Angka ini terus meningkat dari 77,01 persen (2022), 78,19 persen (2023), dan 79,50 persen (2024), menandakan akses internet makin luas.

Gen Z dan Alpha Paling Aktif

Pengguna internet didominasi generasi muda. Generasi Z menyumbang 25,54 persen, diikuti Milenial 25,17 persen, dan Generasi Alpha 23,19 persen.

Akses Urban Masih Unggul, Rural Mengejar

Wilayah perkotaan mencatat penetrasi 83,56 persen, sementara pedesaan mencapai 76,96 persen. Kesenjangan terus menyempit seiring perluasan jaringan 4G dan fiber optik.

Sebagian masyarakat belum terkoneksi karena tidak memiliki perangkat (43,62 persen), tidak tahu cara menggunakan (40,77 persen), dan tidak melihat manfaat internet (3,24 persen).

Pendidikan dan Pendapatan Berpengaruh

Penetrasi internet tertinggi terdapat pada lulusan perguruan tinggi (91,27 persen) dan kelompok berpenghasilan di atas Rp 6 juta (91,47 persen). Sebaliknya, masyarakat tidak tamat SD (42,66 persen) dan berpenghasilan di bawah Rp 1 juta (70,73 persen) masih tertinggal.

Smartphone Jadi Andalan

Sebanyak 83,39 persen pengguna mengakses internet melalui smartphone. Laptop digunakan 11,42 persen, smart TV 2,52 persen, tablet 1,37 persen, dan desktop 1,27 persen.

Waktu Online Kian Panjang

Ilustrasi pengguna internet.Ilustrasi pengguna internet. Foto: Shutterstock

Mayoritas pengguna internet di Indonesia menghabiskan 4-6 jam per hari di internet (35,75 persen), diikuti durasi 1-3 jam (33,9 persen).

Media Sosial Jadi Daya Tarik Utama

Media sosial menjadi alasan utama penggunaan internet (24,8 persen), disusul akses berita (15,04 persen), transaksi online (14,95 persen), dan hiburan (14,68 persen).

TikTok dan YouTube Paling Populer

TikTok menjadi platform paling banyak digunakan (35,17 persen), disusul YouTube (23,76 persen), Facebook (21,58 persen), Instagram (15,94 persen), dan X/Twitter (0,52 persen).

Peluang dan Tantangan

Lonjakan pengguna internet membuka peluang besar di sektor digital, namun juga menghadirkan tantangan seperti keamanan siber, adiksi digital, dan kesenjangan literasi. APJII menegaskan internet kini menjadi kebutuhan utama, dengan pemerataan akses dan literasi digital sebagai pekerjaan rumah ke depan.

Prediksi Pengguna Internet RI Tahun 2028

Dilansir dari Statista, jumlah pengguna internet di Indonesia menunjukkan tren peningkatan konsisten sejak 2017. Pada tahun tersebut, pengguna internet tercatat sebanyak 143,26 juta orang, lalu melonjak signifikan menjadi 173,45 juta pada 2018 dan 187,41 juta pada 2019. Memasuki 2020, jumlahnya menembus 201,59 juta pengguna, menandai fase percepatan adopsi digital di masyarakat.

Pertumbuhan berlanjut pada periode berikutnya, dengan 213,09 juta pengguna pada 2021 dan 224,01 juta pada 2022. Tren kenaikan masih berlanjut pada 2023 dengan 233,73 juta pengguna, lalu meningkat menjadi 242,39 juta pada 2024. Ke depan, jumlah pengguna internet diproyeksikan mencapai 250,15 juta pada 2025, 257,12 juta pada 2026, 263,41 juta pada 2027, hingga 269,09 juta pengguna pada 2028, mencerminkan internet yang semakin melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Perkembangan Teknologi Internet

Perkembangan jaringan internet terutama, pada pengguna mobile, terus mengalami kemajuan seiring kebutuhan pengguna yang semakin kompleks. Dari awalnya hanya mendukung panggilan suara, teknologi seluler berkembang menjadi sarana utama untuk bekerja, berkomunikasi, hingga hiburan.

Evolusi ini dimulai dari 1G yang berbasis analog dan terbatas pada panggilan telepon, lalu berlanjut ke 2G yang menghadirkan teknologi digital, pesan singkat, serta akses internet awal melalui GPRS dan EDGE.

Kebutuhan kecepatan yang lebih tinggi melahirkan 3G dan turunannya yang memungkinkan video streaming dan video call, sebelum akhirnya 4G LTE menjadi jaringan paling dominan saat ini dengan kecepatan tinggi dan cakupan luas di Indonesia.

Sementara itu, 5G hadir sebagai generasi terbaru dengan kecepatan hingga 1 Gbps, meski pemanfaatannya masih bergantung pada kesiapan infrastruktur dan perangkat pendukung. Hingga kini, 4G masih menjadi tulang punggung konektivitas nasional, dengan 5G diproyeksikan mendorong percepatan transformasi digital ke depan.

Kecepatan Internet Indonesia 2025

Per Oktober 2025, kecepatan internet Indonesia menunjukkan peningkatan, meski masih tertinggal dibanding negara Asia Tenggara lainnya. Berdasarkan Speedtest Global Index (Ookla), kecepatan internet mobile Indonesia tercatat 49,30 Mbps, naik dari bulan sebelumnya dan menempatkan Indonesia di peringkat 79 dunia, hanya unggul dari Laos di kawasan regional.

Sementara itu, kecepatan fixed broadband Indonesia mencapai 42,79 Mbps dan berada di peringkat 115 dunia, juga mengalami kenaikan peringkat bulanan. Namun, secara regional Indonesia masih berada di papan bawah, tertinggal jauh dari negara seperti Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Target Pemerintah untuk Tingkatkan Kecepatan Internet

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan kecepatan internet Indonesia menembus 100 Mbps pada 2029, baik untuk mobile broadband maupun fixed broadband.

Adapun target ini tertuang dalam Renstra Komdigi 2025-2029 dan akan dicapai secara bertahap, didorong oleh optimalisasi jaringan 4G, perluasan 5G di wilayah prioritas, serta peningkatan kualitas layanan (quality of experience).

Untuk mobile broadband, kecepatan rata-rata nasional yang berada di 47,02 Mbps pada 2024 ditargetkan naik hingga 50 Mbps (2025) dan terus meningkat hingga 100 Mbps pada 2029. Sementara fixed broadband yang mencatat kecepatan 51,30 Mbps pada 2024 ditargetkan mencapai 100 Mbps pada 2029.

Peran Masyarakat Dorong Konektivitas Digital RI

Jumlah Pengguna Internet Indonesia Terbaru, Demografi hingga PerilakuIlustrasi penghargaan Apresiasi Konektivitas Digital/Foto: Shutterstock

Upaya pemerintah dalam mendorong transformasi digital di Indonesia tentunya tak dapat berjalan optimal tanpa peran aktif masyarakat. Untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam mendukung konektivitas digital, detikcom mengundang masyarakat untuk memberikan apresiasi terhadap individu, komunitas, dan lembaga inspiratif dalam acara 'Apresiasi Konektivitas Digital'.

Apresiasi Konektivitas Digital merupakan ajang penghargaan yang memberikan apresiasi kepada segenap insan, meliputi individu, komunitas, atau lembaga yang berperan penting dalam memperkuat konektivitas digital Indonesia.

Melalui penghargaan ini, detikcom akan menyoroti berbagai kisah inspiratif tentang dedikasi dan inovasi para tokoh dalam membuka akses teknologi hingga pelosok negeri. Selain sebagai bentuk apresiasi, 'Apresiasi Konektivitas Digital' juga memaparkan bukti upaya BAKTI Komdigi sebagai pelaksana program USO di Indonesia.

Cara Ajukan Nominasi Apresiasi Konektivitas Digital

Masyarakat bisa berpartisipasi dalam mendorong perluasan konektivitas digital dengan memberikan penghargaan kepada para tokoh yang telah berkontribusi mengerahkan pikiran dan tenaganya untuk memperluas jangkauan telekomunikasi di Tanah Air.

Caranya, cukup ajukan nama individu, komunitas, atau lembaga melalui detik.com/apresiasikonektivitasdigital. Anda dapat mengusulkan nama individu, komunitas, atau lembaga yang dinilai berkontribusi nyata dalam membuka akses teknologi dan informasi, terutama di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Form dapat diisi dengan data diri dan kategori nominasi yang sesuai untuk mendukung proses seleksi penerima penghargaan Apresiasi Konektivitas Digital di laman ini. Adapun form dapat diisi mulai dari 15 November - 31 Januari 2026.

Melalui ajang ini, diharapkan bisa mendorong lebih banyak kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dalam menghadirkan akses digital yang merata di seluruh Indonesia. Dengan konektivitas yang semakin merata, masyarakat di daerah 3T pun memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan bersaing di era digital. Dengan demikian, visi Indonesia Emas yang dicanangkan pemerintah juga dapat terwujud.

detikcom sebagai media masif akan menyorot berbagai kisah inspiratif tentang dedikasi dan inovasi dalam membuka akses teknologi hingga pelosok negeri melalui penghargaan 'Apresiasi Konektivitas Digital' yang merupakan ajang penghargaan yang memberikan apresiasi kepada segenap insan yang berperan penting dalam memperkuat konektivitas digital Indonesia.




(ega/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads