Ramadhan adalah bulan yang senantiasa dinantikan oleh setiap mukmin. Kehadirannya membawa keberkahan, ampunan, dan peluang emas untuk meningkatkan kualitas diri di hadapan Allah SWT.
Namun, menyambut Ramadhan tidak cukup hanya dengan kegembiraan semata. Diperlukan persiapan yang matang agar ibadah yang dijalankan dapat maksimal, antara lain dengan memperbanyak amalan.
Panduan Menyambut Ramadhan
Berikut panduan bagi umat Islam dalam menyambut bulan Ramadhan. Detikers bisa menambah aman dan melakukan sejumlah persiapan berikut ini:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Menata Hati dan Meluruskan Niat
Dikutip dari khutbah Jumat Wayan Bagus Prastyo, Pendidik di PUTM Yogyakarta dari situs Suara Muhammadiyah, langkah paling fundamental adalah persiapan rohani.
Kita harus membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang dapat merusak pahala, seperti riya' atau niat yang salah. Hati yang bersih harus dibarengi dengan niat yang ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
2. Berdoa Menyambut Ramadhan
Sejalan dengan menata hati, kita bisa memperkuatnya dengan doa agar Allah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan selamat dan penuh berkah.
Dikutip dari situs NU Jombang, doa yang dianjurkan untuk diperbanyak sejak bulan Rajab dan Sya'ban adalah:
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ
"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan."
3. Memperdalam Ilmu Agama
Agar Ramadhan tidak sia-sia, seorang muslim wajib membekali diri dengan ilmu (persiapan fikriyah). Dengan memahami hukum-hukum syariat terkait puasa, maka kita bisa memaksimalkan amalan selama bulan puasa.
Persiapan ini meliputi mempelajari kembali tata cara puasa yang benar, hal-hal yang membatalkan puasa, serta adab-adabnya. Dengan ilmu yang mumpuni, kita dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang berpotensi merusak nilai ibadah kita.
4. Melunasi Hutang Puasa
Sebelum memasuki 'medan juang' Ramadhan, ingat-ingat lagi apakah masih ada kewajiban puasa qadha yang belum dilunasi. Jika ada, maka wajib menggantinya sebelum melaksanakan kewajiban baru.
Perlu dipahami, hutang puasa sebaiknya dilunasi segera setelah bulan Ramadhan, tidak perlu menunggu sampai Ramadhan tahun selanjutnya. Puasa qadha ini hukumnya wajib, maka lebih didahulukan daripada puasa sunnah.
5. Memperbanyak Puasa
Bulan Sya'ban adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak puasa sunnah sebagai bentuk latihan fisik dan mental agar tubuh tidak kaget saat menjalani puasa wajib sebulan penuh.
Dalam buku Waktu-waktu Penuh Berkah: Khazanah Islam Klasik, disebutkan Rasulullah SAW berpuasa hampir sebulan penuh di bulan Syaban.
Abu Salamah RA menceritakan: "Aku bertanya kepada Aisyah RA tentang puasa Rasulullah SAW. Ia menjawab, 'Rasulullah SAW berpuasa sampai-sampai kami berkata, Beliau benar-benar berpuasa dan beliau juga tidak berbuka sampai-sampai kami berkata, Beliau benar-benar telah berbuka. Dan aku tidak pernah melihat Beliau berpuasa pada bulan Syaban. Yakni, Beliau SAW berpuasa pada bulan tersebut hampir semuanya (sebulan penuh)." (HR Muslim, Nasa'i, dan Ahmad)
6. Persiapan Fisik
Puasa memerlukan stamina yang prima. Oleh karena itu, persiapan jasadiyah (fisik) menjadi poin penting. Menjaga kesehatan dengan pola makan yang baik dan olahraga teratur sebelum Ramadhan akan sangat membantu kelancaran ibadah.
7. Persiapan Materi
Selain fisik dan mental, diperlukan juga persiapan maliyah (materi). Bukan untuk bermewah-mewahan dalam berbuka, melainkan menyisihkan harta untuk memperbanyak sedekah, infaq, dan memberi makan orang yang berbuka puasa selama bulan Ramadhan.
8. Mengucapkan Taniah
Sesama muslim dianjurkan mengucapkan taniah, selamat atas datangnya Ramadhan. Masyarakat biasanya sekaligus meminta maaf atas kesalahan agar jiwa betul-betul bersih dalam melaksanakan ibadah Ramadhan. Rasulullah saw bersabda:
قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ مُبَارَكٌ، اُفْتُرِضَ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ، تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ
Artinya, "Sungguh telah datang kepada kalian bulan mulia. Diwajibkan kepada kalian puasanya, di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka dikunci, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada malam yang lebih baik daripada 1000 malam. Siapa saja yang terhalang dari kebaikannya, maka ia terhalang dari kebaikan." (HR Ahmad dan An-Nasai).
9. Menyusun Target Ibadah
Agar Ramadhan tidak berlalu begitu saja, disarankan untuk melakukan persiapan amaliyah, yaitu menyusun target-target konkret yang ingin dicapai. Contoh target yang bisa dicanangkan antara lain:
- Mengkhatamkan Al-Qur'an minimal satu kali.
- Menjaga shalat berjamaah dan shalat tarawih.
- Target sedekah harian.
Adanya target yang jelas akan memacu semangat kita untuk mengisi setiap detik Ramadhan dengan kegiatan yang bernilai pahala.
Nah, Ramadhan adalah hanya datang setahun sekali. Untuk itu, kita perlu mengintegrasikan persiapan iman (ruhiyah), ilmu (fikriyah), fisik (jasadiyah), dan amal nyata sebagaimana diuraikan di atas, supaya dapat menjalani Ramadhan tahun ini dengan kualitas terbaik.
Mari kita sambut bulan mulia ini dengan kesiapan penuh, seraya memohon kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan untuk mengisinya dengan amal shaleh dan menerima segala ibadah kita.
