Bulan Syaban adalah bulan penghubung karena posisinya berada di antara dua bulan besar dalam Islam, yaitu Rajab dan Ramadan. Posisinya penting dan dinantikan, terutama di pertengahan Syaban yang dikenal sebagai malam Nisfu Syaban.
Bulan Syaban terutama pada Nisfu Syaban adalah sebuah malam yang dikenal memiliki keutamaan. Dalam berbagai penjelasan ulama, termasuk yang disampaikan oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), bulan Syaban disebut sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia, padahal Rasulullah SAW sangat memuliakannya.
Bulan ini menjadi bulan penting setelah banyak mengisi ibadah di bulan Rajab dan sebelum memasuki puncak ibadah di bulan Ramadan. Di bulan inilah umat Islam dianjurkan mulai menata diri, memperbanyak amalan sunnah, serta menyiapkan hati dan fisik agar siap menyambut Ramadan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
NU menjelaskan bahwa Syaban istimewa karena menjadi bulan pengangkatan amal, bulan diperbanyaknya puasa sunnah oleh Rasulullah SAW, serta bulan yang di dalamnya terdapat malam Nisfu Syaban, yang oleh banyak ulama dipandang sebagai momen untuk memperbanyak doa, beristighfar, dan berefleksi.
Karena itulah, Syaban adalah bulan persiapan yang sengaja Allah letakkan sebelum Ramadan, agar umat Islam tidak masuk ke bulan suci dalam keadaan kosong, tetapi dengan hati yang sudah terlatih dan amal yang mulai tumbuh.
Karena menjadi bulan yang istimewa, terdapat banyak keutamaan di bulan Syaban. Berikut lima di antaranya.
Bulan yang Dimuliakan Rasulullah SAW
Pertama, bulan Syaban dikenal sebagai bulan yang sangat dicintai Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering berpuasa di bulan ini lebih banyak dibandingkan bulan lainnya selain Ramadan.
Dalam sebuah hadis, Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sangat sering berpuasa di bulan Syaban. Ia berkata:
ΩΩΨ§ΩΩ Ψ±ΩΨ³ΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩΩΩΩ ο·Ί ΩΩΨ΅ΩΩΩ Ω ΨΩΨͺΩΩΩ ΩΩΩΩΩΩΩ ΩΩΨ§ ΩΩΩΩΨ·ΩΨ±ΩΨ ΩΩΩΩΩΩΨ·ΩΨ±Ω ΨΩΨͺΩΩΩ ΩΩΩΩΩΩΩ ΩΩΨ§ ΩΩΨ΅ΩΩΩ ΩΨ ΩΩΩ ΩΨ§ Ψ±ΩΨ£ΩΩΩΨͺΩ Ψ±ΩΨ³ΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩΩΩΩ ο·Ί Ψ§Ψ³ΩΨͺΩΩΩΩ ΩΩΩ Ψ΅ΩΩΩΨ§Ω Ω Ψ΄ΩΩΩΨ±Ω Ψ₯ΩΩΩΩΨ§ Ψ±ΩΩ ΩΨΆΩΨ§ΩΩΨ ΩΩΩ ΩΨ§ Ψ±ΩΨ£ΩΩΩΨͺΩΩΩ Ψ£ΩΩΩΨ«ΩΨ±Ω Ψ΅ΩΩΩΨ§Ω ΩΨ§ Ω ΩΩΩΩΩ ΩΩΩ Ψ΄ΩΨΉΩΨ¨ΩΨ§ΩΩ.
Artinya:
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Rasulullah SAW biasa berpuasa hingga kami mengira beliau tidak berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengira beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain pada bulan Ramadan. Dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa sunnah lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Syaban."
(HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
Hadis ini menjadi dalil bahwa bulan Syaban memiliki keutamaan khusus, karena Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunnah di bulan ini melebihi bulan-bulan lainnya selain Ramadan.
Selain itu, terdapat pula hadis lain yang menjelaskan alasan Rasulullah SAW memperbanyak puasa di bulan Syaban, sebagaimana diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma:
"Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, yaitu antara Rajab dan Ramadan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin ketika amalku diangkat, aku sedang berpuasa."
(HR. An-Nasa'i no. 2357, dinilai hasan)
Hadis ini menegaskan bahwa posisi Syaban yang berada di antara Rajab dan Ramadan justru menjadikannya istimewa karen menjadi waktu pengangkatan amal dan bulan yang dimuliakan Rasulullah SAW, meskipun sering diabaikan oleh banyak orang.
Bulan Para Ahli Al-Qur'an (Syahrul Qurra')
Bulan Syaban juga dikenal dengan sebutan Syahrul Qurra' atau bulan para ahli Al-Qur'an. Dikutip dari Kementerian Agama RI, dalam bulan Syaban para salaf terdahulu memanfaatkan waktu untuk memperbanyak membaca Al-Qur'an, sehingga banyak dari mereka menyebut bulan ini sebagai Syahrul Qurra'.
Sementara itu, disebutkan bahwa di kalangan ulama dan para salaf istilah Syahrul Qurra'digunakan karena kaum Muslimin zaman dahulu gemar memfokuskan diri pada tadarus Al-Qur'an di bulan Syaban. Misalnya, sebagian ulama seperti Amr bin Qais al-Mula'iy dikisahkan menutup tokonya dan memusatkan seluruh waktunya untuk membaca Al-Qur'an saat Syaban tiba.
Oleh karena itu, umat Islam juga menghidupkan bulan ini dengan memperbanyak kembaca Al-Qur'an dan mengamalkannya dalam keseharian.
Bulan Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW
Salah satu keutamaan lain dari bulan Syaban adalah anjuran untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW. Anjuran ini bersumber langsung dari perintah Allah SWT dalam Al-Qur'an, sebagaimana diwahyukan dalam Surat Al-Ahzab ayat 56:
Ψ₯ΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩΩΩΩ ΩΩΩ ΩΩΩΨ§Ψ¦ΩΩΩΨͺΩΩΩΫ₯ ΩΩΨ΅ΩΩΩΩΩΩΩ ΨΉΩΩΩΩ Ω±ΩΩΩΩΨ¨ΩΩΩΩ Ϋ ΩΩΩΩ°ΩΨ£ΩΩΩΩΩΩΨ§ Ω±ΩΩΩΨ°ΩΩΩΩ Ψ‘ΩΨ§Ω ΩΩΩΩΨ§Ϋ Ψ΅ΩΩΩΩΩΨ§Ϋ ΨΉΩΩΩΩΩΩΩ ΩΩΨ³ΩΩΩΩΩ ΩΩΨ§Ϋ ΨͺΩΨ³ΩΩΩΩΩ ΩΨ§
Artinya:
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."
(QS. Al-Ahzab: 56)
Ayat ini menjadi alasan utama bahwa shalawat adalah ibadah yang secara langsung diperintahkan oleh Allah SWT kepada orang-orang beriman. Karena itu, para ulama menganjurkan agar shalawat diperbanyak, terutama pada waktu-waktu yang mulia, salah satunya di bulan Syaban.
Shalawat sendiri fungsinya sebagai cara untuk membersihkan hati, menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW, serta memperkuat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT sebelum memasuki bulan Ramadan yang penuh berkah.
Bulan Merawat Tanaman Amal
Para ulama sering mengibaratkan bulan Syaban sebagai waktu untuk memupuk dan merawat tanaman amal yang benihnya telah ditanam pada bulan Rajab, lalu nanti akan dipanen di bulan Ramadan.
Perumpamaan ini menggambarkan sebuah proses yang berkesinambungan, bahwa ibadah dalam Islam tidak berdiri sendiri, melainkan dibangun secara bertahap dari waktu ke waktu.
Sementara Rajab adalah bulan menanam niat dan memulai kebiasaan baik, maka Syaban dihidupkan sebagai bulan untuk memeliharanya. Di bulan inilah umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan sunnah seperti puasa, membaca Al-Qur'an, memperbanyak shalawat, sedekah, dan istighfar.
Semua amalan tersebut ibarat pupuk yang menyuburkan tanaman amal, agar ketika memasuki bulan Ramadan, ibadah tidak terasa berat, melainkan sudah menjadi kebiasaan.
Bulan Diangkatnya Amal-Amal Manusia
Salah satu keistimewaan bulan Syaban yang tidak kalah penting adalah diangkat dan dilaporkannya amal-amal manusia kepada Allah SWT. Keutamaan ini juga dijelaskan langsung oleh Rasulullah SAW yang menaruh perhatian khusus pada bulan Syaban karena menjadi waktu pengangkatan amal.
Seperti dijelaskan dalam riwayat dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma. Ia berkata:
ΨΉΩΩΩ Ψ£ΩΨ³ΩΨ§Ω ΩΨ©Ω Ψ¨ΩΩΩ Ψ²ΩΩΩΨ―Ω ΩΩΨ§ΩΩ ΩΩΩΩΨͺΩ ΩΩΨ§ Ψ±ΩΨ³ΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩΩΩΩ ΩΩΩ Ω Ψ£ΩΨ±ΩΩΩ ΨͺΩΨ΅ΩΩΩ Ω Ω ΩΩΩ Ψ΄ΩΩΩΨ±Ω Ω ΩΨ§ ΨͺΩΨ΅ΩΩΩ Ω Ω ΩΩΩ Ψ΄ΩΨΉΩΨ¨ΩΨ§ΩΩΨ ΩΩΩΩΨ§ΩΩ Ψ°ΩΩΩΩΩ Ψ΄ΩΩΩΨ±Ω ΩΩΨΊΩΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩΩΨ§Ψ³Ω ΨΉΩΩΩΩΩ Ψ¨ΩΩΩΩΩ Ψ±ΩΨ¬ΩΨ¨Ω ΩΩΨ±ΩΩ ΩΨΆΩΨ§ΩΩΨ ΩΩΩΩΩΩ Ψ΄ΩΩΩΨ±Ω ΨͺΩΨ±ΩΩΩΨΉΩ ΩΩΩΩΩ Ψ§ΩΨ£ΩΨΉΩΩ ΩΨ§ΩΩ Ψ₯ΩΩΩΩ Ψ±ΩΨ¨ΩΩ Ψ§ΩΩΨΉΩΨ§ΩΩΩ ΩΩΩΩΨ ΩΩΨ£ΩΨΩΨ¨ΩΩ Ψ£ΩΩΩ ΩΩΨ±ΩΩΩΨΉΩ ΨΉΩΩ ΩΩΩΩ ΩΩΨ£ΩΩΩΨ§ Ψ΅ΩΨ§Ψ¦ΩΩ Ω
Artinya:
"Usamah bin Zaid berkata: Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa dalam satu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Syaban.' Beliau bersabda: 'Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, yaitu antara Rajab dan Ramadan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin ketika amalku diangkat, aku sedang berpuasa.'"
(HR. An-Nasa'i no. 2357)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW secara sadar memperbanyak puasa dan ibadah di bulan Syaban karena keistimewaannya sebagai bulan pengangkatan amal. Oleh sebab itu, para ulama menganjurkan umat Islam untuk memanfaatkan bulan Syaban dengan memperbanyak amalan sunnah seperti puasa, dzikir, membaca Al-Qur'an, memperbanyak shalawat, dan doa.
Oleh karena itu, Syaban menjadi bulan untuk evaluasi dan memperbaiki diri, sebelum memasuki Ramadan sebagai puncak ibadah. Umat Islam diajak untuk memastikan bahwa ketika amal mereka diangkat kepada Allah SWT, mereka berada dalam keadaan hati yang bersih, niat yang lurus, dan kedekatan yang lebih kuat dengan-Nya.
Semoga kita diberikan kekuatan dan kelapangan dalam menjalankan setiap ibadah di bulan Syaban hingga bulan Ramadan yang akan datang.
(des/des)
