Doa Malam Isra Mikraj 27 Rajab, Berharap Terkabul Segala Hajat

Doa Malam Isra Mikraj 27 Rajab, Berharap Terkabul Segala Hajat

Suki Nurhalim - detikKalimantan
Kamis, 15 Jan 2026 16:40 WIB
Ilustrasi Berdoa.
Ilustrasi berdoa/Foto: Freepik
Balikpapan -

Isra Mikraj jatuh pada Jumat (16/1/2026), bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1447 H. Jadi, kapan waktunya membaca doa malam Isra Mikraj?

Doa malam Isra Mikraj bisa dibaca mulai habis magrib pada Kamis (15/1/2026). Sebab dalam kalender Hijriah, pergantian hari dimulai saat matahari tenggelam.

Berikut ini doa yang bisa dibaca di malam Isra Mikraj seperti yang diterangkan Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop, Bangkalan, Jawa Timur, Ustaz Sunnatullah dalam situs NU Online.

Doa Malam Isra Mikraj:

Arab:

اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبِّيْنَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ حِيْنَ أَسْرَيْتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ أَنْ تَرْحَمَ قَلْبِيَ الْحَزِيْنَ وَتُجِيْبَ دَعْوَتِيْ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ

Latin:

Allāhumma innī as'aluka bi musyāhadati asrāril muhibbīn, wa bil khalwatil latī khashshashta bihā sayyidal mursalīn hīna asraita bihī lailatas sābi'i wal 'isyrīn an tarhama qalbiyal hazīna wa tujība da'watī yā akramal akramīn.

Artinya:

Ya Allah, dengan keagungan diperlihatkannya rahasia-rahasia orang-orang pecinta, dan dengan kemuliaan khalwat (menyendiri) yang hanya Engkau khususkan kepada pimpinan para rasul, ketika Engkau memperjalankannya pada malam 27 Rajab, sungguh aku memohon kepada-Mu agar Kaumerahmati hatiku yang sedih dan Kau mengabulkan doa-doaku, wahai Yang Maha Memiliki kedermawanan.

Menurut Ustaz Sunnatullah, tidak ada yang lebih baik dalam menjalani malam 27 Rajab selain memperbanyak ibadah kepada Allah. Salah satu amaliah yang dapat dilakukan pada malam 27 Rajab adalah berdoa kepada Allah.

Doa di atas dijelaskan Syekh Muhammad bin Abdullah bin Hasan al-Halabi al-Qadiri. Dalam kitabnya, beliau menyebut doa tersebut memiliki khasiat yang luar biasa.

Arab:

مَنْ قَرَأَ بِهَذَا الدُّعَاءِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ مِنْ رَجَبَ ثُمَّ يَسْأَلُ الله حَاجَتَهُ فَاِنَّهَا تُقْضَى بِاِذْنِ اللهِ

Artinya:

Barang siapa yang membaca doa ini pada malam 27 Rajab, kemudian meminta kepada Allah (untuk dipenuhi) kebutuhannya, maka akan dipenuhi kebutuhannya dengan izin Allah. (Abdullah al-Halabi, Nurul Anwar wa Kanzul Abrar fi Dzikris Shalati 'alan Nabi al-Mukhtar, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt], halaman 38).

Faedah Membaca Doa Malam Isra Mikraj:

Dalam salah satu kitabnya, Syekh Abdurrahman bin Abdussalam as-Syafi'i (wafat 893 H) menjelaskan faedah dari doa tersebut. Menurut beliau, siapa saja yang membacanya pada 27 Rajab, kemudian menyebutkan hajatnya kepada Allah, maka Allah akan mengabulkan segala hajatnya, melapangkan urusannya, dan menghidupkan hatinya ketika hati-hati manusia sudah mulai mati. (Syekh Abdurrahman, Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafaiz, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: 1999], juz I, halaman 94).

Tata Cara Membaca Doa Malam Isra Mikraj:

1. Salat sunah dua rakaat sebagaimana salat sunah pada umumnya. Dalam salat tersebut, dianjurkan membaca surah Al-Ikhlas setelah membaca surah Al-Fatihah di rakaat pertama dan kedua.

2. Membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak 10 kali.

3. Membaca doa tersebut, kemudian menyebutkan segala hajat.

Sekilas Sejarah Isra Mikraj

Dalam KBBI dijelaskan Isra Mikraj merupakan peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa, langsung ke Sidratulmuntaha (di langit ketujuh) pada malam hari yang menghasilkan perintah salat lima waktu.

Ada satu tempat paling penting dalam perjalanan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Sidratul Muntaha adalah tempat penting itu.

Menariknya, tempat itu hanya disebutkan sekali secara eksplisit dalam Al-Qur'an, yaitu pada Surat An-Najm ayat 13-14, sebagai lokasi di mana Rasulullah SAW mencapai titik tertinggi dalam perjalanan Isra Mikraj.

Peristiwa ini terjadi pada malam 27 Rajab pada tahun ke-10 atau ke-11 kenabian. Dikutip dari NU Online, sidrat berarti pohon bidara, sedangkan muntaha berarti 'batas akhir'.

Sidratul Muntaha berarti pohon bidara di batas terakhir, suatu batas yang tidak dapat dilampaui makhluk ciptaan Allah selain Rasulullah SAW. Ia berada di langit ketujuh, di ambang wilayah yang hanya Allah yang Maha Mengetahui hakikatnya.

Dalam tafsir disebutkan pohon itu memiliki daun sebesar telinga gajah dan buah yang sangat besar, menandakan kemuliaannya. Uraian lain menyatakan jika selembar daunnya diletakkan di bumi, permukaan bumi akan bersinar.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Menyusuri Perjalanan ke Labuan Cermin di Berau dengan Menggunakan Perahu yang Menyenangkan "
[Gambas:Video 20detik]
(sun/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads