Dampak Demo Iran bagi Indonesia Menurut Pakar Hubungan Internasional

Internasional

Dampak Demo Iran bagi Indonesia Menurut Pakar Hubungan Internasional

Anggi Muliawati - detikKalimantan
Kamis, 15 Jan 2026 11:30 WIB
Iranians attend a pro-government rally in Tehran, Iran, January 12, 2026. Stringer/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY      TPX IMAGES OF THE DAY
Demonstrasi di Iran. Foto: via REUTERS/Stringer
Jakarta -

Ketegangan yang terjadi Iran tak cuma berdampak untuk dalam negeri mereka, tapi juga berimbas ke ranah global. Pakar pun menilai Indonesia bisa ikutan kena getahnya.

Mengutip detikNews, analisis situasi terkini Iran dan dampaknya bagi Indonesia disampaikan oleh Dosen Hubungan Internasional President University, Teuku Rezasyah. Hingga kini, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus melakukan intervensi dengan mendorong warga Iran untuk melakukan demonstrasi.

"Iran adalah negara yang berdaulat. Karena itu, dukungan Amerika Serikat atas kelompok-kelompok demonstran di Iran adalah pelanggaran terhadap prinsip-prinsip fundamental hukum internasional, terutama prinsip non-intervensi dan penghormatan terhadap kedaulatan negara," jelas Rezasyah, Kamis (15/1/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Piagam PBB Pasal 2 Ayat 4 menyebutkan dengan jelas bahwa negara tidak boleh menggunakan kekuatan terhadap integritas kemerdekaan politik negara lain. Rezasyah menyebut tindakan AS telah menyalahi aturan ini dengan melanggar kedaulatan Iran.

"Sanksi ekonomi yang melumpuhkan Iran, ancaman intervensi militer, dan janji untuk mendatangkan bantuan langsung bagi para demonstran jelas-jelas melanggar kedaulatan Iran," paparnya.

AS diketahui berupaya mengamankan akses minyak dari Iran ke seluruh dunia. Namun, tindakan ini berpotensi menjadi tradisi buruk dalam hubungan antarbangsa.

Apabila demonstrasi di Iran terus berlanjut, kata Rezasyah, ada potensi dampak yang harus diwaspadai termasuk oleh Indonesia. Rezasyah menjelaskan Indonesia memang bukan negara nonblok, tetapi tetap ada risiko terseret dalam ketegangan geopolitik energi. Ketegangan ini akan berdampak ke ketahanan ekonomi nasional.

"Sebagai negara Nonblok dan anggota G20, walaupun Indonesia tidak bersekutu dengan kelompok militer di dunia dan menempatkan dirinya sebagai tidak berpihak, namun tetap rentan terhadap konsekuensi ekonomi global, termasuk di sektor energi," jelas Rezasyah.

Kembali ia menegaskan bahwa ketegangan geopolitik global rentan memperlemah ketahanan energi Indonesia. Situasi yang tidak kondusif ini akan memengaruhi biaya impor minyak dan elpiji Indonesia.

"Walaupun Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar dan kekayaan mineral penting (seperti nikel, bauksit, dan tembaga), namun untuk mencapai level teknologi energi bersih, Indonesia sangat membutuhkan investasi besar dari Amerika Serikat dan Uni Eropa, sehingga Indonesia rentan terhadap tekanan sistem perdagangan global," tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, gelombang unjuk rasa mengguncang Iran sejak 28 Desember, bermula di area Grand Bazaar Teheran. Kala itu para demonstran, yang sebagian besar pedagang dan pemilik toko, memprotes soal memburuknya kondisi ekonomi, dengan mata uang riyal Iran mengalami depresiasi tajam.

Demonstrasi ini menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Menurut data terbaru kelompok hak asasi manusia (HAM), HRANA, sedikitnya 2.571 orang tewas, yang sebagian besar disebut akibat penindakan keras oleh otoritas Iran terhadap demonstran. Aksi protes masih meluas ke beberapa kota lainnya.

Baca selengkapnya di sini.



(des/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads