Sebanyak tujuh insinerator di Kota Samarinda telah rampung 100 persen. Fasilitas pengolahan sampah tersebut menjadi bagian dari total 10 insinerator yang dibangun Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah perkotaan.
"Totalnya ada 10 insinerator, dan tujuh sudah selesai dibangun 100 persen. Tinggal beberapa titik yang perlu masuk listrik dan air sebagai pelengkap," ucap Ketua Tim Wali Amanat Program (TWAP) Pemkot Samarinda, Safarudin, Rabu (14/1/2026)
Safarudin menjelaskan bahwa keberadaan jaringan air menjadi bagian penting dari sistem insinerator karena gas buang dari proses pembakaran dialirkan ke dalam air, sehingga tidak menimbulkan polusi udara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, akses jalan menuju lokasi insinerator juga menjadi perhatian utama. Dari hasil peninjauan di lapangan menunjukkan sejumlah insinerator memiliki jarak cukup jauh dari jalan utama.
Sebagai contoh lanjutnya, di Kelurahan Tani Aman misalnya, akses menuju lokasi mencapai 300 hingga 400 meter. Kondisi serupa juga ditemui di kawasan Baqa serta sekitar Stadion Kelurahan Simpang Pasir.
"Ada yang 200 meter, ada yang 300 meter sampai 400 meter," jelasnya.
Untuk percepatan, Pemkot Samarinda melakukan langkah jangka pendek berupa pengerasan jalan dengan batu, terutama pada jalur yang masih lembek atau becek. Langkah ini dilakukan agar kendaraan pengangkut sampah dapat masuk tanpa hambatan, sementara pengecoran jalan direncanakan sebagai solusi jangka panjang.
"Kalau akses ini sudah selesai, insinerator bisa langsung berfungsi. Sampah sudah boleh masuk," katanya.
Meski demikian, sebelum dioperasikan secara penuh, para tenaga operator akan terlebih dahulu mengikuti pelatihan teknis. Safarudin optimistis seluruh pekerjaan pendukung dapat dirampungkan dalam waktu dekat.
"Saya kira satu sampai dua minggu ke depan semuanya bisa selesai. Setelah itu, para wali akan meresmikan dan tim operator mulai bekerja," tambahnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda Suwarso menjelaskan bahwa tiga insinerator yang masih berproses berada di Kelurahan Baqa, Handil Bakti, dan Tani Aman.
"Yang mengalami keterlambatan pertama di Baqa karena proses pembebasan lahan yang membutuhkan penanganan khusus. Kemudian di Handil Bakti juga ada kendala lahan, tapi sekarang sudah berproses," ungkapnya.
Untuk insinerator di Tani Aman, kendala utama terletak pada kebutuhan infrastruktur tambahan seperti akses jalan, ketersediaan air, dan jaringan listrik. Seluruh kebutuhan tersebut masih berjalan dalam satu paket pekerjaan. Ia memastikan progres pembangunan di tiga titik tersebut saat ini telah mencapai sekitar 60 hingga 70 persen dan seluruh lahan sudah aman dan tidak lagi menjadi kendala.
"Kita ingin kehadiran insinerator ini clear, baik dari isu lingkungan maupun sosial," jelasnya.
(des/des)
