Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Nasrullah menilai candaan atau ucapan Gubernur Kalsel Muhidin mengenai penanganan banjir dengan cara pemindahan hujan adalah tidak tepat. Ia bahkan menyebut ucapan itu bisa bersifat nirempati bagi korban banjir.
"Kepercayaan masyarakat akan tergerus akibat pernyataan publik atau kepala daerah yang demikian," ungkapnya pada detikKalimantan, Kamis (8/1/2026).
Ia mengatakan bahwa ucapan itu bisa menjadi penyederhanaan dari solusi banjir yang saat ini dibutuhkan masyarakat dan mendekati sikap nirempati atau jauh dari solusi saintis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini juga bisa berdampak pada munculnya mitos yang nantinya dikhawatirkan bisa menuai kontroversi di kalangan masyarakat.
"Joke atau candaan yang dilempar itu disampaikan pada momen yang tidak tepat. Adapun ucapan itu bisa menciptakan mitos baru," sebut Nasrullah.
Diberitakan sebelumnya, Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin menuai kritikan usai memberikan jawaban kontroversial soal banjir di beberapa wilayah. Pada Minggu (4/1) lalu, Muhidin memberikan sambutan dalam acara peringatan Hari Jadi Barito Kuala. Dalam sambutan itu, Muhidin menyebutkan bahwa hujan yang menyebabkan banjir bisa dialihkan dengan memperbanyak acara.
"Kita ini menghadapi cuaca yang ekstrem. Biasanya ini pada bulan Januari, habis bulan Januari mudah-mudahan kita aman. Tetapi untuk di bulan Januari ini mudah-mudahan seperti ini terus, bila ada acara orang memindah hujan, jadi banyaki acara aja sudah kita," ujar Muhidin.
Selain itu, diakhir kalimat Muhidin turut menyebutkan bahwa jika bisa acara juga diadakan di gunung-gunung, agar hujan bisa dipindahkan ke tempat lain. Sebab sebutnya, pada acara Harjad Batola itu sempat mendung namun akhirnya tidak jadi hujan.
Sontak, pernyataan Muhidin itupun ramai diperbincangkan di sosial media. Banyak warga Banjarmasin yang menyayangkan ucapan seorang Gubernur yang tak empati terhadap kondisi warganya.
(bai/bai)
