Kenali Bahaya Jika Keseringan Curhat ke AI Saat Sedih

Kenali Bahaya Jika Keseringan Curhat ke AI Saat Sedih

Adi Fida Rahman - detikKalimantan
Selasa, 06 Jan 2026 15:01 WIB
Ilustrasi Curhat ke AI
Ilustrasi Curhat ke AI. Foto: detikINET via Gemini Nano Banana
Balikpapan -

Kecerdasan buatan (AI) mulai mengambil peran yang jauh lebih personal. Rupanya di Indonesia, tiga dari sepuluh orang Indonesia mengaku memilih berbicara dengan AI saat merasa sedih atau tidak bahagia.

Dikutip dari detikInet, AI tak hanya diposisikan sebagai asisten digital, tetapi juga sebagai teman curhat virtual, terutama di kalangan generasi muda. Para ahli Kaspersky memperingatkan bahwa ketergantungan berlebih pada AI dapat mengancam keamanan data pribadi.

Dalam survei global Kaspersky yang melibatkan ribuan responden dari berbagai negara, Indonesia mencatat angka cukup tinggi dalam penggunaan AI sebagai pendamping emosional. Sebanyak 31% pengguna AI di Indonesia mempertimbangkan berbicara dengan AI ketika sedang sedih, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketertarikan paling tinggi terlihat pada Generasi Z dan milenial, kelompok yang sejak lama akrab dengan teknologi dalam keseharian mereka. Bagi generasi ini, AI dipandang cepat merespons, selalu siap digunakan, dan tidak menghakimi. Hal ini terkadang sulit ditemukan dalam interaksi sosial nyata.

Sebaliknya, minat dari kelompok usia yang lebih senior cenderung jauh lebih rendah. Hanya sebagian kecil responden berusia di atas 55 tahun yang mengaku tertarik menjadikan AI sebagai media untuk mencurahkan perasaan.

Kemampuan AI modern untuk merespons secara personal membuatnya terasa "manusiawi". Model AI generatif mampu merangkai kalimat empatik, memberi saran, hingga menenangkan pengguna. Hal inilah yang membuat sebagian orang merasa nyaman berbicara dengan AI saat sedang tertekan atau kesepian.

Namun, di balik kenyamanan tersebut, pakar keamanan siber Kaspersky mengingatkan adanya risiko serius yang sering diabaikan pengguna. Pasalnya komunikasi dengan AI bukanlah interaksi pribadi yang sepenuhnya aman. Sebagian besar chatbot AI dimiliki oleh perusahaan komersial yang memiliki kebijakan pengumpulan dan pemrosesan data sendiri.

Percakapan bernuansa emosional berisiko dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, mulai dari menganalisis kondisi psikologis pengguna, membentuk profil perilaku digital, hingga menargetkan iklan secara lebih agresif. Dalam skenario terburuk, data tersebut bahkan bisa disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

"AI belajar dari data, sebagian besar berasal dari internet. Artinya, ia bisa mengulang bias, kesalahan, dan asumsi yang keliru. Pengguna perlu bersikap kritis dan tidak menganggap AI sebagai pengganti manusia," ujar Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center.

Para pakar menegaskan bahwa mencurahkan perasaan kepada AI tidak setara dengan berbicara kepada psikolog atau orang terdekat. Informasi yang dibagikan mulai dari kondisi emosional, persoalan pribadi, hingga data sensitif berpotensi tersimpan di server pihak ketiga.

Jika tidak berhati-hati, data tersebut bisa dimanfaatkan untuk Phishing dan penipuan berbasis emosi, pemerasan digital, penyalahgunaan identitas dan manipulasi perilaku pengguna




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads