6 Tahun Merokok dan Sering Begadang, Pria Ini Alami Stroke di Usia Muda

6 Tahun Merokok dan Sering Begadang, Pria Ini Alami Stroke di Usia Muda

Sarah Oktaviani Alam - detikKalimantan
Selasa, 06 Jan 2026 07:01 WIB
Ilustrasi stroke
Ilustrasi stroke. Foto: Getty Images/iStockphoto/designer491
Balikpapan -

Pria berusia 23 tahun yang tak disebutkan namanya, mengalami stroke iskemik. Pasien di Kota Can Tho, Vietnam ini tidak memiliki riwayat penyakit penyerta, namun dokter menduga kebiasaan merokok dan sering tidur larut malam menjadi faktor utama pemicu kondisi tersebut.

Bermula dari pasien dibawa ke Rumah Sakit Umum Layanan Internasional Stroke Can Tho, setelah ditemukan dalam kondisi mengantuk disertai kelumpuhan sebagian tubuh. Setelah dilakukan pemeriksaan, tim medis memastikan pria tersebut mengalami stroke iskemik.

Dikutip detikHealth dari VNExpress, dokter di rumah sakit mendapat keterangan dari keluarga, diketahui pasien memiliki kebiasaan merokok selama enam tahun dan sering begadang. Hal ini menjadi pengaruh meski pasien tidak memiliki faktor risiko stroke yang umum, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dislipidemia, obesitas, malformasi pembuluh darah, maupun fibrilasi atrium.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini faktor-faktor yang diam-diam, tetapi berbahaya yang mempercepat penuaan pembuluh darah, menyebabkan aterosklerosis, dan meningkatkan risiko stroke, bahkan pada usia yang sangat muda," kata Dr To Van Tan, wakil kepala departemen ICU dan anestesiologi rumah sakit.

Dokter kemudian melakukan intervensi pada pasien. Berdasarkan hasil angiogram otak, ditemukan adanya penyumbatan pada arteri serebral tengah yang diduga kuat menjadi penyebab stroke.

Tim medis kemudian segera melakukan trombektomi mekanik darurat. Prosedur tersebut berhasil membersihkan pembuluh darah yang tersumbat, sekaligus membatasi kerusakan otak lebih lanjut.

Dr Tan melihat kasus stroke pada usia muda kini semakin sering terjadi, terutama dipicu gaya hidup tidak sehat. Faktor-faktor seperti merokok, stres kronis, kurang tidur, hingga penggunaan stimulan disebut berkontribusi besar.

Menurut Dr Tan, tren ini tergolong mengkhawatirkan karena stroke pada usia muda kerap diremehkan, sehingga penanganannya terlambat. Akibatnya, risiko dampak jangka panjang menjadi lebih besar.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads