Banjir hingga paha orang dewasa terjadi di Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Hal ini membuat warga Banjar harus mengungsi. Salah satunya warga bernama Eva.
Eva menuturkan bahwa banjir di rumahnya sudah mencapai paha orang dewasa, sehingga ia memilih untuk mengamankan dua anaknya yang masih kecil bersama suaminya mengungsi di tenda pengungsian di Desa Sungai Tabuk Keramat bersama ratusan pengungsi lainnya.
"Airnya di rumah udah sepaha, jadi harus mengungsi sama anak. Sudah dari tahun baru di sini, karena emang tidak ada pilihan lain. Mau bertahan di rumah juga susah aksesnya, jadi memilih mengungsi di sini," katanya kepada detikKalimantan, Minggu (4/1/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eva mengatakan banjir memang agenda tahunan, namun sudah empat tahun terakhir ini banjir tak separah 2021 silam. Banjir pada 2026 ini memicu kembali rasa trauma Eva akan banjir besar pada 2021 lalu.
"Banjir di 2021 itu sangat membuat trauma, jadi ketika ini terulang dan siklusnya sama. Membuat rasa trauma saya kembali," ungkapnya.
Adapun trauma yang dirasakan Eva diantaranya kehilangan barang berharga saat banjir, hingga proses pemulihan dan pembersihan rumah yang memakan waktu hingga berbulan-bulan lamanya.
"Waktu 2021 itu saya pemulihannya empat bulan, sehingga kali ini saya kembali takut dengan siklus yang sama," tuturnya.
Kali ini, ia berharap adanya bantuan dari pemerintah setempat untuk konsumsi dan tempat tidur yang layak. Sebab, selama mengungsi ia hanya tidur beralaskan tikar sederhana.
"Kita tidur beralaskan tikar dan berdempetan, kasur ada tapi harus berbagi juga sama yang lain. Harapan kita ada bantuan untuk sembako dan tempat tidurnya," tutupnya.
Selama di pengungsian, anak-anak diberikan pendampingan pemulihan trauma dengan berbagai macam aktivitas. Mulai dari mewarnai, bermain, hingga aktivitas lainnya.
Warga lainnya, Karmila, turut mengatakan sudah hampir dua pekan ini air merendam rumahnya, mulai dari semata kaki hingga kini mencapai paha orang dewasa. Karenanya, Karmila memilih untuk mengungsi di posko pengungsian hingga air mulai surut. Dirinya hanya bisa berharap, air bisa segera surut dan ia bisa kembali ke rumah.
"Mudahan cepat surut, kita juga capek kepikiran di rumah dan bebersihnya habis ini," kata Karmila.
(des/des)
