Pada tahun pertama pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), masih banyak masalah yang perlu diperbaiki. Sejumlah masalah yang menjadi sorotan di Kalimantan adalah terkait kualitas makanan.
Rentetan kasus keracunan massal di beberapa wilayah Kalimantan antara lain disebabkan menu ikan hiu hingga nasi kuning. Berikut beberapa kasus terkait MBG yang menjadi sorotan selama 2025.
1. Kontroversi Ikan Hiu Goreng
Insiden keracunan massal di SDN 12 Banua Kayong, Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar) September lalu dipicu oleh penyajian menu ikan hiu goreng dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kasus ini menjadi kontroversi karena menu yang dianggap tidak tepat untuk anak-anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemilihan menu ini dinilai sebagai bentuk keteledoran besar karena ikan hiu memiliki risiko kandungan merkuri yang tinggi dan bukan merupakan jenis makanan yang lazim dikonsumsi oleh siswa.
"Harusnya menu yang dipilih itu yang digemari siswa. Anak-anak jarang sekali mengonsumsi ikan hiu. Bisa saja ikan hiu ini memiliki kandungan merkuri. Itu yang sangat saya sesalkan kemarin," kata Kepala Regional MBG Kalbar Agus Kurniawi, Rabu (24/9/2025).
Setidaknya 25 orang keracunan dalam insiden ini. Sebagai konsekuensinya, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait telah dinonaktifkan.
2. Puding Basi
Kasus keracunan akibat MBG juga dialami lima siswa SDN 1 Simpang Hilir di Kabupaten Kayong Utara, Kalbar pada Kamis (24/9/2025). Kelima siswa ini langsung dilarikan ke Puskesmas Melano untuk mendapatkan pertolongan medis.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara Jumadi mengatakan lima siswa itu mengeluh mual, muntah, pusing dan sakit perut. Diduga menu puding telah basi dan tidak layak konsumsi.
"Berdasarkan menu MBG hari ini berupa ayam kecap, oseng sayur kol dan tempe goreng serta puding. Sementara hasil pemeriksaan Puskesmas Melano, diduga akibat mengkonsumsi puding yang menjadi makanan penutup siswa," kata Jumadi kepada detikKalimantan.
3. Nasi Kuning Bernitrat
Pada Kamis (9/10/2025), puluhan siswa dari berbagai sekolah di Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel) dilarikan ke RSUD Ratu Zalecha setelah mengalami gejala keracunan massal seperti mual, muntah, dan sakit perut. Jumlah korban mencapai 85 orang, termasuk seorang kepala sekolah.
Mereka berasal dari institusi pendidikan seperti MAN Assalam dan beberapa sekolah dasar lainnya. Hasil pemeriksaan laboratorium oleh Dinas Kesehatan Banjar mengungkapkan bahwa penyebab utama keracunan tersebut adalah adanya kandungan senyawa nitrat pada nasi kuning dan sayur dari menu MBG.
Sebagai langkah tindak lanjut, Pemerintah Kabupaten Banjar menanggung seluruh biaya pengobatan dan berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh terhadap unit pelayanan gizi agar kejadian serupa tidak terulang.
"Dipastikan dievaluasi, kami tidak ingin program pusat ini terganggu hal hal seperti ini, pemda hadir dan tentu melalui satgas berkoordinasi memastikan program ini berjalan lancar ke depan," ujar Bupati Banjar, Saidi Mansyur.
