Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) berusaha variatif dalam memberi ruang lebar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berkembang.
Melalui gelaran Bima Etam atau Business Matching Literasi dan Edukasi Keuangan seri ke-6 yang berlangsung di Pendopo Odah Etam, Tenggarong, Jumat (29/8/2025), Pemkab menghadirkan langsung pertemuan antara UMKM dan lembaga jasa keuangan.
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri menegaskan forum tersebut tidak sekadar membuka peluang permodalan, tetapi juga menjadi sarana edukasi keuangan. UMKM diajak mengenal layanan keuangan modern, mulai dari QRIS, mobile banking, hingga fasilitas digital perbankan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Melalui akses ini, kami ingin UMKM lokal bisa naik kelas. Tidak hanya bermain di pasar daerah, tetapi juga berani masuk ke pasar regional, nasional, bahkan menembus ekspor-impor," katanya, Jumat (29/8/2025).
Di kesempatan itu, Aulia juga mengumumkan kabar menggembirakan. Program Kredit Kukar Idaman yang selama ini menjadi andalan masyarakat tetap berlanjut, bahkan dengan plafon yang meningkat tajam. Dari sebelumnya maksimal Rp 50 juta, kini kredit tanpa bunga itu bisa mencapai Rp 500 juta.
Program ini, kata Aulia, menjadi langkah nyata pemerintah dalam melawan praktik rentenir yang kerap membebani masyarakat. Hingga saat ini, lebih dari 1.700 pelaku usaha telah menikmati fasilitas tersebut dengan total penyaluran mencapai Rp 36 miliar. Menariknya, risiko kredit macet berhasil ditekan, dengan Non Performing Loan (NPL) tetap stabil di bawah 3 persen.
"Peningkatan plafon kredit ini diharapkan bisa membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha, tanpa khawatir dengan bunga tinggi," tambahnya.
Kegiatan Bima Etam kali ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia Perwakilan Kaltim, lembaga jasa keuangan, hingga pegadaian. Kolaborasi ini diyakini akan memperkuat kemandirian dan daya saing UMKM Kukar.
"Dengan eskalasi plafon pinjaman, kami berharap program kredit ini tetap berjalan sehat. Seperti sebelumnya, risiko kredit macet bisa ditekan dan dijaga tetap rendah," pungkasnya.
(aau/aau)