Dunia Menyorot Indonesia gegara Ricuh Demo-Ojol Tewas Terlindas

Dunia Menyorot Indonesia gegara Ricuh Demo-Ojol Tewas Terlindas

Aulia Damayanti, Rita Uli Hutapea - detikKalimantan
Jumat, 29 Agu 2025 15:58 WIB
Mobil Rantis Brimob.
Foto: Doc. Istimewa
Balikpapan -

Demo buruh hingga mahasiswa yang terjadi pada Kamis (28/8/2025) berujung ricuh. Satu nyawa melayang dalam kejadian tersebut, ialah Affan Kurniawan (21) pengemudi ojek online yang terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob.

Media-media asing menyoroti kejadian ini. detikNews mengutip salah satunya media Singapura, The Straits Times yang menulis tentang duka dan kemarahan publik atas kematian Affan Kurniawan.

Mengangkat judul "Justice for Affan': Outrage in Jakarta after delivery rider killed by police vehicle in protest clash," media tersebut menuliskan wawancara dengan ibunda Affan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Duka dan amarah melanda ibu kota Indonesia, Jakarta, saat keluarga Affan Kurniawan, 21 tahun, berduka atas kematian pengemudi ojol tersebut setelah ditabrak kendaraan taktis polisi saat aksi protes di Jakarta Pusat berubah ricuh," tulis The Straits Times mengawali artikelnya.

"Saya ingin orang yang membunuh anak saya mendapatkan hukuman seberat-beratnya.... dia baru saja menyelesaikan pengantaran makanan dan hendak menjemput penumpang berikutnya," kata ibunda Affan, Erlina kepada The Straits Times, Jumat (29/8/2025) di rumahnya.

"Dia tulang punggung keluarga kami, dan dia bekerja sangat keras. Dia telah menabung dari pekerjaannya untuk membeli tanah dan membangun rumah untuk kami di desa kami di Lampung," tutur perempuan berumur 41 tahun yang bekerja sebagai asisten rumah tangga itu.

Kantor berita terkemuka asal Inggris, Reuters, juga memberitakan insiden memilukan itu. "Indonesian students vow more protests after one killed in Jakarta demonstration," demikian judul artikel yang ditulis Reuters, Jumat (29/8/2025).

"Para mahasiswa Indonesia mengatakan mereka akan berunjuk rasa di Mabes Polri pada hari Jumat setelah seorang pengendara sepeda motor tewas tertabrak kendaraan polisi dalam bentrokan yang berujung kekerasan, menyusul demonstrasi di luar gedung DPR sehari sebelumnya," tulis Reuters.

Reuters juga menuliskan permohonan maaf Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri atas insiden tragis itu.

"Atas nama pimpinan Polda Metro dan atas nama kesatuan, saya menyampaikan permohonan maaf yang mendalam dan turut berduka cita sedalam-dalamnya," ujarnya dalam konferensi pers, Kamis malam.

Tak cuma dua media terkemuka tersebut, ada pula Media Arab Saudi yakni Arab News, Media Amerika Serikat Bloomberg, dan Media Thailand, Bangkok Post yang juga memberitakan kemarahan masyarakat Indonesia yang diungkapkan secara luas melalui media sosial atas kejadian ini.

Dunia menyorot Indonesia, tapi bukan karena prestasi melainkan tragedi ricuhnya demo dan tewasnya Affan yang terlindas kendaraan taktis (rantis) Barracuda Brimob Polda Metro Jaya tepat di depan Rumah Susun Bendungan Hilir.

Ketegangan berlanjut dari semalam hingga hari ini. Massa dari ojek online sempat ricuh di depan gedung Mako Brimob Kwitang. Mereka memprotes atas apa yang dilakukan pengendara dari rantis hingga membuat salah satu ojol meninggal dunia.

Lalu apa dampak dari situasi tersebut? Ekonom memandang kericuhan atas protes kebijakan dari pemerintah ini akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi hingga kepercayaan investor. Jika respons pemerintah tidak bijak akan protes ini, investor asing diprediksi bisa kabur dari Indonesia.

"Sudut pandang saya terhadap dampak ekonomi ini menurut saya memang akan mempengaruhi citra penegakan hukum yang berhubungan dengan iklim bisnis dan juga berusaha dan investasi di Indonesia tentu saja," kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal dikutip dari detikFinance, Jumat (28/8/2025).

Faisal mengungkap dalam World Competitiveness Index (WCI), yang dikeluarkan oleh World Economic Forum saja, posisi Indonesia telah turun. WCI merupakan hasil analisis mengukur produktivitas dan daya saing suatu negara di tingkat global.

Indikator utama yang mempengaruhi penurunan tersebut adalah government effectiveness atau efektivitas pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan untuk masyarakat baik dari sisi pelayanan publik hingga pengusaha.

Jika mengalami penurunan, artinya investor luar akan semakin meragukan keefektifan dari kebijakan pemerintah di lingkungan dunia usaha. Untuk itu pemerintah diminta bijak dalam merespon aksi yang terjadi dua hari ini.

"Sebetulnya itu kan sudah menunjukkan bagaimana sebetulnya perspektif daripada investor khususnya kalau dalam World Competitiveness Index itu adalah investor luar terhadap keefektifan ke pemerintah, termasuk menurut saya efektivitas dari sisi kebijakan," terangnya.




(aau/aau)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads