Bolehkah Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW?

Bolehkah Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW?

Anindyadevi Aurellia - detikKalimantan
Jumat, 29 Agu 2025 08:00 WIB
Sejumlah warga mengikuti prosesi tradisi Baayun untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Halaman Masjid Al Mukaramah Desa Banua Halat Kiri, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, Sabtu (8/10/2022). Tradisi Baayun Maulid yang digelar setiap tahunnya oleh Suku Banjar tersebut merupakan kegiatan mengayun bayi, anak-anak, dan dewasa dengan membaca syair maulid yang diikuti sebanyak 4.481 orang untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/hp.
Ilustrasi maulid nabi di Kalimantan. Foto: ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S
Balikpapan -

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu agenda penting dalam agama Islam. Namun, pembahasan tentang perayaan Maulid Nabi tak jarang menimbulkan perbincangan hangat sebab ada perbedaan pandangan dari para ulama.

Sebagian umat menganggapnya sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah, sementara sebagian lainnya memandangnya sebagai amalan yang tidak dicontohkan langsung pada masa Nabi maupun para sahabat. Lalu, bolehkah merayakan Maulid Nabi?

Tradisi peringatan Maulid Nabi sebetulnya sudah berlangsung ratusan tahun di berbagai belahan dunia Islam, termasuk di Indonesia. Biasanya, perayaan ini diisi dengan pembacaan shalawat, doa bersama, pengajian, hingga berbagi pada sesama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun beberapa ulama punya pendapat masing-masing soal perayaan Maulid Nabi. Padahal sebetulnya hari ini merupakan peringatan yang baik, menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Apa Itu Maulid Nabi?

Maulid Nabi adalah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, sosok yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW diperingati atau dirayakan setiap 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah.

Dikutip dari buku berjudul Al Akhbar karya Tebyan A'maari Machalli, dijelaskan bahwa Maulid Nabi berasal dari bahasa Arab yaitu "mawlid an-nab". Kata "maulid" atau "milad" berarti hari kelahiran.

Peringatan Maulid Nabi berkaitan dengan mengingat hari kelahiran, mukjizat, dan mengetahui akhlak Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. Perayaan Maulid Nabi menjadi tradisi yang berkembang di kalangan umat Islam setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2025 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag), Maulid Nabi 12 Rabiul Awal akan jatuh pada hari Jumat, 5 September 2025.

Perayaan ini juga ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri PANRB tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024.

Hukum Merayakan Maulid Nabi

Dalam buku Pro dan Kontra Maulid Nabi karya AM Waskito, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sangat dianjurkan dan diprioritaskan. Pandangan ini telah ada sejak zaman para ulama ahli hadits.

Meskipun tidak ada dalil yang secara eksplisit menyebutkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, dalam surah Ali Imran ayat 31, Allah SWT memerintahkan umat manusia untuk mencintai dan mengikuti Rasulullah. Ayat tersebut berbunyi:

قُلْ اِنْ كُنْΨͺُمْ ΨͺΩΨ­ΩΨ¨ΩΩ‘ΩˆΩ’Ω†ΩŽ Ψ§Ω„Ω„Ω‘Ω°Ω‡ΩŽ فَاΨͺΩŽΩ‘Ψ¨ΩΨΉΩΩˆΩ’Ω†ΩΩŠΩ’ ΩŠΩΨ­Ω’Ψ¨ΩΨ¨Ω’ΩƒΩΩ…Ω اللّٰهُ ΩˆΩŽΩŠΩŽΨΊΩ’ΩΩΨ±Ω’ Ω„ΩŽΩƒΩΩ…Ω’ Ψ°ΩΩ†ΩΩˆΩ’Ψ¨ΩŽΩƒΩΩ…Ω’ Ϋ— ΩˆΩŽΨ§Ω„Ω„Ω‘Ω°Ω‡Ω ΨΊΩŽΩΩΩˆΩ’Ψ±ΩŒ Ψ±ΩŽΩ‘Ψ­ΩΩŠΩ’Ω…ΩŒ Ω£Ω‘

Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Meski diperingati, Pimpinan Ponpes Darush Sholihin Ustad Muhammad Abduh Tuasikal dalam laman Rumaysho menyebut Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah pernah memerintahkan umatnya untuk memperingati maulid dan tidak pernah memerintahkan mengingat kelahiran, karakter istimewa, mukjizat, sirah dan akhlak mulia Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam secara khusus melalui peringatan maulid.

Di lain sisi, Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Prof KH Yahya Zainul Ma'arif atau akrab disapa Buya Yahya, menjelaskan bahwa peringatan Maulid Nabi bertujuan agar umat muslim semakin cinta dengan baginda Nabi. Orang yang merayakan Maulid Nabi harus dengan jelas mengangkat syiar, membesarkan, mengagungkan, dan mengenalkan umat Islam dengan Nabi Muhammad.

"Dan ini dianjurkan. Hal ini dimulai dengan kegembiraan kita dengan hadirnya rasulullah, cukup ikuti saja sesuai tujuannya. Harus senang meneladani nabi Muhammad, bersyukur karena Allah SWT mengutus nabi yang agung dari bagian kita. Pengagungan kita caranya banyak, ada membuat buku tentang Rasulullah, mengadakan perkumpulan untuk diingatkan pikiran mereka pada manusia agung, disertai acara yang disertai kegembiraan," kata Buya Yahya dalam kanal YouTube Al Bahjah TV.

"Inilah Makna Maulid Nabi, tidak lebih dari itu. Mencintai Rasul adalah kewajiban, tanamkan kecintaan pada rasul dengan bermacam cara, salah satunya mengadakan gebyar tahunan. Tapi kemudian jika ada contoh kelompok sesat merayakan maulid nabi, ya dengan begini bukan serta merta perayaan maulid nabi jadi sesat," sambungnya.

Lalu dalam buku berjudul 'Anda Bertanya Islam Menjawab' oleh Muhammad Mutawalli asy Sha'rawi, merayakan Maulid Nabi hukumnya mubah atau boleh. Catatannya, selama dilakukan dengan mencontoh apa yang disenangi Rasulullah dan dimaksudkan untuk mengambil suri teladan kehidupannya.

"Banyak kaum muslimin yang menyelenggarakan peringatan Maulid, tetapi sedikit sekali yang dapat mengambil manfaat darinya. Padahal di tiap-tiap peringatan umat Islam bila menghidupkan satu saja syiar agama dan melaksanakannya, pasti agama Islam akan jaya," tulisnya dalam buku itu.

Tak jarang, perayaan-perayaan Maulid sekedar ikut memperingati yang disesuaikan dengan kecenderungan nafsu, dengan makan makanan yang lezat, hiasan-hiasan indah serta nyanyian diiringi rebana. Hal ini kemudian juga disinggung oleh Buya Yahya.

"Sebetulnya gebyar peringatan rasa syukur kelahiran Rasulullah itu harusnya kita rasakan setiap hari. Seharusnya keberadaan Nabi Muhammad itu selalu membuat kita rindu dan mau menghindari zina. Kalau kita sudah ikut maulidan terus, tapi kok masih melakukan hal buruk? Itu perlu dicek. Apakah itu jangan-jangan hanya memuaskan kita? Apakah kita menunggangi kepentingan maulid nabi?," ucap Buya Yahya.

Pernyataan tersebut juga senada dengan buku Kisah Maulid Nabi Muhammad SAW karya Abu Nur Ahmad al-Khafi Anwar bin Shabri Shaleh Anwar, menurut fatwa seorang ulama besar yaitu Asy-Syekh Al-Hafidz As-Suyuthi menerangkan bahwa mengadakan perayaan memperingati kelahiran Nabi Muhammad akan berpahala.

Menurutnya, memperingati kelahiran Nabi dengan cara mengumpulkan banyak orang, dibacakan ayat Al-Qur'an, diterangkan (diuraikan) sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi sejak lahir hingga wafatnya, dan diadakan pula sedekah berupa makanan dan hidangan lainnya merupakan perbuatan bid'ah hasanah (bid'ah yang baik) dan berpahala bagi orang yang merayakannya.

Wallahua'lam bishawab.

Halaman 2 dari 2
(aau/bai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads