PSIM Jogja harus puas berbagi poin dengan Semen Padang pada laga pekan ke-24 Super League 2025/2026 malam tadi. Skor kacamata 0-0 menutup laga itu. Kartu merah untuk Fahreza di babak pertama bikin PSIM ubah strategi di kandang Semen Padang.
Laga antara Semen Padang vs PSIM Jogja dihelat di Stadion H. Agus Salim, Padang, Rabu (4/3) malam. Pada laga tadi, Laskar Mataram tampil cukup solid meski bermain dengan 10 pemain usai Fahreza Sudin diganjar kartu merah wasit pada menit 38. Kartu merah ia dapat usai pelanggaran keras ke pemain Semen Padang, Samuel Simanjuntak.
Pelatih PSIM, Jean-Paul van Gastel, menyebut kartu merah tersebut mengubah jalannya permainan. Ia menyebut, PSIM kehilangan momentum usai Fahreza Sudin harus terpaksa angkat kaki dari lapangan pertandingan.
"Saya pikir sampai sebelum kartu merah, pertandingannya seimbang. Saya rasa kami tidak bermain terlalu baik, saya pikir kami bisa melakukan jauh lebih baik seperti yang kami buktikan di pertandingan-pertandingan sebelumnya. Lalu ketika kami menerima kartu merah, permainan berubah. Sejak saat itu kami hanya bertahan," ujar Van Gastel saat jumpa pers usai laga, Rabu (4/3/2026).
Meski begitu, Van Gastel mengaku puas dengan semangat juang yang ditunjukkan anak asuhnya. Ia menyebut hasil imbang ini merupakan hasil terbaik bagi timnya.
"Saya mengagumi tim saya atas semangat juang yang kami tunjukkan. Jadi, kami tidak hanya bisa bermain cukup baik, tapi kami juga punya semangat juang. Kami sudah menunjukkannya di laga melawan Bali United, dan laga lainnya saat kami tertinggal satu, dua, bahkan tiga gol. Jadi bagi kami, hasil ini terasa sedikit seperti kemenangan," ungkapnya.
Pelatih asal Belanda itu juga mengungkapkan kunci permainan solid yang timnya tunjukkan meski kalah dalam jumlah pemain dari Semen Padang.
"Kami mencoba menutup ruang karena kami kalah jumlah pemain, jadi kami mencoba menciptakan low block. Sekitar menit ke-60, beberapa pemain mulai kelelahan dan mengalami kram, jadi kami memutuskan untuk beralih dari 4 bek menjadi 5 bek," ulasnya.
"Di situasi itu, Anda juga butuh sedikit keberuntungan saat lawan melakukan umpan silang dan bola jatuh di dalam kotak penalti. Kami bergerak lebih cepat dibanding pemain Semen Padang. Itu tadi bisa dibilang seperti strategi bertahan hidup. Namun yang terpenting adalah menjaga posisi, terus berkomunikasi, dan memenangkan duel. Saya pikir kami melakukannya dengan baik," katanya.
Sementara itu, pemain PSIM, Riyatno Abiyoso, juga mengatakan hal senada dengan pelaith. Namun, ia tetap bersyukur dengan torehan satu poin ini.
"Untuk pertandingan pada malam hari ini, sesuai dengan apa yang dikatakan coach, setelah kita kartu merah, kita merubah strategi sesuai instruksi dari head coach untuk lebih fokus bertahan dan bekerja keras lagi," jelasnya.
"Apresiasi juga untuk semua rekan-rekan yang sudah berjuang semaksimal mungkin untuk mempertahankan poin di laga away kali ini. Saya rasa ini patut disyukuri, kita bermain dengan 10 orang di babak pertama dan kita bisa dapat poin di kandang lawan," tutupnya.
Simak Video "Begini Euforia di Jogja Financial Festival & Run D-City 2026"
(dil/dil)