Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tengah menyusun modul dan kerangka program karier terpadu. Modul tersebut bakal menjadi acuan fakultas dan program studi untuk membekali mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja.
Kepala Sub-Direktorat Konseling, Kesejahteraan, dan Karir UMY, Muhammad Arif Rizqi, menjelaskan pihak kampus merancang modul tersebut agar siap digunakan oleh siapa pun, termasuk dekan dan kepala program studi yang berganti jabatan. Modul tersebut telah dilengkapi hingga level materi presentasi.
"Kami sedang menyusun modul, semacam kerangka program yang bisa menjadi acuan bagi fakultas atau prodi. Dari sekitar 40-an materi, baru sekitar 20-an yang sudah ada," ujar Arif dalam keterangan tertulis yang diterima detikJogja, Senin (27/4/2026).
Arif menyebut modul ini menjadi prioritas agar intervensi karier di tingkat prodi dan fakultas memiliki standar yang seragam di seluruh lingkungan kampus.
Guna mendukung kesiapan kerja mahasiswa, Arif bersama timnya telah melakukan beberapa program mulai dari pelatihan soft skill dua hingga tiga bulan sekali, konsultasi CV berbasis sistem ATS (Applicant Tracking System) melalui kemitraan dengan platform Kinobi, serta recruitment on-campus bersama mitra seperti Teleperformance hingga UMY Career Fair (UCF) yang digelar setiap tahun.
Arif menyebut, ada tiga kompetensi yang paling dicari industri dalam beberapa tahun terakhir. Adapun sejumlah kompetensi tersebut yakni komunikasi, adaptabilitas, dan attitude.
Ketiga kompetensi tersebut dinilai jauh lebih sulit dibentuk dibandingkan dengan hard skill yang masih bisa dipelajari di tempat kerja.
"Yang kaitan dengan komunikasi, adaptabilitas di dunia kerja, dan attitude itu sesuatu yang prosesnya panjang. Sehingga di dunia kampus itu memang PR besar," katanya.
Arif pun mendorong mahasiswa aktif berorganisasi dan mengikuti kompetisi guna membentuk kompetensi tersebut. Dia menilai, organisasi dapat melatih komunikasi dan adaptasi, sementara kompetisi membentuk mentalitas dan daya juang mahasiswa.
Lebih lanjut, Arif mengakui adanya tantangan dalam hal partisipasi. Meski layanan daring telah disediakan untuk memperluas jangkauan, pelatihan yang digelar secara daring justru mencatat kehadiran lebih rendah dibanding yang diselenggarakan tatap muka.
Kendati demikian, Arif menegaskan, pihaknya tidak berencana menghentikan program daring. Nantinya, pelatihan luring dan daring bakal tetap dilakukan secara bergantian dengan tema yang berbeda, sekaligus menyiapkan modul karier sebagai fondasi jangka menengah.
"Karena masing-masing kampus, kalau saya lihat, punya kebijakan yang khas terkait peningkatan employability lulusan. Baik itu model pelatihan atau model program yang disusun. Kami berharap akan punya form model yang sesuai dengan karakteristik dan nilai-nilai UMY," pungkasnya.
Simak Video "UMY Fasilitasi Pemulangan Jenazah Redho Korban Mutilasi ke Pangkalpinang"
(par/apl)