Sosok Den Baguse Ngarso di Mata Seniman Jogja: Seperti Guru

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Selasa, 22 Sep 2026 13:35 WIB
Suasana rumah duka Den Baguse Ngarso, Mantrijeron, Kota Jogja, Selasa (22/9/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Berpulangnya seniman teater Jogja, Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso meninggalkan kesan mendalam bagi rekan-rekan sesama seniman. Di mata mereka, Den Baguse Ngarso bukan hanya aktor dan budayawan, tetapi juga sosok yang rendah hati, cerdas, serta tak segan berbagi ilmu.

"Kenal Den Baguse Ngarso sejak 2004 ketika bersama-sama berkarya di Komunitas Tjap Conthong atau Ketoprak Conthong. Dia itu sebagai seperti orang tua. Jadi makanya Pak Sus itu di mata saya adalah guru saya, sekaligus partner, dan dia bisa berdiskusi," kata rekan sesama seniman Den Baguse Ngarso, Warsana Kliwir kepada detikJogja di rumah duka, Mantrijeron, Kota Jogja, Selasa (22/9/2026).

Kliwir mengatakan hal yang berkesan baginya adalah kemampuan Den Baguse Ngarso dalam menyusun naskah membuat para pemain lebih mudah memahami karakter dan alur pertunjukan.

"Pak Sus tuh sangat tertata, terstruktur, jadi memudahkan untuk kita semua bermain. Dan naskahnya itu misalnya bukan selalu lucu yang dibuat, tapi naskah sendiri udah lucu. Jadi misalnya dimainkan orang lain pun, orang akan tertawa dengan naskah itu. Itu sangat brilian," ujarnya.

Tak hanya dalam berkarya, Kliwir juga mengenang gaya bercanda Den Baguse Ngarso yang terkadang terdengar menyengat bagi orang yang belum mengenalnya. Namun, bagi orang-orang dekatnya, celetukan tersebut justru menjadi bagian dari karakter Den Baguse Ngarso.

"Kesane glenyengan, kesane itu nyenyengit, tapi enggak. Memang perilaku tuh seperti keseharian dia, sangat menjiwai," kata pria yang juga seorang dosen jurusan Etnomusikologi di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja itu.

Rekan seniman Den Baguse Ngarso, Warsana Kliwir di rumah duka, Mantrijeron, Kota Jogja, Selasa (22/9/2026) Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja

Ia juga menyebut Den Baguse Ngarso tidak pernah merasa dirinya besar meski memiliki nama besar di dunia seni. Justru, menurut Warsana, Den Baguse Ngarso mampu mencairkan suasana ketika para seniman mulai merasa jenuh dalam proses berkarya.

"Dia meskipun nama besar, dia tidak pernah menganggap dirinya besar. Dia nama besar, dia sangat besar. Apalagi tentang naskah-naskahnya. Itu saya lihat luar biasa," tuturnya.

Kesan serupa disampaikan rekan seniman lainnya, Kukuh Kudamai. Ia mengaku sudah mengidolakan Den Baguse Ngarso sejak pertama kali menonton pertunjukan ketoprak.

"Dulu tahunya karena sering nonton ketoprak. Ketoprak Conthong itu. Terus saya pernah satu proyek film sama beliau. Kalau beliau itu pintar ya, aslinya itu sangat-sangat humble, sederhana," katanya.

"Sosok yang sederhana, terus murah ilmu. Jadi, dia itu selalu berbagi ilmu tentang sejarah, metode keaktoran, terus perkembangan politik, kebudayaan, dan yang lain sebagainya itu beliau selalu sharing," tuturnya.

Kukuh bahkan menggambarkan berbincang dengan Den Baguse Ngarso seperti berbicara dengan mesin pencari karena luasnya pengetahuan yang dimiliki.

"Kayak ngobrol sama dia itu beliau itu kayak Google. Jadi, apa pun dia tuh tahu gitu loh. Karena bacaannya juga banyak," ujarnya.

Bagi Kukuh, Den Baguse Ngarso juga merupakan sosok guru yang tidak pernah merasa sedang menggurui. Ia merasa banyak belajar hanya dengan melihat cara Den Baguse Ngarso menjalani kehidupan dan berkesenian.

"Pak Sus itu menurutku saya anggap beliau itu kayak guru tapi dia tidak pernah merasa menggurui. Aku merasa dia tuh tidak pernah menggurui. Jadi, ya berbagi kayak dadi kayak kancaku nek ngobrol gitu. Kayak sharing ning warung kopi opo ngono. Pak Sus itu tidak pernah merasa tua, itu sudah. Dia selalu ngomong aku enom," pungkasnya.



Simak Video "Begini Euforia di Jogja Financial Festival & Run D-City 2026"

(afn/ahr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork