Peternak Protes Harga Telur Anjlok, Pemda DIY Sentil Peran Broker

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Senin, 10 Agu 2026 14:26 WIB
Aksi peternak di DIY bagi-bagi ayam petelur gratis di kawasan Malioboro Jogja, Senin (10/8/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Massa peternak dari seluruh DIY memprotes anjloknya harga telur dengan membagikan ayam petelur afkir gratis di kawasan Malioboro, Jogja. Merespons keluhan peternak, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) menyinggung soal peran broker.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DPKP DIY, Agung Ludiro, mengatakan produksi telur saat ini melimpah, sementara permintaan masyarakat menurun. Kondisi itu membuat hasil produksi peternak tidak terserap maksimal.

"Jadi intinya kita sudah menangkap keluh kesah dari teman-teman peternak. Jadi memang saat ini yang tersampaikan adalah bahwa mereka overpopulasi. Populasinya banyak, kemudian tadi juga disebutkan bahwa telur juga produksinya banyak, sementara permintaan di masyarakat juga berkurang," ujar Agung saat ditemui di kantor DPRD DIY, Jalan Malioboro, Kota Jogja, Senin (10/8/2026).

Selain persoalan produksi yang melimpah, peternak juga menghadapi tingginya biaya pakan. Salah satu bahan baku utama pakan ayam adalah jagung. Merespons itu, Agung mengatakan pemerintah akan mencari cara untuk meningkatkan ketersediaan jagung sekaligus menjaga harganya tetap terjangkau bagi peternak.

"Memang kita juga nanti menjadi PR kami di Pertanian bagaimana kita juga bisa mengefektifkan penanaman jagung supaya nanti ketersediaannya juga tinggi dan diharapkan harganya rendah," ungkapnya.

Di sisi lain, Agung menyoroti penyerapan telur peternak dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, adanya broker dalam rantai distribusi berpotensi memengaruhi harga telur di tingkat peternak.

"Kalau ini kemarin kami sudah dapat informasi dari Kementerian Pertanian, bahwa Kementerian Pertanian, Bapak Menteri Pertanian langsung menghubungi Kepala BGN untuk memaksimalkan pengambilan telur dari SPPG langsung di peternak. Jadi bukan lewat lagi broker," jelasnya.

"Karena beberapa pengalaman itu menyatakan bahwa sebenarnya dari peternak itu telurnya masuk, tetapi tidak langsung dari peternak, tapi lewat broker, nah ini juga yang merusak harga," imbuh dia.

Agung mengatakan sudah ada peternak yang berhubungan langsung dengan SPPG. Namun, berdasarkan informasi yang diterima, pengambilan telur dari peternak untuk SPPG masih belum terlalu tinggi.

"Memang informasi yang kami dapatkan bahwa pengambilan dari SPPG ini tidak terlalu tinggi sebenarnya. Itu yang mungkin nanti kami juga telusuri kembali. Jadi bahwa produk dari ternak baik itu daging maupun itu telur juga diharapkan langsung dari, langsung dari SPPG ke peternak. Hampir sama sebenarnya," ungkapnya.

Agung menyebut pihaknya akan berkoordinasi lebih lanjut dengan BGN untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.

"Nah, ini yang kita juga agak susah ya. Karena beberapa kali kita juga mengambil data di SPBG juga agak kesulitan sih sebenarnya. Jadi nanti kita coba juga bisa berkoordinasi dengan mereka," urainya.




(dil/dil)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork