Bagi warga Jogja maupun pengunjung yang hendak berwisata ke kawasan Malioboro sambil membawa kendaraan, mulai November mendatang siap-siap karena bakal diberlakukan full pedestrian. Tiang portal pun sudah mulai dipasang di sejumlah akses jalan sirip.
"Ya (full pedestrian mulai November), kita melihat lah kalau full pedestrian itu karena kita mau tunda sampai kapan lagi?" ucap Sekretaris Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ni Made Dwi Panti Indrayanti, Rabu (1/7).
Ia menuturkan bahwa rencana itu bakal menggandeng Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja. Salah satu yang dimatangkan adalah pengaturan pada jalan sirip-sirip Malioboro.
"Hanya saja memang perlu, kita kan ini kolaborasi tidak dengan Pemda DIY semata, ada Pemerintah Kota Jogja. Salah satunya adalah yang menjadi PR adalah pengaturan di sirip-sirip," jelasnya.
Pasang Portal pada Jalan Sirip
Made menjelaskan, sejumlah uji coba full pedestrian sudah dilaksanakan, seperti pada HUT Kota Jogja tahun ini. Salah satu hasil evaluasinya adalah pengaturan jalan sirip maupun kendaraan tradisional.
"Ya, kita coba, kita coba. Kan mulai bulan Juni itu desainnya itu kan masing-masing sirip itu dikasih portal," ungkap Made.
"Ya kita lihat juga kan. Ya full itu bukan berarti terus kemudian sepi tanpa ada yang bisa (lewat) kan ada exception-nya, ada pengecualiannya, kendaraan khusus tertentu, ambulans, pemadam kebakaran kalau ada sesuatu. atau tamu negara," imbuhnya.
Seperti yang terlihat pada Kamis (2/7/2026) si akses masuk Jalan Suryatmajan. Portal sepanjang kurang lebih 2 sampai 3 meteran itu terpasang di kedua sisi jalan, di utara dan selatan.
Portal berwarna hijau-kuning tersebut nampak belum selesai dikerjakan. Tiang portal juga tampak terkunci sehingga tidak bisa diturunkan. Selain Jalan Suryatmajan, portal juga tampak di Jalan Pajeksan.
"Wah kurang tahu e kapan dipasang, tapi kayaknya belum lama," ujar salah satu juru parkir di dekat lokasi yang enggan disebut namanya.
Kepala Dishub DIY, hrestina Erni Widyastuti, menjabarkan portal tersebut sebagai persiapan Malioboro sebagai kawasan full pedestrian.
Erni menjelaskan saat ini pihaknya masih sibuk mempersiapkan penataan jaringan lalu lintas, pengembangan kantong parkir kawasan penyangga, peningkatan pelayanan TransJogja, pengaturan distribusi logistik, penyediaan fasilitas pejalan kaki, akses bagi penyandang disabilitas, hingga koordinasi dengan instansi pemerintah dan aparat keamanan.
"Fokus kami bukan mengejar angka persentase kesiapan, tetapi memastikan seluruh ekosistem pendukung benar-benar siap sehingga implementasi kebijakan dapat berjalan secara efektif, bertahap, dan tidak menimbulkan gangguan terhadap aktivitas masyarakat," papar Erni.
"Prinsip utama yang kami pegang adalah bahwa kawasan pedestrian harus tetap menjamin kelancaran tugas-tugas pelayanan publik dan keamanan. Karena itu, portal yang direncanakan bukan merupakan penghalang permanen, melainkan bagian dari sistem manajemen akses yang operasionalnya diatur melalui standar prosedur yang disusun bersama seluruh instansi terkait," imbuhnya.
Erni menjelaskan, pada penataan jaringan lalu lintas jika full pedestrian diterapkan, kendaraan-kendaraan seperti kendaraan darurat, ambulans, pemadam kebakaran, maupun kendaraan pelayanan publik tetap akan diberikan sesuai kebutuhan operasional.
"Mekanisme buka-tutup portal, pengaturan waktu, serta petugas yang berwenang akan ditetapkan melalui koordinasi bersama sehingga keamanan kawasan tetap terjaga tanpa menghambat tugas negara," terangnya.
(apu/afn)