- Profil Eyang Meri Hoegeng Kelahiran Jogja
- Bertemu dengan Hoegeng di Sandiwara Radio
- Meriyati Hoegeng Sosok Berintegritas 1. Menolak Gratifikasi dan Menjaga Nama Baik Keluarga 2. Siap Menutup Usaha Demi Menghindari Konflik Kepentingan 3. Tidak Tergiur Fasilitas dan Kehidupan Mewah 4. Tetap Bersahaja hingga Usia Senja
- Eyang Meri Meluncurkan Autobiografi Sebelum Wafat FAQ tentang Meriyati Hoegeng 1. Siapa nama asli istri Jenderal Hoegeng? 2. Kapan Eyang Meri meninggal dunia dan dimakamkan di mana? 3. Apa warisan nilai yang ditinggalkan Eyang Meri?
Kabar duka menyelimuti keluarga besar Polri setelah istri almarhum Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, Meriyati Hoegeng atau Eyang Meri, wafat pada Selasa 3 Februari 2026 pukul 13.25 WIB. Sosok perempuan kelahiran Jogja ini menghembuskan napas terakhirnya di RS Bhayangkara Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, tepat di usianya yang genap 100 tahun.
Kapolres Metro Depok, Kombes Abdul Waras, menyatakan duka mendalam bagi jajaran kepolisian atas kepergian figur yang dikenal sangat bersahaja ini.
"Hari ini kita dari jajaran kepolisian berduka atas meninggalnya almarhumah Ibu Meriyati," ujar Kombes Abdul Waras kepada detikNews.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencananya, jenazah akan disemayamkan di kediamannya kawasan Pesona Khayangan, Depok, sebelum dimakamkan di sisi Jenderal Hoegeng di Makam Giri Tama, Bogor, besok pagi. Mari kita mengenang sosoknya yang bersahaja, detikers.
Poin utamanya:
Eyang Meri wafat di usia 100 tahun dengan meninggalkan rekam jejak ketegasan menolak gratifikasi demi menjaga marwah jabatan suaminya.
Hubungan cintanya dengan Jenderal Hoegeng bermula saat keduanya menjadi pengisi suara sandiwara radio 'Saija Adinda' di Jogja tahun 1946.
Hingga akhir hayatnya, ia memilih hidup bersahaja dan tetap memegang teguh etika moral meski harus menutup usaha pribadinya sendiri.
Profil Eyang Meri Hoegeng Kelahiran Jogja
Dilansir detikNews, Meri Hoegeng lahir pada tanggal 23 Juni 1925 di Jogja. Kala itu, Jogja masih menjadi bagian dari Hindia Belanda. Pemilik nama Meriyati Roeslani Hoegeng ini lahir dari pasangan dr Mas Soemakno Martokoesoemo dengan Jeanne Rayke van Stuwe.
Meriyati Hoegeng dikenal sebagai sosok istri pejabat yang berintegritas tinggi, tegas menolak gratifikasi, menjaga nama baik keluarga, hidup sederhana, dan menjadi teladan dalam kesetiaan serta pengabdian. Ia dipandang sebagai figur pendamping yang berpegang kuat pada etika, tidak tergoda fasilitas, dan konsisten menjunjung prinsip moral hingga akhir hayatnya.
Bertemu dengan Hoegeng di Sandiwara Radio
Dikutip dari buku Manis Tapi Tragis: Kisah Saidjah-Adinda dalam Max Havelaar tulisan Achmad Sunjayadi dkk, pertemuan pertama Eyang Meri dengan Hoegeng berawal dari dunia siaran yang saat itu sedang berkembang pesat di Jogja.
Pada 1946, Hoegeng yang berpangkat Mayor dan bertugas sebagai Penyelidik Militer Angkatan Laut tetap aktif menyalurkan minatnya di bidang musik. Ia sudah dikenal sering mengisi acara musik Hawaiian di beberapa radio di Jogja dan Batavia. Kepiawaiannya itu membuat Kapten Iskak, Kepala Bagian Penerangan Maskar Besar Angkatan Darat yang memimpin seksi hiburan Radio Aldo, menawarkan peran kepada Hoegeng sebagai Saija dalam sandiwara radio 'Saija Adinda'.
Meri yang saat itu menjadi penyiar radio telah lebih dulu ditetapkan memerankan Adinda. Begitu mengetahui bahwa Adinda diperankan oleh Meri, Hoegeng menerima tawaran menjadi pengisi suara Saija.
Sejak saat itulah keduanya semakin sering berinteraksi. Proses latihan, rekaman, dan koordinasi siaran membuat hubungan mereka berkembang dari sekadar rekan kerja menjadi semakin dekat.
Sandiwara Saija Adinda yang mereka bintangi mendapat sambutan hangat dan bahkan diperdengarkan ulang di RRI Jogja atas permintaan Presiden Soekarno. Berbeda dengan kisah Saidjah dan Adinda yang berakhir tragis, hubungan Hoegeng dan Meri justru tumbuh menjadi cinta yang kuat. Setelah sekitar satu tahun saling mengenal, keduanya menikah pada 31 Oktober 1946 di Jogja.
Meriyati Hoegeng Sosok Berintegritas
Sebagai pendamping hidup seorang pejabat penegak hukum yang dikenal bersih dan antisuap, Meriyati Hoegeng menjalani hidup dengan standar integritas yang sama. Di balik nama besar Hoegeng, terdapat sosok Eyang Meri yang turut menjaga marwah keluarga dan menegakkan prinsip moral tanpa kompromi.
1. Menolak Gratifikasi dan Menjaga Nama Baik Keluarga
Dikutip dari laman resmi Pusat Edukasi Antikorupsi KPK, dalam berbagai fase kehidupan mereka, Meriyati berkali-kali menjadi sasaran upaya gratifikasi terselubung. Mulai dari cincin berlian yang dikaitkan secara tidak berdasar dengan dirinya hingga kiriman peti hadiah berisi barang elektronik mahal, semuanya ditolak.
Ia selalu berada pada posisi yang konsisten menjaga kebersihan nama keluarga dan tidak memberi celah terciptanya fitnah. Ketegasan sikapnya memperkuat langkah Hoegeng dalam menjaga integritas hukum di tengah lingkungan kerja yang penuh godaan.
2. Siap Menutup Usaha Demi Menghindari Konflik Kepentingan
Saat Hoegeng diangkat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi, Meriyati baru saja merintis usaha toko bunga bernama Leilani di kawasan Cikini. Namun, ketika suaminya menyampaikan kekhawatiran bahwa keberadaan usaha itu dapat dimanfaatkan untuk mendekati dirinya sebagai pejabat publik, Meriyati mengambil keputusan tegas.
Tanpa banyak pertimbangan, Meriyati menutup usaha tersebut tanpa keraguan. Keputusan itu menjadi bukti kedewasaan moralnya dalam memahami batas-batas etik, serta keberaniannya melepaskan kenyamanan demi menjaga integritas.
3. Tidak Tergiur Fasilitas dan Kehidupan Mewah
Meriyati juga menghadapi godaan berupa hadiah dan fasilitas yang secara moral harus ditolak. Ketika dua motor Lambretta dikirimkan ke rumah sebagai 'hadiah' untuk keluarga, ia ikut berdiri di belakang keputusan Hoegeng untuk mengembalikannya.
Ia juga tidak memanfaatkan kesempatan pergi ke Amsterdam ketika menerima wesel dari keluarga Belanda. Sebab, perjalanan itu berpotensi menimbulkan persepsi bahwa ia bepergian dengan bantuan pihak-pihak yang berkepentingan.
Bahkan ketika banyak pejabat membawa istri dalam perjalanan dinas luar negeri, Meriyati tidak ikut serta. Ia menghargai keputusan suaminya yang hanya memakai biaya resmi tanpa tambahan fasilitas.
4. Tetap Bersahaja hingga Usia Senja
Di masa pensiun, Meriyati bersama Hoegeng menjalani kehidupan yang sederhana. Mereka bergantung pada kegiatan produktif seperti melukis dan tampil dalam grup musik Hawaiian Seniors, jauh dari gaya hidup glamor.
Setelah Hoegeng wafat, Meriyati tetap memegang setengah pensiun suaminya dan menjalani hari-harinya dengan ketabahan. Kesederhanaan itu bukan sekadar kondisi, tetapi pilihan moral yang ia pegang teguh sepanjang hidup.
Eyang Meri Meluncurkan Autobiografi Sebelum Wafat
Tahun lalu, Meri Hoegeng baru saja merayakan ulang tahun platinum ketika memasuki usia ke-100 tahun. Dikutip dari laman resmi Polda DIY, perayaan ulang tahun tersebut dilakukan di kediaman Eyang Meri Hoegeng, kawasan Pesona Khayangan, Depok, Jawa Barat pada Senin (23/6/2025).
Perayaan ulang tahun tersebut mengusung tema 'Langkah Setia Pengabdian'. Ini menjadi momen istimewa yang diwarnai tayangan selayang pandang perjalanan hidup Eyang Meriyati, sosok istri mendiang Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Ia dikenal luas sebagai figur teladan dalam integritas dan kesederhanaan.
Tak hanya merayakan usia satu abad, Eyang Meri juga menandai momen tersebut dengan meluncurkan buku autobiografinya. Buku edisi khusus itu berisi perjalanan hidupnya yang ditulis oleh Krisnadi Ramajaya Hoegeng, cucunya.
Dalam kesempatan itu, Eyang Meri menyerahkan langsung buku tersebut kepada para tamu dan pihak Kepolisian yang hadir sebagai bentuk simbolis dari warisan nilai yang ia titipkan kepada generasi penerus. Autobiografi itu menjadi penegas kisah kesederhanaan, keteguhan hati, serta komitmen pengabdian yang selama ini melekat pada sosoknya.
Kini, Eyang Meri atau Meriyati Roeslani Hoegeng telah berpulang pada Selasa, 3 Februari 2026, di usia genap 100 tahun. Ia menghembuskan napas terakhir di RS Bhayangkara Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, setelah menjalani perawatan intensif.
Demikian profil Eyang Meri, istri Jenderal Hoegeng. Kepergiannya menutup satu abad perjalanan hidup seorang perempuan yang setia mendampingi Hoegeng dalam setiap fase pengabdian dan tetap menjadi simbol keteladanan bagi keluarga besar Polri maupun masyarakat luas.
FAQ tentang Meriyati Hoegeng
1. Siapa nama asli istri Jenderal Hoegeng?
Istri Jenderal Hoegeng memiliki nama asli Meriyati Roeslani Hoegeng, namun lebih akrab disapa dengan panggilan Eyang Meri. Ia merupakan putri dari pasangan dr Mas Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Rayke van Stuwe yang lahir di Jogja pada 23 Juni 1925.
2. Kapan Eyang Meri meninggal dunia dan dimakamkan di mana?
Eyang Meri meninggal dunia pada Selasa, 3 Februari 2026 pukul 13.25 WIB di RS Bhayangkara Polri, Jakarta Timur. Jenazahnya direncanakan akan dimakamkan di Makam Giri Tama, Tajur Halang, Kabupaten Bogor, berdampingan dengan makam sang suami, Jenderal Hoegeng.
3. Apa warisan nilai yang ditinggalkan Eyang Meri?
Eyang Meri meninggalkan warisan nilai berupa integritas tanpa kompromi, kejujuran, dan kesederhanaan hidup sebagai istri pejabat. Salah satu kisahnya yang paling diingat adalah kerelaannya menutup toko bunga miliknya hanya untuk menghindari potensi konflik kepentingan dengan jabatan suaminya.
