Nostalgia Kejayaan Kaset Pita Bersama Pak Priyo di Pasar Beringharjo

Zhafran Naufal Hilmy - detikJogja
Minggu, 11 Jan 2026 07:00 WIB
Pak Priyo sedang menata kaset pita jualannya di Pasar Beringharjo, Selasa (6/1/2026). Foto: Zhafran Naufal Hilmy/detikJogja
Jogja -

Di sebuah gang sempit berukuran dua meter yang terletak di sisi utara Pasar Beringharjo, Priyo Sanyoto, membuka lapaknya. Ia adalah penjual kaset terakhir yang masih bertahan di Pasar Beringharjo.

Meski usianya tak lagi muda, namun Priyo tetap semangat menyambut setiap orang yang singgah atau sekadar lihat-lihat.

"Silahkan, silahkan. Monggo mau cari apa, ngomong aja sama Pak Priyo," ucapnya dengan senyuman ketika sepasang wisatawan dari Blitar singgah di lapaknya pada Selasa (6/1/2026).

Di waktu yang bersamaan, detikJogja juga baru saja sampai di lapak Priyo. Semua orang yang mampir diperlakukan sama. Mau beli atau hanya mengobrol, pria berumur 68 tahun ini selalu menyambut dengan hangat.

"Kalau sekarang, saya jualan cuman buat hiburan aja, ngobrol sama orang," terangnya sembari duduk di atas kursi besi.

Tak berselang lama, satu keluarga asal Bandung yang tidak sengaja melintas, lantas mampir karena tertarik dengan tumpukan kaset yang berjejer. Salah seorang dari mereka mencari kaset Dewa 19, namun dengan berat hati, Priyo mengaku tidak punya. Lantas, ditawarkanlah kaset Ari Lasso sebagai alternatif.

"Saya biasanya tak suruh nyebut carinya apa, nanti dicarikan yang mendekati atau yang sejenis (genre musik)," kata Priyo setelah melayani pelanggannya.

Sejak kecil, Priyo memang sudah menyukai musik. Beragam jenis musik dia dengarkan, mulai dari pop Indonesia hingga rock barat. Berbekal kesukaannya itu, Priyo lalu memutuskan berjualan kaset agar bisa menghidupi keluarga sekaligus menghidupi hobinya.

Berawal dari Hobi

Pria yang memiliki tiga orang anak ini mengaku hobi mendengarkan musik. Dia banyak mengetahui soal musik meski tak memiliki keahlian untuk memainkan alat musik. Ketika ditanya tentang musik favoritnya, ia mengaku menyukai genre pop Indonesia seperti Ernie Djohan.

"Dulu sukanya pop-pop ringan (Indonesia), tapi juga sempat suka musik-musik keras, rock sama metal," ceritanya.

Pak Priyo penjual kaset pita di Pasar Beringharjo, Selasa (6/1/2026). Foto: Zhafran Naufal Hilmy/detikJogja

Dengan berjualan kaset, Priyo mampu menyekolahkan ketiga anaknya hingga di bangku perkuliahan. Bahkan, dua dari tiga anaknya menjadi pemain musik profesional yang sudah malang melintang dari Indonesia sampai mancanegara.

"Anak pertama jadi guru di SD Kanisius, Wirobrajan. Yang kedua sama ketiga jadi pemain musik klasik. Kemarin habis pulang dari Amerika, main sama kelompok orkestra," lanjut Priyo.

Di masa jayanya dulu, periode 1990-2000an omzet penjualan kaset Priyo bisa menghidupi keluarga. Bahkan bisa membiayai pendidikan tinggi anaknya. Namun, hari ini, pergeseran musik ke bentuk digital, membuat omzetnya turun drastis.

Jadi Tempat Nongkrong Era 90-an

"Waktu pertama kali jualan itu tahun 1988, umur berapa ya lupa," bebernya sambil mencoba mengingat-ingat.

Sebelum di Pasar Beringharjo, pria yang identik dengan sebutan Pak Priyo Kaset ini menjajakan dagangannya di depan Hamzah Batik, tepat di dekat tugu jam.

Priyo bercerita ketika tahun 90-an banyak anak-anak band atau pencinta musik hilir-mudik di lapaknya. Bahkan, seringkali mahasiswa-mahasiswa yang berkuliah di Jogja menggadaikan kasetnya pada Priyo.

"Banyak dulu, 'Pak, aku belum dapet kiriman, tak tinggal (gadai) dulu kasetnya', yang gitu-gitu banyak," ceritanya mengingat masa lalu.




(afn/alg)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork