Kabupaten Sumenep memiliki beragam tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi, mulai dari pantai dengan pemandangan alam yang indah hingga bangunan bersejarah yang menyimpan cerita masa lalu. Kabupaten di ujung timur Pulau Madura ini juga dikenal dengan kekayaan budaya dan wisata religinya.
Tak hanya menawarkan keindahan alam, sejumlah destinasi wisata di Sumenep juga mengajak pengunjung mengenal sejarah dan tradisi yang masih dilestarikan masyarakat setempat. Berikut rekomendasi tempat wisata di Sumenep yang bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu liburan.
Wisata Sumenep
Berbagai pilihan wisata Sumenep di bawah ini bisa menjadi alternatif bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus mengenal kekayaan budaya Pulau Madura.
1. Museum dan Keraton Sumenep
Keraton Sumenep merupakan bangunan bersejarah yang menjadi simbol kekuasaan sultan pada masa lalu. Keraton ini dibangun tahun 1762 pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo I (Tumenggung Arya Nata Kusuma) dan dirancang oleh arsitek asal Tionghoa bernama Lauw Phia Ngo.
Bangunannya perpaduan arsitektur Islam, Eropa, Tiongkok, dan Jawa. Pengunjung dapat melihat berbagai ornamen keraton, mulai dari pintu dan jendela hingga atap yang memiliki hiasan khas. Selain menjadi peninggalan sejarah, keraton ini juga memiliki nilai budaya dan arsitektur yang menarik untuk dipelajari.
Selain melihat bangunan keraton, pengunjung dapat mengenal sejarah pemerintahan, seni, dan kebudayaan Sumenep melalui Museum Keraton Sumenep yang berada di dalam kompleks keraton.
Museum Keraton Sumenep menyimpan berbagai peninggalan sejarah yang berkaitan dengan kehidupan bangsawan Sumenep pada masa lalu. Terdapat 53 koleksi utama di dalamnya, antara lain sebagai berikut.
- Foto Raden Adipati Aryo Samadikoen Prawotoadikoesoemo
- Koleksi foto para Bupati Sumenep
- Sarana pengadilan seperti kursi raja dan kursi saksi
- Lukisan para Sultan Sumenep
- Stempel kerajaan
- Kereta Kencana
Lokasinya berada di Jalan Dr Sutomo No.6, Lingkungan Delama, Pajagalan, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep. Kompleks Keraton Sumenep dapat dijangkau menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum dari pusat kota.
2. Gili Iyang
Gili Iyang merupakan salah satu destinasi wisata di Pulau Madura yang dikenal dengan sebutan Pulau Oksigen. Pulau seluas 9,15 kilometer persegi ini dihuni sekitar 8.000 penduduk yang tersebar di Desa Bancamara dan Banraas.
Berdasarkan penelitian Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) pada 2006, konsentrasi oksigen di Gili Iyang tercatat sebesar 20,9% pada siang hari dan meningkat menjadi 21% pada malam hari.
Kondisi tersebut membuat Gili Iyang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kadar oksigen tertinggi nomor 2 di dunia. Udara bersih di pulau ini juga kerap dikaitkan dengan umur panjang penduduknya. Berikut beberapa daya tarik utama di Gili Iyang.
- Oxygen Point merupakan lokasi di Desa Bancamara yang dilengkapi gazebo bambu untuk bersantai.
- Batu Cangga memiliki formasi batu besar berbentuk lengkungan alami dengan pemandangan laut.
- Pantai Ropet menawarkan pasir putih dan air jernih yang cocok untuk snorkeling dan fotografi.
- Gua Masterpiece memiliki stalaktit dan stalagmit yang menjadi daya tarik tersendiri.
Akomodasi di Gili Iyang tersedia dalam bentuk homestay lokal dengan fasilitas modern. Tarifnya berkisar Rp 400.000 per malam. Wisatawan juga dapat menyewa sepeda listrik seharga Rp 50.000 per hari atau mobil golf seharga Rp 100.000 per hari untuk berkeliling pulau.
Gili Iyang terletak di Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Perjalanan menuju Gili Iyang dapat ditempuh menggunakan perahu motor dari Pelabuhan Dungkek.
3. Desa Wisata Keris Aeng Tong-Tong
Desa Aeng Tong-Tong terletak di Kecamatan Saronggi, sekitar 15,1 km atau 30 menit perjalanan dari pusat Kota Sumenep. Sebagian besar penduduk desa ini berprofesi sebagai pembuat keris. Desa tersebut juga dikenal sebagai sentra keris yang mendapat pengakuan di tingkat nasional maupun internasional.
Aeng Tong-Tong merupakan salah satu dari 14 desa di Sumenep yang dikenal sebagai pusat pembuatan keris. Dijuluki sebagai "Negerinya Para Empu", desa ini menawarkan pengalaman budaya bagi pengunjung yang ingin melihat proses pembuatan keris secara langsung sekaligus mengenal makna di baliknya.
Tradisi pembuatan keris di Desa Aeng Tong-Tong masih dilestarikan hingga sekarang dan menjadi mata pencaharian sebagian masyarakat. Untuk menjaga tradisi tersebut, keterampilan membuat keris juga mulai dikenalkan kepada anak-anak sejak usia sekolah dasar (SD).
Diperkirakan terdapat ratusan empu yang berprofesi sebagai perajin keris di desa ini. Keris yang dihasilkan biasanya dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasar, pesanan pedagang, hingga permintaan kolektor dari dalam dan luar negeri.
Ciri khas keris buatan Desa Aeng Tong-Tong terletak pada pengerjaan bilah keris dan warangka atau sarungnya yang halus dengan ukiran khas. Maka tak heran, kerajinan dari desa ini pernah dipilih sebagai salah satu suvenir dalam kegiatan pendukung Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.
Selain itu, Desa Aeng Tong-Tong masuk dalam kategori Desa Wisata Terbaik pada Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. Desa ini juga disebut mendapat pengakuan UNESCO pada 2014 sebagai desa wisata dengan jumlah empu keris terbanyak di dunia.
4. Masjid Jamik Sumenep
Masjid Agung Sumenep yang juga dikenal sebagai Masjid Jamik Sumenep, merupakan salah satu destinasi wisata religi yang terkenal di Kabupaten Sumenep. Masjid ini dibangun pada 1779 hingga 1787 Masehi, pada masa pemerintahan Pangeran Natakusuma I atau Panembahan Somala dari Keraton Sumenep.
Pembangunannya menjadi bagian dari sejarah perkembangan Islam dan pusat kegiatan keagamaan di wilayah timur Pulau Madura. Masjid Jamik Sumenep memiliki arsitektur yang memadukan unsur Jawa, Tionghoa, Madura, dan Eropa.
Perpaduan tersebut menjadi salah satu ciri khas bangunan masjid ini. Keberadaan masjid dengan beragam unsur budaya tersebut juga menunjukkan adanya perpaduan pengaruh budaya dalam perkembangan arsitektur di Sumenep.
Secara geografis, Masjid Jamik Sumenep terletak di pusat kota dan berhadapan langsung dengan Alun-alun Sumenep. Lokasinya yang strategis membuat masjid ini mudah dijangkau oleh jamaah maupun wisatawan.
Setiap bulan Ramadan, Masjid Jamik Sumenep ramai dikunjungi jemaah. Berbagai kegiatan keagamaan, seperti sholat Tarawih, tadarus Al-Qur'an, dan kajian Islam, juga digelar di masjid ini.
Hingga kini, Masjid Jamik Sumenep tetap digunakan sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Bangunannya juga menjadi salah satu tujuan wisata religi bagi pengunjung yang ingin mengenal sejarah dan arsitektur masjid di Madura.
5. Asta Tinggi Sumenep
Asta Tinggi merupakan kompleks pemakaman raja-raja Sumenep dan kerabatnya. Kompleks ini terletak di Desa Kebun Agung, sekitar 2,5 km di sebelah barat laut pusat Kota Sumenep. Lokasinya berada di dataran tinggi sehingga dikenal dengan nama Asta Tinggi.
Berdasarkan keterangan pada prasasti di area pemakaman, kompleks ini berdiri pada 1644 Masehi, empat tahun sebelum Belanda masuk dan menjajah Madura. Asta Tinggi memiliki gapura utama dan gapura bagian dalam dengan perpaduan corak arsitektur Jawa, Tiongkok, dan Timur Tengah.
Di dalam kompleks terdapat bangunan cungkup makam beratap kubah yang menjadi tempat pemakaman para raja Sumenep dan kerabatnya. Asta Tinggi memiliki tiga bagian kompleks makam, yaitu sebagai berikut.
- Kompleks makam bawah, yaitu bagian pemakaman yang diperuntukkan bagi kalangan raden tertentu dari kelas bawah.
- Kompleks makam luar, yaitu bagian pemakaman bagi kalangan raden menengah yang bukan keturunan langsung raja Sumenep.
- Kompleks makam dalam, yaitu pemakaman keturunan langsung raja. Mereka umumnya memiliki gelar seperti Raden Panji, Raden Bagus, Raden Ayu, atau Dinayu.
Simak Video "Sumenep, Destinasi Impian dengan Pesona Alam dan Budaya"
(ihc/irb)