Liburan ke Pasuruan Wajib Mampir Desa Wisata Ini

Liburan ke Pasuruan Wajib Mampir Desa Wisata Ini

Irma Budiarti - detikJatim
Selasa, 08 Sep 2026 13:45 WIB
Lembah Gunung Tumpeng
Lembah Gunung Tumpeng. Foto: Istimewa/Kemenparekraf
Pasuruan -

Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, tidak hanya dikenal dengan destinasi wisata seperti kawasan Gunung Bromo dan sejumlah wisata alam pegunungan. Di balik itu, terdapat desa-desa yang menawarkan pengalaman wisata berbasis alam, budaya, pertanian, hingga kehidupan masyarakat setempat.

Berdasarkan data Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kementerian Pariwisata, terdapat 13 desa wisata di Kabupaten Pasuruan yang memiliki beragam potensi untuk dikunjungi. Daya tariknya pun cukup beragam, mulai dari kampung herbal, budidaya bunga edelweiss, wisata cagar budaya, hingga edukasi kopi dan pertanian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

13 Desa Wisata di Pasuruan

Ke-13 desa wisata tersebut tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Pasuruan. Setiap desa memiliki karakter dan potensi yang berbeda, mulai dari wisata alam dan perkebunan, peninggalan sejarah, tradisi masyarakat, hingga kegiatan edukasi yang bisa menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan.

1. Desa Wisata Sukolelo

Desa Wisata Sukolelo berada di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, tepat di bawah kaki Gunung Ringgit-Arjuno. Desa ini terdiri dari enam dusun, yakni Sukolelo, Kebonagung, Ganti, Junggo, Genting dan Sukodono.

ADVERTISEMENT

Salah satu daya tarik utama Sukolelo adalah Kampung Herbal yang mulai terbentuk pada 2018. Sejak 2019, kawasan ini dikembangkan dengan konsep eduwisata berbasis masyarakat. Wisatawan dapat mengenal berbagai tanaman herbal sekaligus mempelajari cara masyarakat membudidayakan dan mengolahnya.

Selain Kampung Herbal, Sukolelo memiliki Sendang Sumber Segaran di Dusun Kebonagung. Kawasan tersebut menawarkan sumber air, ikan terapi, serta edukasi pertanian terpadu seperti mina padi, kebun sayur dan peternakan kambing.

Wisatawan juga dapat mengunjungi kawasan pengelolaan sayuran organik di Dusun Junggo. Di sini tersedia kegiatan edukasi pengelolaan tanaman sekaligus pengalaman memetik sayuran pakcoy, sawi, dan jenis sayuran lainnya. Potensi wisata Sukolelo semakin lengkap dengan keberadaan budaya lokal serta produk UMKM.

2. Desa Wisata Andonosari

Desa Wisata Andonosari berada di Kecamatan Tutur, dan terletak di wilayah lereng tengah Suku Tengger. Nama Andonosari dalam cerita masyarakat berasal dari kata "andon" yang berarti numpang, dan "sare" yang berarti tidur, sehingga dimaknai sebagai tempat beristirahat atau transit.

Sejak masa kerajaan hingga kolonial, Andonosari disebut telah menjadi salah satu kawasan tujuan wisata. Jejak masa kolonial masih dapat ditemukan melalui sejumlah peninggalan, sementara potensi pertanian dan peternakannya terus berkembang.

Berbagai komoditas dapat ditemukan di desa ini, mulai dari apel, kentang, bunga krisan, paprika dan kopi hingga peternakan sapi perah. Andonosari juga memiliki kekayaan budaya dan tradisi.

Letaknya yang berada di antara Surabaya dan Malang membuat desa ini menjadi salah satu titik pertemuan berbagai budaya, termasuk budaya Tengger, pedalungan dan budaya perkotaan. Desa ini terbagi dalam enam dusun, yaitu Krajan I, Krajan II, Krajan III, Sugro, Sawahtalun dan Arjosari, yang memiliki potensi tersendiri.

3. Desa Wisata Cagar Budaya Wonosunyo

Desa Wisata Cagar Budaya Wonosunyo berada di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Meski Gempol dikenal sebagai kawasan dataran rendah, Wonosunyo berada di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut.

Lokasinya berada di lereng Gunung Penanggungan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto. Kondisi tersebut membuat Wonosunyo memiliki suasana pedesaan yang sejuk dan asri dengan latar kawasan pegunungan.

Salah satu daya tarik utama desa ini adalah kekayaan cagar budaya. Di Dusun Belahan Jowo, terdapat Candi Belahan atau Petirtaan Belahan yang oleh masyarakat setempat juga dikenal sebagai Sumber Tetek. Situs tersebut merupakan peninggalan dari masa Raja Airlangga.

Kehidupan budaya masyarakat juga menjadi bagian penting dari daya tarik Wonosunyo. Sejumlah tradisi dan kesenian masih dijalankan, seperti selamatan desa atau barik'an, kirab ancak, festival Candi Belahan, jaranan, musik patrol dan albanjari.

Sektor pertanian juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Berbagai hasil pertanian seperti jagung, kacang tanah, padi, empon-empon, singkong, sayuran dan buah-buahan dihasilkan dari lahan desa. Salah satu produk UMKM yang menjadi ikon desa adalah kerupuk samiler berbahan singkong.

Selain itu, masyarakat juga memproduksi minuman herbal seperti jahe instan dan wedang secang celup. Potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi paket wisata edukasi, wisata budaya, camping ground, tracking hingga live in cagar budaya.

4. Desa Wisata Coban Goa Jalmo

Desa Wisata Coban Goa Jalmo berada di Desa Cendono, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Desa ini berada di lereng Gunung Arjuno sehingga menawarkan suasana pedesaan yang asri dan sejuk.

Daya tarik utama desa ini adalah Coban Goa Jalmo, destinasi yang memadukan air terjun dan goa peninggalan Belanda. Pengembangannya sebagai destinasi wisata mulai dilakukan sejak 2018 oleh kelompok sadar wisata bersama karang taruna, pemuda dan masyarakat setempat.

Goa tersebut memiliki cerita yang berkembang di tengah masyarakat mengenai sejarah dan kisah mistisnya. Salah satu cerita yang dikenal adalah keberadaan ular berkepala manusia yang dipercaya hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu.

Kombinasi air terjun, goa, alam pegunungan dan cerita lokal membuat Coban Goa Jalmo memiliki karakter tersendiri sebagai destinasi wisata berbasis masyarakat. Desa Wisata Coban Goa Jalmo juga tercatat sebagai salah satu desa wisata yang masuk 500 Besar ADWI 2024.

5. Desa Wisata Edelweiss Wonokitri

Desa Wisata Edelweiss Wonokitri berada di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Desa ini memiliki daya tarik yang cukup unik karena menjadikan bunga edelweiss sebagai salah satu daya tarik wisata utamanya.

Bunga edelweiss merupakan tanaman yang dilindungi. Namun, kelompok pengelola di Wonokitri memperoleh izin untuk melakukan budidaya. Upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan konservasi, tetapi juga erat dengan kehidupan budaya masyarakat Suku Tengger.

Bagi masyarakat Wonokitri, edelweiss merupakan bunga sakral yang digunakan dalam sejumlah upacara adat. Wisatawan yang berkunjung dapat mengenal budidaya edelweiss sekaligus memahami pentingnya menjaga kelestarian tanaman tersebut.

Selain edukasi, wisatawan juga dapat menikmati panorama alam khas kawasan pegunungan Tengger. Desa Wisata Edelweiss Wonokitri tercatat masuk 75 Besar ADWI pada tahun 2023.

6. Desa Wisata Jatiarjo

Desa Wisata Jatiarjo berada di Kecamatan Prigen dan terletak di kaki Gunung Arjuno dengan ketinggian sekitar 665 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis tersebut membuat desa memiliki udara sejuk dan panorama alam yang asri.

Jatiarjo dikenal dengan konsep Kampung Kopi yang menawarkan pengalaman dan edukasi mengenai kopi khas lereng Arjuno. Selain wisata kopi, terdapat sejumlah daya tarik lain seperti Jendela Langit, Puthuk Elang, jeep tracking, camping ground, sirkuit motor trail dan jalur adventure.

Hasil perkebunan kopi juga menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat. Kopi Jatiarjo dikembangkan tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman wisata yang dapat dikenalkan kepada pengunjung.

Desa ini juga memiliki kedekatan dengan Taman Safari Prigen yang menjadi salah satu destinasi wisata besar di kawasan tersebut. Desa Wisata Jatiarjo tercatat masuk 300 Besar ADWI 2024.

7. Desa Wisata Kalipucang

Desa Wisata Kalipucang berada di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, di kawasan lereng pegunungan. Suasana sejuk langsung terasa ketika memasuki wilayah desa yang dikelilingi perkebunan.

Berbagai tanaman tumbuh di perkebunan warga, mulai dari kopi, cengkih dan sengon hingga pisang dan rumput gajah. Bunga krisan juga dibudidayakan di rumah hijau atau greenhouse.

Peternakan sapi perah menjadi salah satu aktivitas utama masyarakat. Sebagian besar warga menggantungkan penghasilan dari sektor tersebut sehingga kehidupan desa sangat erat dengan komoditas susu.

Kopi, cengkih dan sapi perah juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah kawasan. Pada masa kolonial Belanda, sapi perah dan sejumlah tanaman perkebunan diperkenalkan di wilayah tersebut.

Kalipucang juga memiliki kawasan hutan. Pengalaman kerusakan hutan pada masa lalu mendorong masyarakat untuk ikut menjaga dan menghijaukan kembali kawasan tersebut. Perpaduan perkebunan, peternakan, lingkungan dan kehidupan masyarakat menjadi potensi utama Desa Wisata Kalipucang.

8. Desa Wisata Kampung Banyumili

Desa Wisata Kampung Banyumili berada di Kelurahan Kolursari, Kecamatan Bangil. Lokasinya cukup strategis karena berada di kawasan perkotaan dan dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten Pasuruan serta akses keluar-masuk Tol Bangil.

Salah satu daya tarik utama Banyumili adalah aliran sungai dan Dam Bekacak yang dikembangkan menjadi kawasan wisata berbasis masyarakat. Pengunjung dapat menikmati aktivitas river tubing di aliran sungai Kedung Larangan.

Selain wisata alam, Banyumili juga memiliki daya tarik wisata religi dan sejarah melalui sosok Pak Sakera, tokoh yang dikenal masyarakat Bangil sebagai pejuang yang membela kaum kecil pada masa penjajahan Belanda.

Potensi pertanian juga dikembangkan melalui wisata edukasi, terutama ketika memasuki masa panen mangga dan alpukat. Salah satu waktu yang direkomendasikan untuk menikmati aktivitas petik buah adalah sekitar Agustus hingga Desember. Desa Wisata Kampung Banyumili tercatat masuk 300 Besar ADWI 2024.

9. Desa Wisata Kertosari

Desa Wisata Kertosari berada di Kecamatan Purwosari dan menjadi salah satu desa penyangga kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Letaknya berada di jalur nasional Surabaya-Malang dan berdekatan dengan Kebun Raya Purwodadi sehingga relatif mudah dijangkau.

Sebagian besar wilayah Kertosari merupakan lahan pertanian yang tersebar di enam dusun. Lanskap pertanian, hutan lindung dan kawasan sekitar Gunung Baung menjadi bagian dari daya tarik alam desa.

Berbagai destinasi dapat ditemukan di Kertosari, seperti Kampung Buah Tin, Randuwana, Air Terjun Gunung Baung, Win Agro, Embung Gusar, Kampung Tarzan dan Baung Canyon.

Kampung Buah Tin dan aktivitas arung jeram di aliran Sungai Welang menjadi salah satu daya tarik unggulan. Wisatawan juga dapat mengikuti edukasi batik dengan pewarna alami, tanaman organik, budidaya buah tin hingga pendidikan lingkungan.

Hal menarik lainnya adalah konsep wisata berkelanjutan yang diterapkan dalam paket wisata. Sejumlah kegiatan wisata diintegrasikan dengan aktivitas penanaman bibit pohon dan konservasi lingkungan.

Konsep tersebut turut mengantarkan Desa Wisata Kertosari meraih penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award atau ISTA kategori Pelestarian Lingkungan pada 2019. Desa Wisata Kertosari juga tercatat masuk 300 Besar ADWI 2024.

10. Desa Wisata Lembah Gunung Tumpeng

Desa Wisata Lembah Gunung Tumpeng berada di Desa Gerbo, Kecamatan Purwodadi. Desa ini merupakan salah satu desa penyangga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dengan ketinggian sekitar 700 hingga 800 meter di atas permukaan laut.

Gerbo memiliki bentang alam yang didominasi persawahan terasering dan perkebunan. Pemandangan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama karena memperlihatkan lanskap pertanian di lereng pegunungan.

Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani, pekebun dan peternak sapi perah. Aktivitas tersebut sekaligus menjadi bagian dari kehidupan dan potensi wisata desa. Kehidupan masyarakat Gerbo juga masih lekat dengan berbagai kesenian tradisional.

Beberapa kesenian yang masih digelar dalam kegiatan desa antara lain pencak silat, jaranan Senterewe, terbang rodat dan bantengan. Kearifan lokal dalam pertanian juga masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat meskipun teknologi pertanian modern telah berkembang.

11. Desa Wisata Pleret

Desa Wisata Pleret berada di Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan. Salah satu daya tarik utamanya adalah Dam Pleret 1904. Bendungan tersebut merupakan warisan cagar budaya peninggalan masa Belanda yang pada awalnya dibangun sebagai bagian dari sistem irigasi.

Seiring waktu, masyarakat melakukan upaya konservasi untuk menjaga kebersihan lingkungan di sekitar daerah aliran sungai. Potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi destinasi wisata oleh masyarakat setempat.

Lokasi Desa Pleret juga cukup strategis karena berbatasan dengan Kota Pasuruan. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Pasuruan sehingga dapat menjadi salah satu pilihan wisata yang mudah dijangkau. Desa Wisata Pleret tercatat masuk 500 Besar ADWI 2023.

12. Desa Wisata Tambaksari

Desa Wisata Tambaksari berada di Kecamatan Purwodadi dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Desa ini merupakan salah satu desa penyangga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan berada di jalur nasional Surabaya-Malang.

Tambaksari memiliki lanskap pertanian dan perkebunan serta panorama Gunung Arjuno. Kawasan ini juga dikenal memiliki sejumlah situs purbakala dan potensi alam yang beragam.

Beberapa daya tarik yang dapat ditemukan antara lain pendakian Gunung Arjuno, Kampung Alpukat, Sungai Bawah Tanah Sumur Gemuling, Air Terjun Gumandar, Situs Purbakala Bathara Guru, Meteor Garden, Goa Onto Bugo, Puncak Petung Ombo dan Putuk Lesung.

Desa ini juga memiliki potensi wisata edukasi, seperti edukasi budidaya alpukat, peternakan serta pengelolaan kopi dari hulu hingga hilir. Dari sisi budaya, masyarakat masih mempertahankan berbagai tradisi dan kesenian seperti Ruwatan, Jamasan Gongso, Sedekah Bumi, jaranan, campursari, seni tari dan albanjari.

Salah satu konsep yang dikembangkan dalam paket wisata Tambaksari adalah kegiatan penanaman bibit pohon di lereng Gunung Arjuno. Desa Wisata Tambaksari tercatat masuk 300 Besar ADWI 2023.

13. Desa Wisata Tosari Sanja Desa

Desa Wisata Tosari Sanja Desa berada di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, dan merupakan salah satu desa penyangga kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Desa Wisata Tosari memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Suku Tengger, khususnya pusat perekonomian Tengger Brang Kulon di wilayah Pasuruan. Desa ini memiliki berbagai potensi wisata alam dan kebudayaan yang belum banyak dikenal wisatawan.

Karena itu, pengelola mengajak wisatawan yang berkunjung ke Bromo untuk tidak hanya berhenti di kawasan Bromo, tetapi mampir dan mengenal kehidupan masyarakat Tengger di Tosari. Konsep tersebut dirangkum melalui semangat "Sanja Desa", yaitu ajakan untuk berkunjung dan mengenal lebih dekat kehidupan desa.

Dengan potensi alam, budaya dan kehidupan masyarakat Tengger, Tosari menjadi salah satu desa wisata yang dapat menjadi bagian dari perjalanan wisata menuju kawasan Bromo. Desa Wisata Tosari Sanja Desa tercatat masuk 300 Besar ADWI 2024.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads