Ketinggian Gunung Piramid Bondowoso memang hanya sekitar 1.521 meter di atas permukaan laut, tetapi karakter jalurnya yang sempit, curam, dan berada di atas punggungan terbuka membuat gunung ini berkali-kali menjadi sorotan.
Keindahan panorama dari puncaknya bahkan kerap berbanding terbalik dengan tingkat risiko yang harus dihadapi pendaki. Dalam beberapa tahun terakhir, Gunung Piramid beberapa kali menjadi perhatian publik setelah terjadi sejumlah kecelakaan pendakian, termasuk insiden yang merenggut nyawa pendaki.
Lantas, seperti apa sebenarnya Gunung Piramid, mengapa jalurnya dianggap ekstrem, dan tragedi apa saja yang pernah terjadi di sana? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenal Gunung Piramid Bondowoso
Gunung Piramid merupakan salah satu destinasi pendakian yang berada di Desa Tegal Tengah, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Nama "Piramid" diberikan masyarakat setempat karena bentuk puncaknya yang terlihat runcing menyerupai bangunan piramida jika dilihat dari kejauhan.
Gunung piramid (Foto: Chuk Shatu Widarsha |
Dengan ketinggian sekitar 1.521 mdpl, Gunung Piramid sebenarnya tidak termasuk gunung tinggi di Jawa Timur. Namun, medan pendakiannya justru dikenal jauh lebih menantang dibandingkan beberapa gunung yang memiliki elevasi lebih tinggi.
Hal tersebut disebabkan oleh karakter jalurnya yang didominasi tanjakan curam, punggungan sempit, hingga tebing dengan jurang di kedua sisinya. Inilah yang membuat Gunung Piramid lebih sering direkomendasikan bagi pendaki yang sudah memiliki pengalaman dibandingkan pemula.
Lokasi Gunung Piramid dan Cara Menuju Basecamp
Gunung Piramid berada di wilayah Curahdami, sekitar 30-40 menit perjalanan dari pusat Kota Bondowoso menggunakan kendaraan bermotor. Beberapa alternatif perjalanan menuju basecamp antara lain berikut.
- Melalui Bandara Notohadinegoro Jember yang dilanjutkan perjalanan darat sekitar 1,5 jam.
- Menggunakan bus antarkota menuju Terminal Bondowoso, kemudian melanjutkan perjalanan dengan kendaraan sewaan atau ojek menuju Desa Tegal Tengah.
- Menggunakan kereta api dengan turun di Stasiun Jember atau Stasiun Kalisat, kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju Bondowoso.
Akses menuju titik awal pendakian relatif mudah dijangkau kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun, menjelang jalur pendakian, kondisi jalan mulai menyempit dan menanjak sehingga pengunjung perlu berhati-hati.
Daya Tarik Gunung Piramid
Daya tarik utama Gunung Piramid bukan hanya terletak pada bentuk puncaknya yang unik, tetapi juga pengalaman pendakian yang berbeda dibandingkan gunung lain di Jawa Timur.
)Gunung Piramid Bondowoso (Foto: Chuk Shatu W/detikJatim |
Dari puncak, pendaki dapat menikmati panorama perbukitan Bondowoso, hamparan perkebunan, hingga lanskap pegunungan di sekitarnya ketika cuaca cerah.
Jalur yang berada di atas punggungan terbuka juga menawarkan pemandangan 360 derajat yang menjadi favorit para pencinta fotografi alam.
Meski demikian, keindahan tersebut harus dibayar dengan medan yang menguras tenaga dan membutuhkan konsentrasi tinggi sepanjang perjalanan menuju puncak.
Jalur Pendakian Gunung Piramid
Salah satu alasan Gunung Piramid begitu populer adalah keberadaan jalur Punggung Naga, yang dikenal sebagai salah satu trek pendakian paling ekstrem di Jawa.
Sebelum memasuki area tersebut, pendaki akan melewati Batu Langgar, sebuah batu berukuran besar yang oleh sebagian masyarakat sekitar dianggap sebagai lokasi yang memiliki nilai spiritual.
Setelah itu, pendakian berlanjut menuju jalur Punggung Naga sepanjang kurang lebih 1,5 kilometer. Jalur ini berupa jalan setapak yang hanya cukup dilalui satu orang dengan jurang curam di sisi kanan dan kiri.
Salah satu jalur di pendakian Gunung Piramid (Foto: Chuk Shatu Widarsha/ detikjatim) |
Di beberapa titik, kemiringan jalur disebut mendekati 90 derajat sehingga pendaki harus menggunakan tangan untuk menjaga keseimbangan. Karena lebarnya terbatas, dua pendaki yang berpapasan tidak dapat berjalan bersamaan.
Salah satu di antaranya harus berhenti di titik yang lebih aman hingga jalur kembali kosong. Tidak adanya pagar pengaman maupun tali pembatas membuat setiap langkah di jalur ini membutuhkan konsentrasi penuh.
Sedikit kesalahan pijakan atau longsoran tanah dapat berakibat fatal karena langsung mengarah ke jurang yang sangat dalam. Karakter inilah yang membuat Gunung Piramid memiliki tingkat risiko tinggi, terutama saat kondisi hujan, kabut tebal, atau angin kencang.
Deretan Tragedi Pendaki di Gunung Piramid Bondowoso
Nama Gunung Piramid tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga sejumlah kecelakaan pendakian yang pernah terjadi di jalur ekstrem tersebut.
Tragedi Thoriq Rizki Maulidan pada 2019
Salah satu insiden yang paling menyita perhatian publik terjadi pada Juni 2019. Thoriq Rizki Maulidan, pelajar asal Bondowoso, dilaporkan hilang saat turun dari puncak bersama tiga rekannya setelah cuaca memburuk.
Proses pencarian berlangsung selama 12 hari sebelum tim SAR menemukan korban dalam kondisi meninggal dunia di jurang sekitar jalur Punggung Naga pada 5 Juli 2019. Peristiwa ini menjadi salah satu operasi pencarian pendaki terbesar yang pernah dilakukan di Gunung Piramid.
Tragedi Multazam pada 2020
Setahun kemudian, kecelakaan kembali terjadi. Multazam, pelajar berusia 18 tahun, dilaporkan terjatuh ke jurang sedalam sekitar 100 meter saat turun dari puncak usai berswafoto.
Korban ditemukan oleh tim SAR gabungan setelah proses pencarian yang berlangsung cukup sulit karena medan terjal dan membutuhkan waktu sekitar sembilan jam untuk proses evakuasi.
Tragedi Maliya Finda dan Pemandu pada 2026
Peristiwa terbaru terjadi pada Agustus 2026 ketika pendaki asal Surabaya, Maliya Finda (51), melakukan pendakian bersama pemandu lokal Irfan Nasrul Laili (35).
Berdasarkan data Posko SAR di Kantor Kecamatan Curahdami dan informasi dari basecamp Dusun Tegal Tengah, keduanya memulai pendakian pada Minggu 2 Agustus 2026, sekitar pukul 07.00 WIB.
Kekhawatiran muncul setelah sepeda motor yang mereka titipkan di rumah warga belum diambil hingga keesokan harinya. Padahal, pendakian tektok umumnya dapat diselesaikan dalam waktu sekitar delapan jam. Tim SAR kemudian melakukan pencarian dan menemukan kedua korban dalam keadaan meninggal dunia.
Berdasarkan keterangan tim SAR, keduanya ditemukan sekitar 60-70 meter di bawah jalur pendakian pada kemiringan lereng sekitar 60 derajat. Dugaan sementara, keduanya terjatuh saat melintasi jalur pendakian yang curam.
Proses evakuasi dua pendaki Gunung Piramid Bondowoso dari jurang (Foto: Chuk Shatu W/detikJatim) |
Sebagian besar kecelakaan yang pernah terjadi di Gunung Piramid memiliki pola yang hampir serupa, yakni terjadi saat pendaki melintasi jalur punggungan yang sempit dan curam.
Medan yang didominasi tanah berpasir, batuan lepas, serta minimnya ruang untuk bermanuver membuat risiko terpeleset menjadi lebih tinggi, terutama ketika jalur basah akibat hujan atau tertutup kabut.
Karena itu, pendakian di Gunung Piramid memerlukan kondisi fisik yang prima, perlengkapan yang memadai, serta kemampuan manajemen risiko yang baik




