Puluhan hektare lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru terbakar. Titik awal api berasal dari Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang yang bukan merupakan kawasan wisata.
Pranata Humas Balai Besar TNBTS Endrip Wahyutama mengatakan sampai hari keempat ini penanganan kebakaran lebih diutamakan. Sampai sekarang titik api semakin meluas hingga menjangkau wilayah Kabupaten Malang.
"Ini hari ke empat, masih nyala (terbakar). Luas wilayah yang paling besar di wilayah Watugede, Kabupaten Probolingo," ungkap Endrip kepada wartawan, Kamis (6/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Endrip mengaku data terakhir yang diketahui, luas area terdampak kebakaran sudah mencapai 51 hektare. Namun pihaknya mengungkap bahwa kobaran api terus merembet hingga berapa luasan terdampak kebakaran sampai hari ini belum bisa diketahui.
"Sampai kemarin ada laporan 51 hektar. Tapi pasti nambah hari ini, berapa luasannya belum tahu," tegasnya.
Endrip juga mengungkapkan bahwa titik awal terjadinya kebakaran berada di Blok Bantengan di mana bukan masuk kawasan wisata Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Titik itu, menurut Endrip merupakan jalur tikus masyarakat dari wilayah Jemplang menuju Desa Argosari, Kabupaten Lumajang.
"Sumbernya di atas (Blok Bantengan), bukan lokasi wisata, bukan jalur umum juga. Itu jalur terabasan (jalur tikus) warga," bebernya.
Ditanya soal penyebab terjadinya kebakaran. Endrip menegaskan pihaknya akan menerjunkan tim investigasi setelah melakukan penanganan kebakaran hutan hingga tuntas.
"Kami sementara ini sampai hari keempat masih fokus pemadaman. Sedangkan asesesment penyebabnya setelah itu. Kami juga akan mencarikan tim investigasi untuk mengungkap penyebabnya," tegasnya.
Endrip mengaku upaya pemadaman titik api sendiri terkendala medan yang curam. Petugas hanya bisa mengandalkan cara gebyok, penyemprotan air, serta pemadaman dengan drone dan membuat sekat bakar.
Operasi water bombing dengan menerbangkan pesawat helikopter baru akan dilaksanakan mulai besok pagi.
"Sudut lereng yang curam itu sulit untuk mematikan api. Termasuk juga terkendala cuaca el nino. Jadi tanaman cukup kering, sehingga bahan bakar tumbuhan banyak sekali, jadi memang sedikit sulit dimatikan. Ketika sudah mati, tapi ada angin kencang itu ketiup lagi dan nyala lagi, itu yang tidak bisa diprediksi," terangnya.
Kondisi berbeda dikatakan Endrip terkait dampak kebakaran di bawah tebing. Petugas juga telah melakukan pendinginan agar kebakaran tidak meluas.
"Kalau di bawah mungkin sudah aman karena dilakukan pendinginan oleh petugas, tapi kalau yang di atas atau plerengan (tebing) yang susah. Karena jet shooter gak bisa jangkau. Jadi kita pakai drone itu tapi karena drone juga airnya terbatas hanya 100 liter," pungkasnya.
