Dosen UK Petra Soroti Pengelolaan KBS, Ini Inovasi Usulannya

Dosen UK Petra Soroti Pengelolaan KBS, Ini Inovasi Usulannya

Esti Widiyana - detikJatim
Rabu, 05 Agu 2026 20:20 WIB
Pakar Priwisata Kreatif Universitas Kristen Petra (UK Petra), Devi Destiani Andilas
Pakar Priwisata Kreatif Universitas Kristen Petra (UK Petra), Devi Destiani Andilas (Foto: Dok. Istimewa)
Surabaya -

Pakar Priwisata Kreatif Universitas Kristen Petra (UK Petra), Devi Destiani Andilas, S.E., MM.Par., menyoroti pengelolaan Kebun Binatang Surabaya (KBS). Ia lantas mengusulkan Program Coordinator Creative Tourism wisata satwa di Kota Pahlawan.

Menurutnya, KBS memiliki potensi finansial dan pengalaman wisata besar, namun memiliki potensi yang bisa dieksplorasi dan bukan hanya sekadar mengandalkan penjualan tiket masuk.

"Kebun binatang konvensional umumnya memang hanya mengandalkan tiket dan atraksi sederhana. Tetapi KBS tidak boleh mengandalkan hal ini saja. Jika dilihat dari experiential tourism, ada banyak potensi yang bisa dieksplorasi agar pengunjung tidak merasa monoton," kata Devi, Rabu (5/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Devi lantas menawarkan konsep behind the scene tour. Dalam konsep ini, pengunjung tidak hanya disuguhi pemandangan satwa dari balik kandang, tetapi diajak melihat langsung "dapur" pengelolaan kebun binatang.

ADVERTISEMENT

"Pengunjung bisa diajak tur behind the scene. Seperti di Jakarta Aquarium ada show mermaid, lalu pengunjung diberi kesempatan masuk ke balik tabung untuk melihat aktivitas staf memberikan makan dan perawatan. Nah, di KBS hal ini bisa menjadi edukasi profesi pengelola satwa yang memorable ," jelasnya.

Lalu ada konsep feeding animals, menurutnya pengalaman tersebut perlu ditingkatkan. Sehingga tidak hanya sekadar memegang wortel atau sayuran dan diberikan ke satwa.

"Kalau mau memberikan experience, pengunjung bisa diajak terlibat dalam prosesnya. Misalnya khusus pelajar dan mahasiswa, diajak melihat proses penyiapan nutrisi (meal plan), menyusun variasi makanan satwa bahkan melihat dan mensimulasikan secara langsung proses penyiapan pakan live-feeding bersama petugas. Kegiatan ini pasti diminati," urainya.

Bedah Kurikulum Sekolah untuk Paket Membership

Berdasarkan observasinya di lapangan, pengunjung kerap berkunjung berulang kali dalam setahun untuk piknik keluarga. Namun, untuk segmen pasar edukasi adalah TK, SD, hingga SMP, KBS dinilai perlu merancang paket kunjungan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan, salah satunya melalui sistem membership berbasis kurikulum sekolah.

"Tim pemasaran KBS harus jeli membedah kurikulum sekolah. Apa yang dipelajari di kelas, itu yang diintegrasikan dengan aktivitas di KBS. Misalnya, materi kelas 2 SD semester satu tentang metamorfosis atau ganti kulit ular, lalu semester dua tentang rantai makanan. KBS bisa menyediakan paket 5 kali kunjungan dalam setahun dengan topik berbeda yang disesuaikan dengan pelajaran sekolah. Kalau dipaketkan, harganya bisa lebih terjangkau," urai pakar Pariwisata Kreatif tersebut.

Inovasi Tanpa Perlu Tambah Lahan Baru

Ia menilai, KBS tak perlu pusing memperluas lahan untuk menambah wahana. Optimalisasi area yang ada lewat acara tematik dan penyewaan area dapat menjadi kunci pendapatan non-tiket.

Devi pun menyarankan manajemen KBS lebih kreatif mengolah potensi internal. "Misalnya saja untuk acara tematik bisa membuat tur kerangka fosil hingga edukasi pemakaman satwa yang dibuka secara berseri di bulan-bulan tertentu agar pengunjung tidak bosan. Selain itu, area terbuka KBS yang luas sangat potensial disewakan untuk acara perusahaan maupun kegiatan komunitas," jelasnya.

Lewat inovasi kemasan produk (product packaging) dan wisata berbasis pengalaman (experiential tourism), KBS diharapkan tak hanya bangkit dari masalah tata kelola, tetapi juga bertransformasi menjadi destinasi edukasi modern yang mandiri secara finansial.

Pandangan ini hadir sebagai sumbangsih pemikiran dari kacamata pariwisata kreatif untuk memperkaya perspektif pengembangan destinasi edukasi. Pada akhirnya, eksekusi program dan bentuk inovasi tetap dikembalikan pada kebijakan serta strategi internal pengelola kawasan.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads