Kelayakan Jembatan Kaca Bromo Diperiksa BGTS, Ini Hasilnya

Kelayakan Jembatan Kaca Bromo Diperiksa BGTS, Ini Hasilnya

M Rofiq - detikJatim
Jumat, 26 Jun 2026 07:30 WIB
Jembatan Kaca Bromo
Jembatan Kaca Bromo (Foto: M Rofiq/detikJatim)
Probolinggo -

Jembatan Kaca Seruni Point di kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Bromo-Tengger-Semeru (BTS) semakin dekat untuk dibuka. Menjelang agenda pre-launching pada Sabtu, 27 Juni 2026, pemeriksaan akhir terhadap aspek keamanan dan kelayakan jembatan kembali dilakukan.

Pada Kamis, 25 Juni 2026, sejumlah pejabat turun langsung ke lokasi untuk melaksanakan inspeksi final sekaligus sosialisasi di area jembatan yang berada di Bukit Seruni Point.

Dalam kegiatan itu hadir Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kementerian Kehutanan Nunu Anugrah, PPK Balai Geoteknik, Terowongan, dan Struktur (BGTS) Kementerian PUPR Agung Wahyudi, perwakilan TNBTS, Kepala Disporapar Kabupaten Probolinggo Heri Mulyadi, serta jajaran Forkopimcam Sukapura.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka meninjau langsung jembatan dengan berjalan di atas lantai kaca sepanjang 130 meter yang berdiri pada ketinggian 83 meter. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapan infrastruktur yang disebut-sebut sebagai jembatan kaca pertama di Indonesia tersebut.

PPK BGTS Kementerian PUPR Agung Wahyudi menegaskan bahwa Jembatan Kaca Seruni Point aman dilalui pengunjung. Ia menjelaskan, kepastian tersebut didasarkan pada serangkaian pengujian teknis di laboratorium, termasuk uji beban hingga material mencapai batas kerusakan.

ADVERTISEMENT

Menurut Agung, material yang digunakan adalah laminated glass, yaitu kombinasi antara tempered glass dan lapisan interlayer SentryGlass Plus (SGP).

Setiap panel kaca memiliki ukuran 1,8 meter x 1,5 meter dengan berat sekitar 180 kilogram. Struktur panel tersusun dari kaca setebal 12 milimeter, lapisan SGP 1,52 milimeter, dan kaca 12 milimeter, sehingga total ketebalannya mencapai 25,52 milimeter.

"Hasil pengujian menunjukkan lapisan kaca bagian bawah baru mengalami retak pertama setelah menerima beban sebesar 6.290 kilogram atau sekitar 6,2 ton. Uji kemudian diteruskan hingga lapisan kaca bagian atas pecah pada beban 3.980 kilogram" ujar Agung, Jumat (26/6/2026).

Agung menambahkan, selain pengujian ekstrem di laboratorium, tim juga melakukan simulasi beban untuk kondisi operasional harian. Simulasi dilakukan dengan menempatkan delapan orang dewasa secara bersamaan di atas jembatan serta menggunakan bantalan karet jembatan. Dari pengujian tersebut, tidak ditemukan retakan maupun kerusakan pada kaca.

Agung menjelaskan, Jembatan Kaca Seruni Point dirancang memiliki umur layanan hingga 50 tahun. Masa pakai itu disebut lebih panjang dibanding jembatan gantung pada umumnya yang biasanya dirancang sekitar 20 tahun.
Meski demikian, usia panjang tersebut sangat bergantung pada pemeliharaan yang dilakukan secara rutin dan konsisten.

"Jembatan seperti manusia yang perlu dirawat agar bisa bertahan lama. Karena merupakan konstruksi buatan, jembatan juga membutuhkan perawatan berkala serta penggantian sejumlah komponen tertentu" tambahnya.

Menurutnya, struktur utama jembatan dirancang mampu bertahan sesuai umur rencana. Namun, beberapa elemen nonstruktural seperti jaring pengaman, safety walk, sealant sambungan kaca, hingga lapisan cat pelindung memiliki usia pakai lebih pendek sehingga harus diganti secara periodik.

Kerusakan kecil yang tidak segera ditangani berpotensi berkembang menjadi titik kritis yang dapat memengaruhi keamanan jembatan secara keseluruhan" tegasnya.

General Manager The Lawu Group Achmad Ridho mengatakan pihak pengelola telah menyiapkan sistem perawatan khusus untuk jembatan tersebut. Pemeliharaan nantinya tidak akan diserahkan kepada pihak ketiga, melainkan ditangani langsung oleh tim internal.

"Berdasarkan pengalaman mengelola Jembatan Kaca Kemuning, manajemen membentuk tim yang sejak awal sudah terlibat dalam proses pembangunan hingga tahap pengujian" kata Ridho.

Untuk perawatan harian, pihak pengelola menyiagakan tim khusus di lokasi. Selain itu, mereka juga melibatkan dua personel bentukan BGTS yang sebelumnya ikut menangani proyek pembangunan jembatan. Dengan demikian, pendampingan teknis dan inspeksi detail bisa dilakukan setiap hari oleh personel yang memahami karakter konstruksi jembatan tersebut.

"Tak hanya menawarkan sensasi berjalan di atas lantai kaca transparan, jembatan yang mulai dibangun pada September 2021 ini juga menghadirkan pemandangan khas Bromo dari sudut pandang berbeda" ujar Ridho.

Kepala Disporapar Kabupaten Probolinggo Heri Mulyadi menyebut Jembatan Kaca Seruni Point memiliki daya tarik visual yang sulit ditemukan di tempat lain.

"Dari atas jembatan, wisatawan dapat menikmati panorama kawasan Bromo dari sudut baru. Pemandangan Gunung Bromo, Gunung Semeru, dan Gunung Batok dapat terlihat dalam satu bingkai sekaligus dari atas lantai kaca transparan" kata Heri.

Selain itu, di sisi selatan pengunjung juga bisa menyaksikan hamparan lautan pasir yang berpadu dengan lembah serta perbukitan hijau di sekitarnya.

Heri optimistis kehadiran Jembatan Kaca Seruni Point akan menjadi ikon wisata unggulan baru, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga berpotensi menarik perhatian wisatawan mancanegara.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads