Lontong menjadi salah satu pendamping kuliner yang tak terpisahkan dari warga Surabaya, mulai dari Lontong Balap hingga Lontong Kupang. Namun, di balik sajian yang mudah ditemukan di setiap sudut kota ini, terdapat proses produksi masif yang menyuplai kebutuhan ribuan pedagang setiap harinya.
Pusat produksi tersebut berada di kawasan Kampung Lontong, Surabaya. Tidak hanya sekedar sentra kuliner, kampung ini memiliki ekosistem ekonomi unik yang menjaga tradisi pembuatan lontong secara turun-temurun di tengah modernisasi kota.
Mengenal Kampung Lontong
Melangkah masuk ke kawasan Banyu Urip, tempat Kampung Lontong berada, suasana kesibukan langsung terasa. Berbeda dengan pemukiman pada umumnya, pemandangan tumpukan daun pisang segar dan karung-karung beras menjadi ornamen wajib di teras-teras rumah warga. Aroma khas daun pisang yang dikukus menyeruak di udara, menandakan dapur-dapur warga sedang mengepul, memproduksi ribuan lontong siap jual.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga Kampung Lontong menggotong daun pisang Foto: Rifki Afifan Pridiasto |
Dilansir dari laman resminya, mayoritas penduduk di kampung ini memang menggantungkan hidup sebagai produsen lontong. Aktivitas ini bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan profesi utama yang ditekuni dengan telaten. Mulai dari mencuci beras, membentuk selongsong daun pisang, hingga proses perebusan yang memakan waktu berjam-jam, semua dilakukan secara mandiri di rumah-rumah warga.
Kualitas menjadi kunci utama. Proses tradisional yang dipertahankan dari generasi ke generasi inilah yang membuat lontong dari Banyu Urip memiliki tekstur dan rasa yang khas. Tak heran jika produk dari kampung ini menjadi incaran para pedagang makanan di berbagai pasar di Surabaya dan sekitarnya.
Jejak Sejarah Kampung Lontong
Sebelum dikenal sebagai Kampung Lontong, kampung ini merupakan kampung yang terkenal akan produksi tempenya. Pada tahun 1960, tempe merupakan produk unggulan hingga muncul sebutan "Bog Tempe" yang menjadi pusat penggemar tempe dari berbagai daerah.
Hingga pada tahun 1970-an, beberapa faktor seperti persaingan pasar, tidak ada penerus, dan sulitnya mencari pekerjaan membuat produksi tempe mengalami penurunan yang signifikan.
Menghadapi situasi tersebut, warga melihat peluang lebih pada industri lontong. Warga akhirnya mengambil langkah untuk beralih ke produksi lontong, dan hingga saat ini dikenal sebagai Kampung Lontong.
Pedangang lontong menyiapkan bungkusan untuk membungkus lontong Foto: Rifki Afifan Pridiasto/detikJatim |
Eksistensi Kampung Lontong sebagai sentra UMKM yang masif tidak lepas dari sejarah panjang dan peran sosok bernama Alm. Ibu Ramiah. Ia yang disebut-sebut sebagai pionir yang menanamkan fondasi ekonomi di kampung ini sejak tahun 1974.
Semasa hidupnya, Ibu Ramiah tidak pelit ilmu. Ia dengan sukarela mengajarkan teknik pembuatan lontong yang baik kepada para tetangga dan masyarakat sekitar.
Semangat berbagi inilah yang kemudian menular dan membentuk karakter kampung yang guyub. Warga yang awalnya hanya melihat, mulai ikut belajar dan memproduksi sendiri.
Hingga kini, ilmu tersebut terus diwariskan. Warga setempat menyadari bahwa keterampilan ini adalah aset berharga. Dengan memproduksi lontong, mereka tidak hanya melestarikan warisan kuliner, tetapi juga menciptakan lapangan kerja mandiri di tengah padatnya persaingan ekonomi perkotaan.
Produksi Ribuan Buah Per Hari
Skala produksi di Kampung Lontong terbilang fantastis untuk ukuran industri rumahan. Dalam satu hari biasa, seorang perajin lontong di sini minimal bisa menjual sekitar 800 buah lontong. Angka ini bisa melonjak drastis saat momen-momen tertentu.
Ketika memasuki hari-hari besar keagamaan, seperti Bulan Ramadan, Idul Fitri, atau peringatan hari besar kenegaraan, permintaan pasar meningkat tajam. Para perajin bisa memproduksi hingga 2.000 buah lontong per hari. Angka ini menunjukkan betapa vitalnya peran Kampung Lontong dalam menyuplai kebutuhan pangan masyarakat Surabaya.
Aktivitas di Kampung Lontong Surabaya. Foto: Aprilia Devi/detikJatim) |
Seiring dengan semakin dikenalnya kawasan ini, warga pun berinisiatif membentuk wadah resmi untuk mengorganisir kegiatan mereka. Paguyuban Kampung Lontong pun didirikan, dengan Pak Yunus sebagai ketuanya. Pak Yunus sendiri merupakan putra dari Alm. Ibu Ramiah, sang perintis kampung.
Uniknya, Pak Yunus telah memimpin paguyuban ini sejak era 90-an. Kesibukan warga dalam memproduksi lontong membuat regenerasi kepemimpinan berjalan lambat, sehingga Pak Yunus tetap dipercaya memegang komando hingga kini.
Keberadaan paguyuban ini sangat krusial, terutama dalam menyambut tamu-tamu penting. Popularitas Kampung Lontong memang kerap menarik perhatian publik figur hingga pejabat.
Tercatat, selebriti koki seperti Chef Arnold Poernomo hingga Wali Kota Surabaya pernah menyambangi kampung ini. Paguyubanlah yang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya agar citra kampung tetap terjaga dengan baik di mata para tamu.
Warisan yang dijaga turun temurun menjadi identitas unik yang wajib untuk dilestarikan.
Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(ihc/ihc)














































