Bulan Ramadan menjadi momen istimewa bagi masyarakat Jawa Timur untuk melakukan wisata religi yang sarat nilai spiritual dan sejarah. Selama Ramadan, berbagai destinasi religi di Jawa Timur, seperti makam para wali, tokoh ulama besar, hingga masjid-masjid bersejarah, ramai dikunjungi peziarah dan wisatawan dari berbagai daerah.
Wisata religi Ramadan di Jawa Timur tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan ziarah, tetapi juga sebagai sarana refleksi diri, memperkuat keimanan, serta mengenang perjuangan para tokoh agama dalam menyebarkan Islam yang damai dan toleran. Tradisi ini juga menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa Timur yang menggabungkan spiritualitas, sejarah, dan kearifan lokal dalam suasana Ramadan yang khusyuk.
Rekomendasi Wisata Religi di Jawa Timur
Berikut rekomendasi wisata religi di Jawa Timur yang bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu ibadah selama bulan suci Ramadan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Masjid Namira
Masjid Namira Lamongan Foto: Icha |
Masjid Namira menjadi salah satu destinasi wisata religi yang menyuguhkan interior megah dan unik. Masjid ini dikenal sebagai tempat ibadah termegah di Lamongan. Masjid ini dibangun oleh pasangan suami istri Helmy Riza dan Eny Yuli Arafah.
Keduanya bersepakat memberi nama Masjid Namira. Nama tersebut diambil dari nama anak perempuan mereka yaitu Ghasani Namira Mirza. Masjid ini sempat viral pada 2017. Dari situlah, masjid ini dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai daerah. Berlokasi di Jalan Raya Mantup KM 5, Sanur, Jotosanur, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan.
2. Masjid Cheng Hoo
Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya Foto: Deny Prastyo |
Masjid Cheng Hoo dibangun atas inisiatif dari komunitas muslim Tionghoa di Surabaya yang tergabung dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Alasan didirikannya adalah menghormati Laksamana Cheng Ho, penjelajah dan panglima angkatan kaut dari Dinasti Ming yang beragama Islam.
Sosoknya dikenal berjasa menyebarkan Islam di kawasan Asia Tenggara, khususnya Nusantara melalui ekspedisi maritim pada abad ke-15. Tujuan dibangunnya masjid ini untuk memperat hubungan masyarakat Tionghoa dan umat Islam. Masjid Cheng Ho diresmikan pada tahun 2002. Berlokasi di Jalan Gading, No. 2, Ketabang, Kecamatan Genteng, Surabaya.
Kini, masjid ini tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi destinasi wisata religi yang menyenangkan. Di sana, para wisatawan dapat mengetahui lebih dalam mengenai sejarah Islam dan peran Laksamana Cheng Ho.
Masjid ini memiliki beragam fasilitas, meliputi area parkir yang luas, warung makan, hingga toko souvernir tersedia di sana.
3. Masjid Tiban
Masjid Tiban Foto: Getty Images |
Masjid Tiban atau dikenal dengan nama Masjid Turen Masjid ini terkenal hingga mancanegara. Konon, pembangunannya dibantu dengan jin. Cerita itu berdasarkan proses pembangunan masjid yang dinilai tak terlihat dan berlangsung cepat.
Pasalnya, bangunan ini telah berlangsung sejak lama. Peletakan batu pertama terjadi pada 1987-an. Masjid itu masih semi permanen hingga 1992.
Pembangunan Masjid Tiban berawal dari hasil istikharah KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh. Sebenarnya, masjid ini adalah Pondok Pesantren bernama Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah.
Lokasi masjid ini berada di Jalan Wakhid Hasyim, Gang Anggur Nomor 10, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Masjid tiban. Masjid ini terdiri dari 10 lantai. Lantai 1 sebagai tempat istirahat dan musala, lantai 2 terdapat loket, tempat istirahat. Tempat makan dan dapur. Lalu lantai 3 terdapat musala dan akuarium. Lantai 4 digunakan ruang khusus keluarga pengasuh pondok. Lantai 5 ruang musala, lantai 6 tempat istirahat para santri, sedangkan lantai 7 dan 8 untuk toko yang dikelola santri. Lantai 9 didesain sebagai lereng gunung, dan lantai 10 menjadi gua sekaligus puncak gunung.
4. Masjid Ar-Rahman
Masjid Ar Rahman Blitar Foto: Lusiana Mustinda |
Masjid Ar-Rahman terkenal akan arsitekturnya yang terinspirasi dari Masjid Nabawi. Ikon utamanya terdapat pada payung-payung besar yang ada di halamannya. Diresmikan pada tahun 2019. Letaknya di jalan Ciliwung No. 2, Kota Blitar. Hingga kini, Masjid Ar-Rahman masih ramai dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah.
5. Makam Sunan Ampel
Salah satu dari lima gapuro di Makam Sunan Ampel. Foto: Malik Ibnu Zaman |
Makam Sunan Ampel menjadi wisata religi yang paling terkenal di Surabaya. Makam ini merupakan tempat peristirahatan terakhir dari Raden Mohammad Ali Rahmatullah. Beliau merupakan penyebar agama Islam di wilayah Surabaya.
Letak makam ini berada di Jalan Ampel Masjid No. 4, Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya. Buka setiap hari dan tidak dipungut biaya. Ajaran Sunan Ampel yang selalu dikenang adalah Moh Limo. Ajaran ini berisi lima wejangan, yakni Moh Main, Moh Maling, Moh Ngombe, Moh Madat, dan Moh Madon.
6. Makam Sunan Giri
Salah satu makam di daerah Gresik yang banyak dikunjungi adalah Makam Sunan Giri. Makam ini berlokasi di Dusun Giri Gajah, Desa Giri, Kecamatan Kebomas. Sunan Giri memiliki nama asli Muhammad Ainul Yaqin. Biasanya, makam ini ramai menjelang bulan suci Ramadhan. Di sana, umat muslim akan melalukan ziarah dengan melantunkan salawat dan mengirim doa untuk Syekh Maulana Malik Ibrahim. Sosoknya merupakan penyebar Islam di wilayah Gresik.
7. Makam Sunan Drajat
Kompleks makam Sunan Drajat Foto: Eko Sudjarwo/detikJatim |
Selain Makam Sunan Ampel dan Sunan Giri, ada pula Makam Sunan Drajat yang banyak menjadi jujukan wisatawan. Sunan Drajat merupakan seorang wali yang menyebarkan agama Islam di wilayah Lamongan. Beliau memiliki nama asli Raden Qasim.
Makam Sunan Drajat berlokasi di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Sejumlah peninggalannya masih tersimpan, meliputi sisa perangkat gamelan, mulai dari angklung, ketuk, rebab, gender, dan saron.
8. Makam Gus Dur
Makam Gus Dur di Ponpes Tebuireng, Jombang Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim |
Makam Gus Dur menjadi destinasi wisata religi yang paling dikenal di Jawa Timur. Mengingat, sosoknya merupakan Presiden ke-4 Republik Indonesia sekaligus tokoh besar Nahdlatul Ulama. Lokasi makamnya berada di Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Makam ini tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas nilai kebangsaan dan keberagaman yang diwariskan Gus Dur.
Wisata religi ini tidak hanya menawarkan ketenangan batin, tetapi juga pengalaman edukatif tentang sejarah Islam di Nusantara. Dengan berkunjung ke tempat-tempat suci tersebut, wisatawan dapat merasakan atmosfer spiritual sekaligus memperkaya wawasan keislaman dan budaya lokal.
Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(ihc/dpe)







