Masjid Jami Malang, Masjid Tertua dan Simbol Toleransi Kota Malang

Masjid Jami Malang, Masjid Tertua dan Simbol Toleransi Kota Malang

Muhammad Faishal Haq - detikJatim
Kamis, 29 Jan 2026 01:00 WIB
Masjid Agung Jami Malang
Masjid Agung Jami Malang. Foto: Istimewa
Malang -

Hidup berdampingan dalam keberagaman telah lama menjadi nilai sosial yang melekat kuat pada masyarakat Indonesia. Di beberapa kota, potret kerukunan ini tervisualisasi secara nyata melalui letak rumah ibadah yang saling berdekatan, namun tetap harmonis selama puluhan tahun.

Realitas damai ini tercermin jelas pada Masjid Agung Jami Malang yang berdiri megah tak jauh dari GPIB Immanuel. Sebagai simbol toleransi dan masjid tertua di kota ini, Masjid Jami menyimpan cerita menarik tentang persaudaraan antar umat beragama yang penting untuk diketahui publik.

Simbol Persaudaraan di Jantung Kota

Masjid yang berlokasi tepat di depan Alun-alun Merdeka ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ikon kerukunan di Kota Malang. Atmosfer toleransi terasa kental karena letaknya yang berdekatan dengan gereja tertua di kota ini, GPIB Immanuel, serta Gereja Kayutangan yang juga berada di kawasan yang sama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pekerja membersihkan lantai di Masjid Agung Jami, Kota Malang, Jawa Timur, Senin (11/3/2024). Kegiatan itu guna memberikan kenyamanan bagi umat Islam yang akan melaksanakan ibadah bulan Ramadhan di masjid tertua di kota Malang yang berusia 130 tahun tersebut. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/aww.Pekerja membersihkan lantai di Masjid Agung Jami, Kota Malang, Jawa Timur, Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Mengutip laporan detikJatim, harmoni antarumat beragama ini terlihat nyata pada momen-momen besar keagamaan. Seperti saat perayaan Idul Fitri atau Idul Adha, di mana ribuan jemaah memadati area masjid hingga ke jalan raya.

Pihak gereja menunjukkan toleransi tinggi dengan menyesuaikan jadwal kebaktian mereka. Kebaktian biasanya akan diundur untuk memberikan keleluasaan bagi muslim menjalankan salat Ied.

ADVERTISEMENT

Kerukunan ini berlaku dua arah. Takmir masjid juga proaktif memberikan informasi kepada pihak gereja jika hendak menggelar pengajian besar, tujuannya agar kegiatan tersebut tidak mengganggu kekhusyukan ibadah di gereja jika waktunya bersamaan.

Bahkan, kerja sama ini menyentuh hal teknis seperti fasilitas parkir. Halaman depan masjid kerap digunakan sebagai kantong parkir bagi jemaah gereja saat ada kegiatan besar, begitupun sebaliknya. Sebuah potret saling pengertian yang sudah terjalin bertahun-tahun.

Perpaduan Arsitektur Jawa dan Arab

Selain nilai sosialnya, Masjid Agung Jami Malang juga memiliki nilai sejarah dan artistik yang tinggi. Berdasarkan data dari laman resmi masjid, bangunan ini mengadopsi dua gaya arsitektur sekaligus, yakni Jawa dan Arab.

Masjid Agung Jami' Kota MalangMasjid Agung Jami' Kota Malang Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim

Gaya Jawa sangat terasa pada struktur bangunan lama yang mempertahankan atap berbentuk tajug. Sentuhan Arab terlihat dominan pada kubah menara serta konstruksi lengkung pintu dan jendela-jendelanya. Hingga kini, bangunan asli berstruktur baja dan berbentuk bujur sangkar ini masih dipertahankan keasliannya.

Saksi Sejarah Sejak 1890

Menilik sejarahnya, masjid ini berdiri di atas tanah negara (Goepernemen) seluas kurang lebih 3.000 meter persegi. Pembangunannya dilakukan dalam dua fase besar.

Tahap pertama dimulai pada tahun 1890. Kemudian, pengembangan tahap kedua dilakukan belasan tahun setelahnya, tepatnya dimulai pada 15 Maret 1903 dan rampung pada 13 September 1903.

Mengutip Disporapar Kota Malang, lokasi masjid ini memang sangat strategis dan tidak pernah bergeser dari fungsinya sebagai masjid utama kota. Beralamat di Jalan Merdeka Barat No 3, bangunan ini diapit oleh gedung-gedung vital lainnya.

Seperti Bank Mandiri di sisi selatan dan kantor Asuransi Jiwasraya di sisi utara, menjadikannya penanda kawasan yang mudah dikenali siapa saja yang berkunjung ke Malang.

Hingga kini, Masjid Agung Jami terus berdiri kokoh sebagai saksi bisu perkembangan Malang dari masa ke masa. Kehadirannya bukan hanya menjadi kebanggaan warga setempat, tetapi warisan berharga yang mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan dapat hidup berdampingan secara damai dalam satu naungan sejarah.

Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.



(ihc/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads