Di tengah keramaian aktivitas warga Kota Surabaya, terdapat sebuah kawasan yang seolah memiliki detak jantungnya sendiri. Kawasan itu adalah Sidosermo, atau yang lebih akrab dikenal masyarakat setempat sebagai Ndresmo.
Di sinilah terbaring jasad seorang ulama besar sekaligus pejuang yang gigih, Sayyid Ali Asghor Basyaiban. Makamnya bukan sekadar nisan penanda kematian, melainkan monumen hidup yang menceritakan kisah panjang tentang syiar Islam dan perlawanan terhadap kolonialisme di Tanah Jawa.
Baca juga: Mengenang Gombloh Sang Maestro Jawa Timur |
Sejarah Kawasan Ndresmo
Sejarah Sidosermo tidak bisa dilepaskan dari sosok ayahanda Sayyid Ali Asghor, yakni Sayyid Ali Akbar Basyaiban. Dikutip dari buku berjudul "Tempat-
tempat Bersejarah di Kota Surabaya" yang ditulis Purnawan Basundoro dan Dio Yulian Sofansyah, pada masa kolonial abad ke-16 hingga ke-19, kawasan ini hanyalah hutan belantara dan rawa-rawa angker yang dikenal dengan nama Alas Demungan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam munajat pengembaraannya, Sayyid Ali Akbar menerima petunjuk berupa cahaya terang yang jatuh di hutan tersebut. Atas restu ayahnya, Sayyid Sulaiman (pendiri Pesantren Sidogiri), Sayyid Ali Akbar membabat hutan tersebut dibantu oleh lima orang santri.
Di tempat itulah mereka mendirikan langgar dan rumah. Rutinitas kelima santri yang setiap malam menderes (membaca/mempelajari) Al-Qur'an dan kitab kuning melahirkan sebuah nama ikonik.
"Sing nderes kabehe limo" (yang mengaji jumlahnya lima), begitulah ujar Sayyid Ali Akbar, yang kemudian mengubah nama Alas Demungan menjadi Ndresmo. Nama ini terus hidup, bertransformasi secara administratif menjadi Sidosermo, namun tetap menyimpan ruh spiritualitas yang sama.
Sosok Sayyid Ali Asghor
Estafet perjuangan di kampung santri ini kemudian dilanjutkan putranya, Sayyid Ali Asghor Basyaiban. Lahir sekitar abad ke-17 di tengah gejolak pelarangan penyebaran agama Islam oleh Belanda, Sayyid Ali Asghor tumbuh dengan mewarisi jiwa patriotisme sang ayah.
Makam Sayyid Ali Asghor Basyaiban di Sidosermo Surabaya yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya Foto: Muhammad Faishal Haq/ detikjatim |
Sosoknya begitu dihormati hingga masyarakat menjulukinya "Kyai Ndresmo". Namun, bagi pemerintah kolonial Belanda, ia adalah ancaman. Belanda menganggap syiar Islam yang dilakukan Sayyid Ali Asghor dapat menggoyahkan stabilitas politik dan kekuasaan mereka.
Upaya pembungkaman pun dilakukan, Sayyid Ali Asghor sempat diasingkan ke daerah Singkil, Sidoarjo. Namun, dengan kecerdikan dan karomahnya, ia berhasil meloloskan diri dan kembali ke Ndresmo untuk melanjutkan dakwah.
Keteguhan hati Sayyid Ali Asghor membuahkan hasil diplomatis yang krusial. Ia berhasil menginisiasi kesepakatan damai yang memaksa Belanda untuk tidak lagi mengusik ketenteraman Kampung Ndresmo. Sejak saat itulah, ia diangkat menjadi Imam Besar Ndresmo, menjadikan kawasan tersebut sebagai basis pertahanan akidah yang tak tertembus.
Benteng Pertahanan Para Santri
Menurut catatan sejarah yang dilansir dari laman resmi Pemkot Surabaya, Sidosermo bukan sekadar tempat mengaji. Letaknya yang terisolir di tepi sungai menjadikannya lokasi strategis untuk "menggembleng" para pejuang.
Belanda sering kali gagal menembus kawasan ini. Dikisahkan, para prajurit Belanda yang nekat berpatroli dan memeriksa Ndresmo sering kali berakhir celaka dengan kondisi tubuh berdarah-darah, sebuah fenomena yang membuat pihak kolonial gentar terhadap karisma para ulama di sana.
Semangat perlawanan ini terus menyala hingga masa Perang Kemerdekaan. Rumah dan kawasan yang dibina oleh Sayyid Ali Asghor bertransformasi menjadi markas strategi.
Ketika pertempuran 10 November meletus, Kampung Ndresmo menjadi titik kumpul para santri se-Jawa Timur untuk menyusun strategi melawan Sekutu. Gelar Kota Pahlawan yang disandang Surabaya tidak lepas dari peran para Kyai dan Santri Ndresmo yang mewarisi api perjuangan Sayyid Ali Asghor.
Warisan Cagar Budaya
Kini, Makam Sayyid Ali Asghor Basyaiban telah ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya. Kompleks makam ini direvitalisasi sebagai bentuk penghormatan atas jasa besarnya menjaga kota dari invasi kolonial sekaligus menjaga akidah umat.
Makam Sayyid Ali Asghor Basyaiban di Sidosermo Surabaya yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya Foto: Muhammad Faishal Haq/ detikjatim |
Hingga hari ini, kawasan Ndresmo tetap eksis sebagai pusat pendidikan agama Islam dengan puluhan pondok pesantren yang pengasuhnya masih memiliki ikatan darah dengan Sayyid Ali Akbar.
Setiap peringatan haul Sayyid Ali Asghor, ribuan peziarah memadati makam untuk memanjatkan Yasin dan Tahlil, menjadi bukti nyata bahwa upayanya di masa lalu telah membuahkan hasil yang tak lekang oleh waktu.
(ihc/irb)


