Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya kerap dipersepsikan sebagai destinasi ekowisata komersial. Padahal, kawasan ini memiliki mandat utama sebagai area konservasi. Di tengah meningkatnya kunjungan masyarakat, terutama saat libur akhir tahun, orientasi kunjungan masih didominasi aktivitas rekreasi.
Kepala UPT Kebun Raya Mangrove Surabaya, Dyan menjelaskan, kawasan tersebut awalnya merupakan lahan permukiman yang kemudian dialihfungsikan menjadi hutan kota pada masa kepemimpinan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
"Awalnya dulu lahan tambak yang tertanami mangrove alami dan lokasi timbunan sampah. Saat itu Bu Risma mau menjadikan konservasi sehingga dialihfungsikan ke hutan kota sebagai paru-paru Surabaya. Karena tanaman mangrove ini bagus dalam menyerap karbon dioksida untuk menghasilkan oksigen untuk lingkungan sekitar," ujar Dyan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seiring waktu, kawasan hutan kota itu berkembang sesuai karakter lahannya yang berada di wilayah pesisir Surabaya, dengan kondisi rawa dan air payau hasil pertemuan air laut dan air tawar. Dominasi vegetasi mangrove yang tumbuh dengan baik membuat kawasan tersebut kemudian bertransformasi menjadi Kebun Raya Mangrove Surabaya.
"Awalnya memang hutan kota. Tapi karena lokasi ini berpotensi lebih, khususnya dengan adanya mangrove yang tumbuh dengan baik di area ini, akhirnya dikembangkan menjadi kebun raya," jelasnya.
Pengembangan KRM Surabaya dimulai sejak 2016 dengan koleksi awal 59 jenis mangrove. Hingga kini, jumlah koleksi bertambah menjadi 74 jenis. Dalam proses pengelolaannya, tidak semua tanaman mampu bertahan hidup. Namun, setiap mangrove yang tumbuh maupun mati tetap tercatat dan dipantau secara berkala melalui sistem barcode.
Kebun Raya Mangrove Surabaya Foto: Chilyah Auliya |
Pada tahap awal, kawasan ini dapat diakses secara gratis. Pengunjung hanya diwajibkan membeli bibit mangrove sebagai bagian dari upaya penghijauan dan pencegahan kawasan menjadi gundul. Seiring meningkatnya kebutuhan pembangunan dan perawatan, kawasan tersebut resmi berstatus kebun raya dan mulai menerapkan tiket masuk sejak 2024.
Rusmadi, staf pengelola KRM Surabaya, menambahkan kebijakan tersebut telah melalui dasar hukum yang jelas.
"Dulu gratis, tapi harus beli bibit supaya berkembang. Karena pembangunan juga membutuhkan anggaran, akhirnya ada pemasukan PAD, penetapannya melalui Peraturan Daerah dan Peraturan Wali Kota," ujarnya.
Dalam operasionalnya, pengelolaan KRM Surabaya dilakukan oleh tim khusus, mulai dari tim pembibitan, koleksi, registrasi, hingga petugas perawatan fasilitas, vegetasi mangrove, serta habitat satwa.
Selain sebagai kawasan konservasi, KRM Surabaya juga kerap menjadi lokasi edukasi bagi pelajar untuk mengenal ekosistem mangrove, habitat pesisir, serta berbagai satwa seperti kepiting dan ikan sumpit yang hidup di dalamnya.
Di bawah naungan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, kawasan ini juga dimanfaatkan untuk pengembangan alternatif pangan. Salah satu jenis mangrove yang dimanfaatkan adalah Sonneratia caseolaris atau bogem, yang dikenal sebagai pidada merah.
"Bogem ini sarinya bisa jadi sirup, ampasnya bisa jadi sambal, selai hingga tepung untuk bahan dasar kue," terang Dyan.
Meski kini identik sebagai destinasi wisata alam, Dyan kembali menegaskan fungsi utama Kebun Raya Mangrove Surabaya tetap mencakup konservasi, edukasi, penelitian, dan jasa lingkungan. Aktivitas wisata disebut dijalankan secara sinergis dengan fungsi kebun raya lainnya.
"Tantangan kami adalah bagaimana mengembangkan KRM menjadi kawasan wisata plus-plus, yang tetap bisa mengedepankan konservasi serta fungsi kebun raya lainnya," tegasnya.
Penegasan serupa disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya, Antiek. Ia menyatakan Kebun Raya Mangrove Surabaya memiliki mandat khusus sebagai kawasan konservasi.
Kebun Raya Mangrove Surabaya Foto: Chilyah Auliya |
"Fokus utama KRM tetap pada konservasi, edukasi, dan jasa lingkungan. Peningkatan PAD bukan tujuan utama," kata Antiek dalam keterangan resminya, Rabu (24/12/2025).
Meski berorientasi konservasi, lonjakan kunjungan wisata tak terelakkan, terutama menjelang akhir tahun. Sejak masa liburan sekolah hingga Natal, jumlah pengunjung mengalami peningkatan signifikan dan biasanya berlanjut hingga perayaan Tahun Baru.
Dari sisi pengunjung, sebagian masih datang dengan tujuan rekreasi tanpa mengetahui mandat utama kawasan tersebut. Firda, salah satu pengunjung, mengaku awalnya mengira KRM Surabaya hanyalah tempat wisata biasa.
"Baru tahu kalau mandatnya konservasi. Kita ke sini mau healing liburan sekolah. Dari awal ngiranya wisata," ujarnya.
Ia menambahkan, kesan wisata juga muncul dari penarikan tiket dan konten media sosial.
"Di depan ada karcis. Di TikTok juga kesannya wisata banget," katanya.
Sementara itu, Fitria, pengunjung yang baru pertama kali datang, mengaku sempat kebingungan karena terdapat dua titik lokasi KRM di peta digital.
"Tadi agak nyasar karena di maps ada dua. Tapi setelah keliling, tempatnya bagus dan terawat. Sayangnya tadi lagi surut," ujarnya.
DKPP Kota Surabaya menekankan meski kunjungan wisata terus meningkat dan memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), seluruh aktivitas di Kebun Raya Mangrove Surabaya tetap mengacu pada prinsip kebun raya, standar konservasi, serta daya dukung kawasan. Dengan demikian, fungsi rekreasi diharapkan berjalan seiring tanpa mengorbankan mandat utama pelestarian ekosistem mangrove.
(ihc/hil)













































