Gua Maria Sendang Purwaningsih, Tapak Doa di Hutan Malang Selatan

Gua Maria Sendang Purwaningsih, Tapak Doa di Hutan Malang Selatan

Chilyah Auliya - detikJatim
Kamis, 25 Des 2025 17:15 WIB
Gua Maria Sendang Purwaningsih, Tapak Doa di Hutan Malang Selatan
Ilustrasi rosario Katolik. Foto: Freepik/wirestock
Malang -

Di balik rimbun hutan Malang Selatan, ditemukan Gua Maria Sendang Purwaningsih. Tempat ziarah yang letaknya tersembunyi di balik perkampungan Purworejo, Donomulyo, Kabupaten Malang, seolah mengajak siapapun untuk melangkah perlahan sembari menanggalkan berisiknya dunia sebelum memasuki kawasan suci.

Lebih dari sekadar destinasi religi, Gua Maria Sendang Purwaningsih tumbuh dari sejarah iman, gotong royong, dan keteguhan komunitas yang merawatnya lintas generasi. Keheningan alam, kesederhanaan bangunan, serta ritme doa yang terus hidup menjadikan gua ini tapak rohani yang bertahan hingga kini.

Rute Sunyi Menuju Gua Maria Sendang Purwaningsih

Untuk mencapai Gua Maria Sendang Purwaningsih, peziarah menempuh jalan desa sekitar 1 kilometer yang membelah rimbun pepohonan, tanah padas yang keras, serta susunan bebatuan alami.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perjalanan ini tidak sekadar menjadi akses menuju lokasi, melainkan koridor batin yang perlahan mengantar peziarah memasuki suasana hening. Memasuki kawasan ziarah, kesederhanaan langsung terasa. Tidak ada kemewahan yang dibuat-buat, hanya kesunyian yang padat makna.

Di dalam kompleks Gua Maria Sendang Purwaningsih berdiri sejumlah bangunan fungsional yang menyatu dengan alam, mulai dari papan semadi sebagai ruang doa pribadi, pendopo kecil untuk berteduh.

ADVERTISEMENT

Serta palerepan berupa aula sederhana yang kerap dimanfaatkan peziarah untuk beristirahat atau menginap secara berkelompok. Area hening juga disediakan bagi mereka yang ingin bermeditasi atau mengikuti kegiatan retret.

Dari Kota Malang, perjalanan dapat ditempuh dengan mengarahkan kendaraan menuju Kepanjen. Dari perempatan Kepanjen, ambil jalur barat ke arah Bendungan Karangkates atau Sengguruh.

Lalu, pengunjung bisa melanjutkan perjalanan melalui Pagak, Sumbermanjing Kulon, hingga Donomulyo. Sebelum tiba di Paroki Ratu Damai Purworejo, belok kanan menuju area sendang.

Sejarah Gua Maria Sendang Purwaningsih

Pondasi spiritual Sendang Purwaningsih berawal dari perjalanan seorang pemuda Desa Purworejo bernama Wagirin, yang kemudian dikenal sebagai Fransiskus Xaverius Doeto Oetomo.

Pada 1930-an, pasca mengenyam pendidikan di Landbouw School, ia kembali ke rumah membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari ilmu, yakni iman Katolik. Dari dirinya, enam saudara menyusul dibaptis. Keluarga kecil ini menjadi inti pertumbuhan komunitas Katolik Purworejo, yang kala itu masih sangat belia.

Energi gotong royong umat semakin menguat, hingga pada 1959 mereka membangun gua devosi pertama. Nama "Sendang Purwaningsih" dipilih sebagai lambang rahmat, sumber air kehidupan secara rohani maupun harfiah. Di sekitar gua memang terdapat sumber air alami yang dinilai sebagai penanda berkat bagi desa.

Perjalanan Sendang Purwaningsih penuh lika-liku. Pada 1970-an, jalur lama menuju gua rusak parah akibat longsor. Area itu menjadi sulit dijangkau, bahkan sempat nyaris terlupakan sejarah. Bertahun-tahun umat harus berdoa tanpa lokasi ziarah yang layak.

Perubahan besar terjadi ketika komunitas merayakan 25 tahun Paroki Purworejo pada 1985. Secercah cahaya kembali dengan hadirnya gua di lokasi baru, Bukit Trianggulasi.

Lereng sunyi tersebut pada waktu itu masih berupa hamparan terbuka tanpa barisan pepohonan. Menariknya, renovasi itu tidak hanya dikerjakan umat Katolik, tetapi juga dukungan tetangga-tetangga muslim yang ikut bergotong royong.

Pada 25 Mei 1986, akhirnya gua ini menyandang nama Gua Maria Sendang Purwaningsih. Empat tahun terlewati, sumur suci diberkati, menjadi simbol penting dalam kompleks ziarah yang berdiri hingga saat ini.

Agenda Rohani di Gua Maria Sendang Purwaningsih

Agenda rohani di Gua Maria Sendang Purwaningsih terus berjalan dan terjaga hingga kini. Di tengah suasana hening kawasan ziarah ini, berbagai kegiatan doa rutin tetap dilaksanakan dan menjadi penopang kehidupan spiritual umat yang datang dari beragam daerah.

Salah satu agenda yang paling dikenal adalah Misa Kamis Kliwon, yang digelar setiap Kamis Kliwon tepat pukul 00.00 WIB. Perayaan ini kerap dihadiri peziarah dari berbagai wilayah yang datang dengan intensi doa pribadi, menciptakan suasana misa yang khusyuk dan penuh permenungan.

Selain itu, Misa Kerahiman rutin dilaksanakan setiap minggu ketiga dalam sebulan. Perayaan ini menjadi ruang bagi umat untuk memohon pengampunan sekaligus pembaruan batin, sejalan dengan semangat devosi Kerahiman Ilahi.

juga dimanfaatkan sebagai lokasi retret dan pembinaan iman Orang Muda Katolik (OMK). Keheningan alam serta fasilitas yang tersedia membuat kawasan ini dipilih untuk kegiatan rohani anak muda, termasuk kegiatan berkemah yang dirancang untuk memperdalam refleksi iman dan kebersamaan.

Akomodasi dan kontak bisa detikers temukan lebih lanjut di laman resmi. Semoga tempat-tempat seperti Gua Maria Sendang Purwaningsih semakin lestari dan banyak wujudnya di bumi.




(auh/irb)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads