Saat menonton pertandingan sepakbola, penonton kerap takjub melihat para berduel fisik di lapangan. Rahasia ketahanan fisik prima ini bukan sekadar buah dari latihan keras semata, melainkan pemahaman mendalam terkait batas kemampuan tubuh yang menjadi kunci utama di balik daya tahan tinggi tersebut.
Dalam dunia Sports Medicine modern, prinsip ini amat penting untuk mengukur kesiapan fisik sekaligus mencegah terjadinya cedera.
Dokter Spesialis Ortopedi Mayapada Hospital Surabaya, dr. Reyner Valiant Tumbelaka, M.Ked.Klin., Sp.OT, menyebut atlet profesional rutin menjalani Pre-Competition Medical Assessment (PCMA). Penilaian ini mencakup delapan tahapan penting, mulai dari evaluasi laboratorium, pemeriksaan jantung, hingga Body Composition Analysis dan VO2 Max.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemeriksaan ini bertujuan memetakan kondisi fisik, mencegah cedera, dan memastikan tubuh siap menghadapi beban latihan maupun pertandingan," terang dr. Reyner pada keterangan tertulis, Senin (10/9/2026).
Rangkaian pemeriksaan komprehensif tersebut juga diterapkan secara disiplin oleh Mayapada Hospital Surabaya (MHSB) kepada skuad Persebaya Surabaya. Rumah sakit ini dipercaya bertindak sebagai Official Medical Partner melalui layanan Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC). Pendampingan dilakukan menyeluruh dari fase skrining kesehatan, penanganan, rehabilitasi, hingga program pengembalian performa atlet.
Meskipun PCMA sangat lekat dengan atlet profesional, masyarakat pegiat olahraga sepakbola atau futsal juga perlu mengenali kapasitas fisiknya. Mereka dapat melakukan uji kelayakan tubuh secara mandiri di rumah sebelum memulai aktivitas fisik.
"Masyarakat dapat melakukan skrining mandiri menggunakan Physical Activity Readiness Questionnaire (PAR-Q+) yang terdiri dari 7 pertanyaan, terkait riwayat penyakit jantung atau hipertensi, nyeri dada saat beraktivitas, riwayat pusing atau kehilangan kesadaran, penyakit kronis, penggunaan obat-obatan tertentu, gangguan pada tulang, sendi, otot, ligamen, atau tendon, serta anjuran dokter untuk berolahraga di bawah supervisi medis. Jika terdapat salah satu kondisi tersebut, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, agar jenis dan intensitas latihan dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh," ujar dr. Reyner.
Untuk memastikan intensitas latihan tetap terkendali, dr. Reyner menyarankan perhitungan Denyut Nadi Maksimal (DNM) menggunakan patokan rumus 220 dikurangi usia.
"Misalnya, pada usia 40 tahun, DNM sebesar 180 denyut per menit. Intensitas ringan berada pada 57-63% DNM (zona 1-2), sedang 64-76% DNM (zona 3), dan berat 77-99% DNM (zona 4-5)," jelas dr. Reyner.
Selain memantau denyut nadi, intensitas latihan fisik juga dapat dinilai secara praktis melalui penerapan Talk Test atau tes bicara.
"Apabila masih dapat berbicara dengan lancar saat berolahraga, berarti intensitasnya masih ringan. Jika hanya mampu mengucapkan beberapa kata, berarti sudah memasuki intensitas sedang. Namun, jika sampai terengah-engah dan sulit berbicara, berarti intensitasnya sudah berat," tambah dr. Reyner.
Di sisi lain, kapasitas kebugaran seseorang turut diukur melalui tes VO2 Max demi melihat kemampuan jantung memasok oksigen ke otot. Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Mayapada Hospital Jakarta Selatan dr. Taufan Favian Reyhan, Sp.KO, menjelaskan proses tes tersebut.
"VO2 Max umumnya diukur menggunakan treadmill dengan intensitas yang meningkat secara bertahap. Selama tes, peserta mengenakan masker khusus dan alat pemantau detak jantung untuk mengukur kemampuan tubuh menggunakan oksigen. Hasilnya dinyatakan dalam satuan mL/kg/menit," urai dr. Taufan.
Menurut dr. Taufan, meskipun parameter ini sering dijadikan acuan tingkat kebugaran, intepretasinya tetap harus disesuaikan dengan profil kesehatan masing-masing individu karena setiap orang memiliki kapasitas fisik yang unik sehin
"Semakin tinggi nilai VO2 Max, semakin baik tingkat kebugaran seseorang. Namun, tidak ada nilai yang ideal karena setiap individu memiliki kondisi fisik yang berbeda," imbuhnya.
Pendekatan medis yang menyeluruh menjadi kunci mutlak dalam upaya pencegahan cedera, peningkatan performa, dan pemulihan tubuh. Layanan olahraga dan kebugaran komprehensif SITPEC di Mayapada Hospital didukung penuh oleh tim dokter multidisiplin. Perawatan ini turut terintegrasi dengan Orthopedic Center untuk menunjang prosedur medis tingkat lanjut.
Penanganan mutakhir yang tersedia mencakup Total Knee Replacement (TKR) berteknologi VELYS™ Robotic-Assisted Solution. Pemulihan pasien juga dijamin berlangsung lebih cepat berkat penerapan protokol Enhanced Recovery After Surgery (ERAS®).
Masyarakat bisa mengakses informasi lebih lanjut mengenai beragam layanan Mayapada Hospital melalui Call Center 150770 atau WhatsApp 0817-17-150770. Saluran Emergency Call 150990 juga bersiaga penuh untuk merespons kasus kegawatdaruratan medis. Pasien juga dipermudah dengan aplikasi MyCare yang dilengkapi fitur Personal Health guna memantau detak jantung, pembakaran kalori, hingga Body Mass Index (BMI).
(prf/ega)
